Dasar Kampungan Pernah Sekolah Nggak Sih?

“Dasar Kampungan! Pernah sekolah nggak sih?

Umpatan semacam itu kerap kita dengar di tengah parade klakson pada saat macet, atau ketika seseorang ngedumel karena antriannya di serobot. Saya selalu taburansang setiap kali hardikan semacam itu, bukan karena membela pengendara yang menyebabkan kemacetan dan tidak pula mentolerir pelaku yang menyerobot antrian tapi kepada pemilihan frasa yang digunakan. Secara vulgar dengan melecehkan orang kampung, penghuni desa dan memuliakan sekolah. Seakan-akan segala kekacauan akibat ulah orang-orang kampung, hanya bisa diselesaikan dengan bersekolah (formal).

Sebenarnya perlu kaji kembali, benarkah kaum urban yang terkonsentrasi di ilir ; kota, lebih beradab daripada mereka yang tinggal di ulu/udik atau kampung atau desa?

Pada tempo dulu, ilir (kota) merupakan persinggungan antar budaya. Biasanya yang menetap di kota merupakan orang-orang yang mampu berinteraksi dengan baik dengan beraneka ragam kebudayaan yang datang dari berbagai ulu/udik. Sebagaimana muara yang menerima segala yang dibawa oleh sungai dari ulu yang berbeda. Begitulah (penghuni) kota semestinya. Itulah awalnya, sehingga mereka yang tinggal dikota dianggap lebih beradap karena mampu hidup secara bersama dengan baik yang datang dari berbagai suku atau bahkan ras/entis. Mereka telah terbiasa hidup akur dalam lingkungan heterogen.

Dalam perkembangan selanjutnya, akibat perkembangan zaman kota pun membuat sekat. Ada kampung Ambon, Kampung Bugis, Kampung Melayu, Kampung China, Kampung Keling, Kampung Jawa, Kampung Arab dan lain sebagainya. Bahkan tak hanya sekat secara kesukuan, namun juga status sosial, seperti Real Estate yang dihuni oleh warga kota dengan dinar berlimpah, pemukimam kumuh , padat dan kotor, Komplek karyawan BUMN, Komplek Asabri, Komplek Polri dan banyak lain. Yang pada akhirnya berujung kepada pada komunitas yang homogen. Yang pada akhirnya tidak berbeda dengan orang kampung/desa dengan kehidupan homogen. Barangkali sekat-sekat yang terbentuk oleh perkembangan kota lebih sempit dan lebih kecil dibanding desa.

Itulah sebabnya kaum urban perkotaan tidak lagi kosmopolitan seperti dulu, bahkan kadang lebin intoleran dibanding mereka yang ndeso. Umpatan-umpatan rasis lebih sering keluar dari mulut-mulut orang kota yang mereka salurkan melalui aksara di media sosial.

Lebih menggelikan lagi umpatan “pernah sekolah nggak sih?”. Pandangan ini lebih menggelikan lagi. Seolah-olah sekolah (formal) adalah satu-satunya cara memperbaiki adab, moral atau akhlak atau apalah sebutannya. Atau dengan sudut pandang lain ; segala kekacauan, kesemrawutan, ketertinggalan bangsa ini akibat pendidikan (sekolah formal) masih rendah. Tempo hari saya pernah menonton video tautan di facebook. Sebuah kemacetan total. Beberapa pengendara motor melaju melawan arah. Masing-masing berbegas, tanpa menyisakan sedikit kesabaran. Parade pekikan klakson bersaut-sautan untuk menumpahkan kemarahan. Saya sempatkan membuka kolom komentar. Salah satunya tertulis seperti ini ” Bangsa ini rusak dan tidak maju akibat sebagian besar pendidikan orang Indonesia hanya sampai SMP”. Saya tersenyum mesem membacanya.

Barangkali si penulis komentar tidak tahu bahwa kerusakan yang lebih besar dan parah yang ditanggung bangsa ini justeru dilakukan oleh orang-orang berpendidikan (sekolah formal) tinggi. Para penilep uang rakyat negara sekolahnya tinggi, gelar akademisnya berderet ditulis di depan dan belakang nama. Belum cukup kuliah dalam negeri, mereka sekolahnya mulai dari Jepang hingga Eropa bahkan Amerika. Tentu saja bukan semua yang sekolah tinggi menilep uang rakyat negara tapi sebagian besar. Nah bandingkan dengan kerusakan yang diakibatkan oleh mereka-mereka yang tak pernah makan bangku sekolahan. Ya paling maling kecil-kecilan, maling Ayam, nyolong kayu milik Perhutani. Mustahil mereka yang hanya tamat SD kong-kalingkong dalam kasus Jiwasraya, Asambri, atau pat-gulipat kasus BLBI, Bank Century dan kasus-kasus besar lainnya.

Sebaiknya selain menghidari tudingan-tudingan terkesan rasis, alangkah eloknya juga mengindari umpatan-umpatan yang terkesan sektorial dan akademis seperti kampungan, ndeso, nggak pernah makan bangku sekolahan. Karena sudah tidak relevan dengam zaman. Saya sering berinteraksi dengan orang kampung yang tak pernah sekolah formal namun saya terkesan dengan kepribadiannya. Dan sebaliknya saya mengenal beberapa orang kota dengan gelar akademis mentereng namun meninggalkan kesan buruk perihal adab, terlebih lagi yang saya kenal di media sosial.

Padahal

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close