Dominan Otak Kanan (2)

Saya mengalah setelah benar-benar yakin ia lebih dominan otak kiri dibanding otak kanan. “Ayah tak bisa matematik makanya mempengaruhi saya agar belajar ilmu sosial humaniora. Sejarah, Sastra ilmu tak berguna, ngapain capek-capek mempelajarinya” ia meledek.
“Jangan sembarangan anak muda, hati-hati bukan hanya untuk di jalan raya tapi juga untuk bicara, ayah lulusan Fakultas Teknik dan SMA jurusan Fisika, kurang eksak apalagi dari latarbelakang pendidikan” saya membalas.
“Buktinya Ayah tak pernah membantu saya belajar matematik” ia berkilah.
“Itu soal lain, nanti kita buktikan, bukan hanya matematika tapi kalkulus dan Fisika, tapi tidak untuk Kimia” tantang saya.

Beberapa lama kemudian kami berenang. Kebiasannya di kolam renang ; ia naik ke pundak, bergelayut di bahu, atau menjadikan paha saya sebagai injakan untuk meloncat. “Kok kamu enteng kalau di kolam, biasanya mengendong kamu ke masjid ayah sudah ngos-ngosan?” saya menstimulusnya untuk berfikir.
“Karena air dorong kita ke atas” jawabnya. “Kok air dorong kita ke atas” saya mencecar. “Karena air lebih berat dari kita. Saya mengambil pecahan keramik sebesar ibu jari lalu menjatuhkan ke kolam.
“Ini lebih ringan daripada air tapi kok tenggelam?”
Ia kebingungan lalu menjawab “karena batu lebih berat”. “Ah masa’ sih berat kitalah dari pada batu sebesar jempol itu”. ia tambah kebingungan.

Kami berhenti main air. Saya menjelaskan tentang perbedaan berat dengan berat (massa) jenis.
“Kalau berat ya, seperti yang tertera di jarum timbangan tapi kalau berat jenis, sebagian besar ilmuwan menyebutnya massa jenis adalah berat hasil timbangan dibagi volume tubuhmu, kamu bingung cara mencari volume tubuh bukan, kita permudah, ambil contoh batu bata. Kamu tahu mencari volume batu bata?”, saya menguji.
“Tahulah cari luas alas ; panjang kali lebar setelah itu kali tinggi”, ia menjelaskan.
“Tepat anak muda” puji saya.
“Lalu berat batu bata dibagi dengan volume maka kita akan mendapatkan berat jenisnya.

“Nah, berat jenis air biasanya berkisar diantara 995-1.000 kg/m3, untuk penyederhanaan artinya setiap 1 meter kubik bak diisi penuh dengan air maka berat air yang terdapat di 1.000 kg”, lebih sederhana lagi setiap satu liter air beratnya 1 kg” terang saya.
“Masih bingung?, bak di kamar mandi kita 60 cm lebarnya juga 60 cm panjang sedangkan tinggin 80 cm, maka volemenya jika diisi penuh adalah 288.000 cm kubik setara dengan 288 liter.

“Hubungannya dengan tenggelam atau tidak benda dalam air apa?”.
“Pertanyaan yang bagus?, jika berat jenis suatu benda lebih besar dari berat jenis air maka benda tersebut akan tenggelam seperti pecahan keramik tapi, tapi sebaliknya jika berat jenis benda tersebut lebih kecil dari berat jenis air maka benda tersebut akan mengapung di permukaan, contohnya kapal yang besar dan berat, namun berat jenisnya lebih kecil dari berat jenis air, itulah sebabnya tetap mengapung”.
“Oh, begitu, jadi ada berat ada pula berat jenis. Jika berat hanya hasil timbangan sedangkan berat jenis hasil timbangan dibagi volume” ia mulai paham.
“Percis” saya memujinya sambil mengacungkan jempol.

