Kemunculan Kerajaan-Kerajaan Baru Kelanjutan Wacana Kejayaan Nusantara Pra Islam

Pandangan umum menyebut bahwa Islam masuk Nusantara (Indonesia) pada abad ke-13. Teori ini berdasarkan pendapat seorang Indolog yang namanya sangat masyur yaitu Snouck Hurgranje. Ia bekerja untuk kepentingan kolonialisasi di Hindia Belanda. Seorang sarjana yang memahami seluk-beluk Nusantara secara mendalam. Seorang orientalis yang mempelajari tidak hanya kebudayaan Nusantara namun juga Islam-agama yang dianut di Nusantara.

Sebenarnya teori ini sudah banyak yang membantah ; Islam sudah hadir di Nusantara jauh sebelum abad ke-13. Menurut Hamka, Islam masuk ke Indonesia pada masa khalifah Ummayah ke-2 Yazid bin Mu’awiyah sekitat tahun 51 H. Namun belum menyebar secara masif. Penganutnya masih seputar orang-orang Arab yang berdagang dan bermukim di Nusantara.

Barangkali baru pada abad ke-13 Islam berkembang pesat di Nusantara. Bersamaan dengan melemahnya kekuasaan Majapahit. Tak lama setelah meluasnya Islam di Nusantara datanglah bangsa Eropa ke Nusantara pada awalnya untuk menguasai jalur perdagangan rempah-rempah namun belakangan mengkolonialisasi Nusantara.

Kedatangan bangsa Eropa di Nusantara mengakibatkan proses Islamisasi Nusantara semakin cepat, karena semangat anti penjajahan dalam ajaran Islam. Masyarakat yang masih ragu-ragu menerima Islam akhirnya berbondong-bondong masuk Islam, selanjutnya melakukan perlawanan terhadap bangsa Eropa. Di bawah pimpinan Pati Unus dari Demak, kesultanan-kesultanan Islam yang membentang dari Aceh di ujung barat Nusantara hingga Gowa ujung timur membentuk aliansi untuk membebaskan Kesultanan Malaka dari cengkraman Portugis. Meskipun upayanya gagal, namun tercatat dalam sejarah dengan samangat Islam mereka telah melakukan perlawanan terhadap kolonialisasi. Islam mengganjal upaya kolonialisasi.

Para Indolog (orientalis) yang bekerja untuk kepentingan kolonial di Indonesia berkesimpulan bahwa upaya penjajahan akan selalu terhadang oleh Islam (yang murni), maka dari itu dalam rangka melemahkan kekuatan Islam (murni) dan melancarkan upaya kolonialisasi diperlu diubah cara pandang pemeluknya terhadap Islam. Tidak perlu pula mengkonversi agama (Islam) menjadi kristiani seperti yang dianur penjajah.

Para orientalis itu membangun narasi bahwa penerimaan Nusantara (khususnya Jawa) terhadap Islam merupakan kesalahan sejarah, karena budaya Islam yang lahir di jazirah Arab tidak cocok dengan Jawa yang agraris. Tak perlu disesali kesalahan sejarah ini. Selalu ada cara untuk memperbaikinya yaitu sinkretisasi ajaran Islam dengan Hinduisme-Budha.

Dalam rangka proyek peng-Nusantara-an Islam ini maka diagung-agungkanlah  Majapahit. Didongengkan bahwa dulu nenek moyang kita adalah bangsa yang besar, kekuasaannya melebihi Indonesia saat ini, bahkan hingga Campa dan Maladewa. Klaim ini belakangan sudah banyak yang membantah karena tidak ditemukan bukti arkeologis namun hanya sebatas cerita lisan. Kejayaan Nusantara (Majapahit) pada masa lalu  tercapai bukan karena Islam tapi Hinduisme. Oleh karena itu kunci dari kemajuan Jawa adalah dengan meneruskan keagungan Majapahit dan menyerap modernisasi (teknologi) barat.

Pada pertengan 1800 pemerintah kolonial menerapkan Tanam Paksa. Pemerintah kolonial menugaskan para priyayi untuk mengawasi agar program ini berjalan sesuai rencana. Kompensasinya para priyayi diberikan kesejahteraan dan kemewaham seperti yang dinikmati oleh Wong Londo. Meskipun masih penganut Islam namun mereka sudah tercabut dari ajaran Islam (murni). Para Priyayi ini muncul dengan spritualitas Jawanisme. Islam tinggal cangkangnya saja. Oleh Muhammad Natsir mereka diledek dengan sebutan Majapahitisme.

Kolonial telah hengkang sejak 74 tahun silam, namun apa yang didengung-dengungkannya pada massa lalu–Nusantara Pra Islam –masih terdengar nyaring bahkan makin kencang pasca reformasi. Pada masa lalu, pada 1920 an, ketika narasi “Nusantara pra Islam” versi Indolog kolonial sudah mulai terlembagakan, saat terjadi krisis sosial politik akan banyak bermunculan aliran kebatinan baru. Mungkin karena sekarang sudah diformalkan, bikin aliran kebatinan baru sudah tidak keren lagi, makanya mereka buat kerajaan baru. Tema tetap tidak berubah, mimpi kembalinya kejayaan lama Nusantara Pra Islam. Kalau di Jawa bagian tengah hingga timur Majapahitisme, kalau di Jawa Barat, Pajajaranisme atau Siliwangisme. Itulah sebabnya kerajaan yang baru tumbuh itu tidak ada yang mengusung kejayaan Kesultanan Demak. Lha wong, narasi yang dibangun dulu oleh Indolog itu memang untuk menenggelamkan kejayaan Kesultanan Demak (dan kesultanan Islam lainnya).

Barangkali itu pulalah sebabnya Kerajaan-Kerajaan baru itu hanya muncul di Jawa. Mustahil akan muncul kerajaan baru di Aceh,Deli, Langkat, Melayu, Minagkabau (Sumatera), Bajar (Borneo), Gowa, Makassar (Sulawesi), Ternate, Tidore, karena mengusung semangat Islam.

****

Al Albana, Andalas, 27 Jumadil Awal 1441

Kategori Historia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close