Kebaya = Abaya

Nëtijën yang selalu benar dari Aceh hingga Wuhan belok lagi ke Nagara Rimba Nusantara di Penajem Paser calon Ibu Kota Endhonesia barangkali jika tidak semuanya sebagian besar pernah berkunjung ke candi. Terus lihat apa disana? Sayang dong kalau cuma sekadar selfie, wefie atau “Check in” lalu dibagikan di media sosial.

Sekali-kali perhatikan warisan nenek moyang kita secara detail lalu jadikan bahan kontemplasi. Perhatikan relif yang ada di candi, karena itu mengantarkan kita untuk melonggok kehidupan mereka pada masa silam. Misalnya mode berpakaian mereka yang dipahatkan di candi merupakan repsesentasi pakaian mereka pada masa itu.

Dari sedikit candi yang pernah saya kunjungi, berdasarkan relief-relief yang menampilkan nenek moyang kita, baik laki-laki maupun perempuan, mereka hanya menggunakan penutup tubuh bagian bawah; dari puser hingga lutut tanpa penutup tubuh bagian atas. Barangkali bangsawan ditambah aksesoris pada bagian kepala. Namun tetap tidak menggunakan baju bahkan sekadar menutup buah dada pun tidak (bagi perempuan). Jadi semua telanjang dada. Candi-candi ini merupakan warisan budaya Nusantara Pra Islam. Konon menurut sebagian orang telah dibrainwash cara berfikirnya oleh Indolog (orientalis yang bekerja untuk kepentingan kolonialisasi di Hindia Belanda) ; massa inilah puncai kejayaan Nusantara.

Ketika Islam masuk etika dan gaya berpakaian diubah sesuai syariat Islam. Tentu saja tidak lansung secara totalitas, namun pelan-pelan. Awalnya hanya bagi bangsawan di kotapraja, mereka mulai menggunakan penutup tubuh bagian atas, perempuan mulai menutupi buah dadanya, namun di desa-desa dan pedalaman rakyat jelata (perempuan) meskipun telah menerima Islam namun masih dibiarkan berkeliaran tanpa penutup dada. Ketika hendak memasuki kotapraja dalam rangka menghadiri kenduri istana sesampai di gerbang kota mereka (perempuan tanpa penutup dada) tidak diizinkan memasuki kota, diminta untuk menutup dada terlebih dahulu. Ada kemben untuk menutup buah dada perempuan dan ada pula kebaya.

Kebaya yang selama ini diakui sebagai budaya nusantara ternyata bukan. “Kebaya” berasal dari “Abaya” dalam Bahasa Arab, merupakan pakaian khas Arab, umumnya berwarna hitam, longgar dan panjang dikenakan untuk ke luar rumah.

Nah, karena dakwah para wali itu pelan-pelan, mustahil bisa dipaksakan secara total seperti yang digunakan oleh perempuan Arab, tentunya juga akan gerah bangat jika harus berwarna hitam di negeri tropis, kebaya dimodifikasi sesuai dengan selera Nusantara, berlengan panjang, tipis dan pada bagian payudara dbuat sedikit lebih tebal dan tertutup. Intinya cukup payudara dulu saja yang tertutup serta nyaman dipakai karena kain yang tipis dapat ditebus angin sepoi-sepoi. Jadi kebaya merupakan serapan dari bahasa Arab, sedangkan bentuknya telah mengalami modifikasi. Jadi mempertentangkan Jilbab dan Kebaya merupakan pandangan yang ahistoris. Mereka yang menerima kebaya dan menolak jilbab bisa lah disebut telah menerapkan standar ganda. Lha karena keduanya berasal (secara bahasa) dari Arab.

Jadi mereka yang terosesi oleh budaya Nusantara Aseli, mestinya malu pakai kebaya, seperti mereka enggan menerima jilbab karena masih berbau Arab. Nah kalau berpakaian tanpa penutup dada, ini baru aseli Nusantara.

Dalam hal ini tentu kita salut kepada para penyebar Islam awal di Nusantara. Apakah itu wali songo, habaib, sayyid atau siapalah mereka. Jelas mereka luar biasa dalam berdakwah. Mereka merubah tradisi dengan memberikan alternatif tradisi yang dapat merubah etika dan estetika, tanpa mengutuk tatanan lama. Inilah fase sejarah yang telah dilewati oleh Islam di Nusantara.

Pandangan kontra jilbab, sebagian besar berasal dari mereka yang terosesi oleh ketinggian budaya nusantara–yang konon dalam pandangan mereka budaya nusantara merupakan peradaban tertinggi di bumi ini bahkan di Galaxi Bimasakti. Sebagian lagi (mereka yang kontra jilbab) disebabkan oleh sikap ekslusif dan hobi mencela dari pengguna jilbab itu sendiri. Kira-kira semacam ada kesombongan yang lahir dari selembar kain.

Jadi tak perlu grasak-grusuk apalagi hingga mengutuk dalam menghadapi mereka yang kontra jilbab, kalem saja, sambil memperbaiki diri. Tunjukan dengan sikap bahwa jilbab membawa rahmat bagi umat, karena sikap (bukan ucapan apalagi perang link) merupakan magnet yang tidak bisa dihalangi oleh siapa pun. Sulit mana? (Para penyeru Islam awal Nusantara) meminta orang pakai baju dibanding (kita sekarang) mengajak kaum muslimin berjilbab?

****

Al Albana, Andalas 03 Jumadil Akhir 1441 H.

Kategori Telaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close