“Kalau hubungannya dengan kita ringan di air apa?” Ia memasang wajah serius. “Begini cah bagus, menurut Archimedes : setiap benda yang dicelupkan ke dalam zat cair maka benda tersebut akan berkurang beratnya seberat zat cair yang dipindahkannya
“Kok saya tak paham” balasnya.
“Ya tak apa, tak jelaskan lagi ; anggaplah kolam ini diisi penuh sebelum kamu masuk, saat kamu meloncat atau turun pelan-pelan melalui bibir kolam pasti ada air yang meluap keluar. Jika air yang meluap keluar kita tampung lalu ditimbang maka beratmu akan berkurang seberat air yang meluap keluar. Misalnya luapan air tadi 4 kg jadi beratmu dalam air sekarang 23 kg (berat badan dia) – 4 kg= 19 kg” Dia menganguk-anguk tanda paham.

Pada suatu malam sekitar sebulan yang lalu saya mengajukan pertanyaan seperti ini kepadanya ” misalkan kita sholat di masjid dengan seorang imam dan 5 jamaah, selesai sholat mereka saling bersalaman satu sama lain, berapakah jumlah salaman yang terjadi”.
Terlihat ia mengitung-hitung, namun entah seperti apa langkahnya. Saya menyarankan ia mengambil ballpoint dan kertas dan membuat sketsa 6 orang. Saran saya diikutinya ; ia mengambar 6 orang secara seri. Orang pertama (paling kiri) melakukan 5 kali salaman, selanjutnya orang kedua ; 4 kali salaman karena untuk salaman dengan orang pertama sudah dihitung pada jumlah salaman orang pertama, selanjutnya orang ketiga; 3 kali salaman, orang keempat ; 2 kali salaman, dan orang kelima ; sekali salaman dan orang terakhir (keenam) tidak ada karena kelima kali salamannya sudah dimasukan ke dalam hitungan orang-orang yang telah menyalaminya. Lalu ia menjumlahkan seluruh salaman dengan mendapatkan hasil 15 kali salaman. Saya mengapresiasi sehingga membuat ia bangga.
“Nah itu dalam matematika namanya faktorial” terang saya.
“Cara sederhananya begini kalau orangnya 6 mulai dari 5+4+3+2+1, jika jumlah orang 10, mulai dari 9+8+7+6+5+4+3+2+1, begitu terus meski jumlah orangnya 100 atau 1.000”.
“Oh, begitu, tak perlu gambar dong” ia takjub.
“Ia memang begitu, tapi caramu tadi sudah ok banget”

Dalam suatu perjalanan ke Bukittinggi, ketika sampai di Koto Baru, Padang Panjang. Di sisi kanan terlihat Gunug Merapi yang anggun sedangkan di sisi kiri Gunung Singgalang yang dingin. “Lihat, gunung itu, dengan matematika kita tak perlu capek-capek menaikinya jika hanya sekadar merentang tali dalam upaya mengukur tinggi gunung, kecuali untuk keperluan lain” ujar saya.
“Kok bisa, caranya bagaimana?” wajahnya mengisyaratkan rasa ingin tahu.
“Itulah salah satu guna kita mempelajari trigonometri, nanti kamu akan mendapatkan di SMU. Dalam trigonometri ada Sin(us), Cos(inus) dan Tangen. Tentang sudut kamu sudah belajar kan?”, saya menegaskan.
“Udah tapi baru belajar bahwa sudut paling besar 360° ada sudut lancip 0-90° dan sudut tumpul >90°”.

“Kita cukup tahu jarak kita dengan kaki gunung lalu perkirakan sudut elevasi yang terbentuk dari tempat kita berdiri dengan puncak gunung, misalkan sudut elevasinya 60° sedangkan jarak kita ke kaki gunung 3.000 m, maka tinggi gunung = 3.000 m x Tg 60° = 3.000m x √3 = 5.176 m, mudahkan, kita tak perlu capek-capek” saya menerangkan.
“Iya, dengan sains hal sulit jadi mudah, hidup jadi lebih mudah” katanya bangga.
“Benar, tapi karena art (seni) hidup jadi indah, dua-duanya mesti seimbang” timpal saya.

“Nah dengan cara yang sama, menggunakam trigonometri kita juga bisa mengukur tinggi ; menara masjid, puncak Monas, pohon, sutet dan lainnya”.

