Gelanggang Para Datuak

Tidak seperti Minang Darek (Dataran Tinggi), saya yang lahir dan tumbuh di Minang Pesisir dalam kehidupan sosial tidaklah terlalu akrab dengan para datuak. Bahkan dari kecil hingga hari ini, saya tidak tahu siapa datuak kami–suku Chaniago Korong Lampanjang, Kanagarian Kuranji Ilir– Sedikit yang saya tahu dalam Kerapatan Adat Nagari (KAN) kami diwakili oleh Mamak Kapalo Suku Chaniago. Datuak ada tapi tidak seperti di Minang Darek ; yang datuaknya banyak dan perannya juga masih lumayan bertaji. Selain itu, kami pun tak punya rumah gadang seperti saudara di Minang Darek. Itulah sebabnya kadang dalam bercanda saya menyebut kami Minang Pesisir ini Minang Swasta, sedangkan Darek Minang negeri.

Dalam sastra, terutama yang ditulis oleh angkatan Balai Pustaka dan Pujangga Baru, Tanah Minang digambarkan sebagai negeri para Datuak. Bacalah Siti Nurbaya-nya Marah Rusli, Salah Asuhan milik Abdoel Muis, Tenggelam Kapal Van der Wijck Magnum Opus Buya Hamka, dan karya lainnya putera Minang, seperti Nur Sutan Iskandar, Tulis Sutan Sakti dan lain sebagainya bisa dipastikan tak satu novel pun yang tanpa ada tokoh bernama Datuak. Tentu yang paling ikonik dari para Datuak ini, tak lain adalah Datuak Maringgih.

Inilah negeri para jagoan Silek dengan senjata Karambiak. Senjata khas Minang yang terinspirasi dari kuku Harimau. Senjata berbahaya yang bisa memburai usus lawan. Silek Harimau merupakan salah satu jenis silek yang palih populer di negeri para datuak ini.

Imaji saya yang paling kuat tentang datuak, justeru saya temukan di serial Wiro Sableng karya Bastian Tito. Kekecewaan saya terhadap Bastian Tito–putera Minang itu sedikit terobati dengan adanya tokoh Datuak Rao Basalung Ameh dan Tua Gila Dari Andalas dalam serial Wiro Sambeng. Bastian Tito berdarah Minang, namun ia sangat mahir menggambarkan Jawara-Jawara Tanah Mataram. Ia menuntut pembacanya seakan-akan membawa kita memasuki lorong waktu untuk menyaksikan para Jawara Tanah Mataram beradu ilmu kanuragan, namun sedikit sekali bercerita Tanah Minang. Ia seperti Muhammad Yamin mendalami kebudayan Jawa namun sedikit sekali menulis tentang kebudayaan Minang.

Tua Gila Dari Andalas punya kekasih dari seorang nenek yang berasal dari lereng Singgalang. Sabai Nan Rancak namanya. Sedangkan Datuak Rao Basulang Ameh selalu muncul dengan suara saluang dan seekor Harimau Putih yang bermata hijau. Itulah sebabnya dalam imajinasi saya Datuak adalah seorang yang memiliki ilmu kanuragan tingkat tinggi, Pandeka (pendekar) pilih tanding tak terkalahkan. Para datuak ini bersemayan di lereng Merapi atau Singgalang, di Lembah Anai ; menelusi jalan setapak dari Air Terjen Lembah Anai, atau di Bukik Timbun Tulang. Tempat-tempat yang jauh dari keramaian. Tak terjangkau oleh orang-orang kebanyakan.

Bertolak belakang dengan imajinasi saya, belakangan ini para datuak itu telah turun gunung, naik dari lembah, meninggalkan ketenangan dan kesunyian padepokannya. Para datuak itu hadir di pusat kota, di jalan-jalan protokol, di pusat keramaian, di tempat-tempat terlihat oleh banyak mata. Para Datuak itu saat ini bajamue-bapaneh bahujan badingan siang jo malam pada baliho-baliho Bakal Calon Gunerbur Sumatera Barat. Dari belasan bahkan sekitar dua puluhan Bakal Calon Gubernur atau Wakil Gubernur Sumatera yang akan dihelat tahun ini adalah para Datuak. Di awali dengan gelar Agama, kemudia gelar akademis di depan dan belakang nama, selanjutnya di bawah dituliskan gelar kebangsaawaan (adat) tentu saja tertulis Datuak. Seperti Datuak Bandato Basa, Datuak Sinaro, Datuak Rajo Pangulu, Datuak Rajo Ameh, Datuak Rajo Intan, Datuak Rajo disambah. Siapa yang tidak bergidik saat membaca gelar kebangsawanan ini?

Politik akan selalu mencari legitimasi sebanyak mungkin. Agama saja belum cukup, ditambah dengan kebudayaan, dalam konteks ini gelar Datuak. Sebagaimana agama, kebudayaan menyatu menyatu dengan manusia, menjadi ruh masyarakat. Itulah sebabnya kebudayaan akan dijadikan tunggangan untuk berkuasa. Setelah sampai akan dilepaskan dan ditinggalkan.

Dan katena itu pula barangkali di selatan Kota Padang ada Batu Malin Kundang. Yang menurut budayawan Gunawan Muhammad, Batu Malin Kundang merupakan metafoar dari kedurhakaan. Kederhakaan seorang anak kepada ibu. Selanjutnya kedurhakaan generasi baru terhadap sejarah dan identitas kebudayaannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close