Obituriun

Operasi satu setengah tahun silam akibat mati total dan disfungsi speaker sukses. Ia kembali berfungsi seperti sediakala dengan speaker yang memang sedikit lebih pelan dari semula. Layar yang retak memang tak bisa diperbaiki atau diganti. Awalnya saya memang tidak nyaman dengan layar yang retak, namun akhirnya terbiasa. Sedangkan soal speaker bukan masalah, karena saya memang jarang membuka konten yang menggunakan audio seperti youtube dan lainnya, Alwi yang sering kesal karena kesulitan mendengar suara setiap kali buka youtube. Saya acuh. Tak peduli.

Sejak dua bulan belakangan ponsel ini sudah mulai ogah-ogahan mengikuti intruksi empunya. Berbagai penyakit menggerogotinya. Hingga sekitar dua bulan lalu layar sentuh mulai bermasalah. Sering ngaco. Apalagi lock screen dengan dengan sandi berupa pola garis. Saya mesti coba berulang-ulang. Ketik satu huruf atau karakter yang tampil dilayar 2-4. Kadang saat mengetik tidak lansung muncul di layar, butuh butuh jeda baru hasilnya tampil. Bahkan sampai mengetik satu kalimat pendek hasilnya baru muncul. Untung saya tipikal orang yang sabar dan telaten mengedit tulisan sebelum disebarkan. Anggap saja ini sebuah tirakat dalam melatih kesabaran saya bergumam setiap kali rasa kesal tiba.

Ponsel yang telah melewati sekali coblosan pemilu ini meski belum genap lima tahun seharusnya memang sudah dimuseumkan. Sebagai karyawan paruh-waktu Tn Mark dan WordPress kerjanya juga lumayan berat. Untung sudah layar sentuh jika tidak boleh jadi setiap catur wulan ganti keypad.

Bulan lalu battrey yang memang sudah lemah benar-benar drop. Bayangkan indikator daya masih 60% namun saat berbunyi notifikasi whatsapp ponsel lansung padam karena kehabisan daya. Apalagi terima telpon, ponsel meski terhubung dengan charger. Repot bukan?

Kejadian lebih dari sebulan lalu di RS. M Jamil. Sebelum order Go Jek dengan meminjam charger salah seorang penunggu pasien saya telah melakukan pengisian daya hingga 80%. Sambil menuju lobby pada dini hari yang dingin mengigit ke tulang saya order Go Jek. Celaka, saat driver Go Jek menelpon untuk menanyakan keberadaan ponsel ini lansung padam. Saya kelimpungan cari-pinjaman charger. Saya menghampiri tiga security yang sedang terkantuk-kantuk, namun nihil. Saya berlari menuju petugas Secure Parking di pintu jaga. Beruntung pemuda 20- tahunan yang baik hati meminjamkan charger dan menyingkir keluar dari pos jaga yang sempit agar saya bisa masuk untuk menghubungi Driver Go Jek sambil melakukan pengisian daya. Beruntung sang driver—seorang Mahasiswa yang mencari biaya kuliah dengan menjadi Mitra Nadiem—masih berada di lingkungan Rumah Sakit bersedia mengantarkan saya ke rumah. Saya sudah membayangkan jalan kaki sepanjang 1,5 km pada tengah malam yang lembab dan dingin mengigit selepas hujan. Tapi sebagai orang yang santai dan tidak banyak kerjaan saya justeru menikmati hal-hal yang merepotkan begini.

Isteri dengan berbagai alasan menyinyiri saya agar beli ponsel baru. Nanti kalau sedang nelpon hal penting tiba-tiba hp mati bagaimana? Nanti orang bisa salah sangko lho ; sedang menelpon tiba-tiba terputus akibat Hp mati karena low bad orang mengira telpon diputus karena tak senang dengan topik pembicaraan. Dan berbagai alasan lainnya. Namun saya acuhkan. Selagi masih bisa digunakan ponsel ini tak akan saya ganti. SBY dan Jokowi bisa dua periode, begitu juga ponsel ini mesti melewati dua kali coblosan baru akan saya ganti. Begitulah alasan ngeyel saya tak karuan. Hingga ia sampai pada titik jenuh dan akhirnya pasrah serta tak pernah lagi meminta saya mengganti ponsel. Terserah balasnya setiap kali saya menceritakan penyakit yang menggerogoti ponsel ini.

Saya tengsin juga kalau akhirnya mesti takluk dan mengingkari janji yang terlanjur diikrarkan ; Dua kali coblosan pemilu Indonesia (10 tahun) atau setidaknya pemilu Amerika (8 tahun) bukanlah waktu yang singkat. Karena alasan itulah dua minggu lalu saya mampir ke sebuah counter ponsel untuk menggati battrey dan cover bagian belakang yang penampakannya mengundang empati. Salah satu ikhiar agar bertahan hingga dua kali coblosan.

Pergantian battrey hanya sedikit menolong. Belum sembuh penyakit-penyakit sebelumnya datang lagi penyakit baru ; signal internet yang selama ini memang lemah sejak tiga hari mati suri. Seakan-akan begitu, jika tidak ingin disebut sungguhan. Karena pada pada tampilan layar masih muncul indikator signal muncul E bukan H, 3G atau 4G (Yang terakhir mustahil karena ponsel ini belum support 4G).

Dengan segenap kemampuan saya yang memang minimalis sekali dalam hal menguatak-atik perangkat elektronik. Saya hanya mengutak-atik pengaturan, jelas tidak membawa hasil sedikitpun.

“Lha Ayah, Hp-nya malah down grade, orang-orang sudah 4G dan sebentar lagi 5G, Hp-nya malah turun dari 3G menjadi 2G” ledek Alwi anak saya ketika menyaksikan saya mengubah pengaturan jaringan dari 2/3G menjadi 3G signal sim card mati total (termasuk jaringan untuk telpon) yang sebelumnya hanya mati jaringan internet saja.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close