Beberapa minggu yang lalu, bundanya berpesan kepada saya agar mengajarinya matematika agar memperlancar hafalan perkalian. “Baik” saya mengiyakan. Saya tahu dia sudah hafal perkalian untuk bilangan 1-10. Bagi saya itu sudah cukup tak perlu hafal sampai belasan atau puluhan. Saya mengambil secarik kertas, lalu menulis sebuah deretan angka-angka untuk
baris pertama ; 2, 4, 6, 8, 10 […],
baris kedua 2, 4, 8, 16, 32, […],
selanjutnya 3, 6, 4, 8, 5,10, 6 […]
terus 2, 4, 3, 9, 4, 16, 5[…],
10, 5, 8, 4, 6, 3, 2, […] terus dengan kerumitan yang semakin meningkat setiap barisnya. “Ayah buat soal ape tu” ia bertanya penasaran. Saya menaruh tangan di bibir memberi isyarat agar di diam. Selesai hingga 12 deret. Sebelum menyerahkan kepadanya untuk mengisi tanda […] saya menjelaskan bahwa ini namanya deret dalam matematika ini disebut aritmatika. Aritmatika gunanya banyak salah satunya dalam memprediksi pertumbuhan dan penyusutan. Lalu menyerahkan kertas dan balpoint ke tangannya.

Awal-awal terlihat lancar, ia dengan cepat menemukan formula bilangan, seiring bertambah kesulitan soal ia semakin sering terlihat berfikir. “Ingat pola tidak selalu sama, jangan terjebak dengan pakem awal-awal bilangan, karena selalu dinamis”. Beberapa soal dibaris-baris bawah terpaksa saya yang menuntun. Terlihat ia sangat senang dengan pelajaran aritmatika yang saya berikan. Ia minta “tambuah”. Saya mengambil kertas lalu menulis berberapa baris soal aritmatika, makin lama makin sulit. Terus-terusan. Hingga saya bilang cukup.

“Meskipun kamu belum belajar Aritmatika di sekolah, sekarang kamu sudah bisa aritmatika dasar. Terus apa gunanya kita mempelajari aritmatika, kapan digunakan” saya membuat sebuah pancingan.
“Tak tahulah saye kan masih keci’” ia berkilah. “Simak dan pahami ya!, sederhananya begini, kita membuat dua buat reban ayam (Kandang Ayam) tahun lalu kita isi dengan lima 8 ekor pejantan dan 32 ayam betina sebagai induk. Berarti total ayam kita ada 40 ekor, setelah setahun ayam kita berkembang menjadi 100 ekor, tahun kedua menjadi 250 ekor, tahun ketiga menjadi 625 ekor, tahun ke empat 1.562 tahun kelima 3.906 ekor, menurutmu berapa jumlah ayam kita di tahun ke sepuluh berdasarkan pola pertumbuhan seperti ini?”

Ia menulis pola aritmatika dari pertumbuhan jumlah ayam ; 40, 100, 250, 625, 1.562, 3.906, lalu memencet kalkulator, menulis angka 9.765, memencet kalkulator lagi dan menulis 24.412. “Caramu sudah benar, namun belum effesien. Bayangkan kalau pertanyaannya ;berapa jumlah ayam tahun ke 25? Atau 50 tahun kemudian, ribet kan?”, “agar mudah bagaimana?”tanya dia penasaran. “Kita tak perlu cari jumlah ayam tahun ke-6,7,8 dan 9, cukup cari sesuai pertanyaan. Begini, formulanya sudah kamu temukan yaitu 2,5 kali untuk setiap berikutnya. Maka kita konversi ke dalam bentuk persamaan Y(n) = 2,5 x n . Y=jumlah Ayam, sedangkan n= tahun ke misalnya ke-10, 25, atau tahun ke-100 sekalipun. Kalau mau tahun ke seribu.

Beberapa bulan lalu saya memperkenalkan Konstanta Kaprekar ; 6174 kepadanya. Ia sangat excited dan menuduh 6174 angka mistis.
https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=10206878045985273&id=1700900820

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close