Paham Majapahitisme

Pewaris dan penerus Majapahitisme –mereka yang berkecil hati atas keruntuhan Majapahit akibat ekspansi Islam–merasa seolah-olah gugusan nusantara ini hanyalah Jawa, sedangkan di luar itu hanya subordinasi dari kebudayaan Jawa. Benar sejarah mencatat bahwa Raja Kertanegara mengirimkan ekspedisi ke pedalaman Melayu (Sumatera Tengah) agar Dharmasraya mengakui kekuasaan Singosari. Ekspedisi militer yang dipimpin oleh Kebo Anabrang ini tidak disambut dengan kekuatan militer oleh Dharmasraya namun dengan menyerahkan dua orang Puteri untuk dibawa pulang ke Singosari; Dara Petak dan Dara Jingga. Penyerahan dua puteri bisa dianggap sebagai simbol ketundukan Dharmasraya kepada Singosari dan dan dapat pula ditafsirkan sebagai “Perkawinan Politik”, agar tidak ada yang merasa superior dan tidak pula yang merasa inferior. Dari Petak lahirnya Jaya Negara, Raja Majapahit penerus Raden Wijaya, sedangkan dari Dara Jingga lahir Adityawarman yang kelak mendirikan kembali Kerajaan Melayu di Pagaruyung. Apakah ini penaklukan Jawa atas Sumatera. Tergantung penafsiran masing-masing.

Barangkali para penerus Majapahitisme zaman sekarang lupa atau memang tidak tahu bahwa Candi Borubudur yang megah itu dibangun oleh Raja Budha Sriwijaya dari Sumatera yang pernah menguasai tanah Jawa. Dan jika mereka mengagung-agungkan kedigdayaan Gajahmada, orang-orang Melayu akan membuka tambo lama yang menyatakan bahwa Hang Tuang pernah mengamuk dalam Kraton Majapahit tanpa seorangpun ksatria kerajaan yang berani menangkapnya.

Memang, dizaman jahilliyah kita saling bermusuhan, kita saling menaklukan, saling dendam, karena nafsu ingin mengusai. Islam datang sebagai penanam pertama jiwa persatuan. Kita bersatu. Namun tak berselang lama bangsa atas angin datang katanya ingin berdagang, selajutnya ingin menguasai. Kolonialisasi. Menjajah untuk menjarah kekayaan alam kita. Namun terhadang oleh benih persatuan yang telah disemaikan oleh ajaran Islam. Kompeni Belanda memecah-belah untuk mengautkan kekuasaannya.

Dalam rangka memecah belah, para Indolog yang berkerja untuk kolonial mempropagandakan kebesaran-kebesaran Nusantara Pra Islam. Singosari, Majapahit, Sriwijaya. Saat bersamaan “menenggelamkan” sumbangsih Kesultanan Islam terhadap Nusantara, Nama Raden Fatah, Sultan Trenggana, Kesultanan Demak, Kesultanan Islam Banten, Kesultanan Cirebon sengaja ‘dipeti-es-kan. Tak boleh dikenang lagi. Bahkan hingga kolonial sudah hengkang, yang diajarkan kepada kita di sekolah pun tak jauh seputaran Majapahit, Sriwijaya, Gajah Mada, Hayam Wuruk.

Sadarkah kita, tak kala Pangeran Diponegoro, Amirul Mukminin Tanah Jawa diperdaya dan perang Jawa berakhir, Kolonial Belanda menipu Sentot Ali Basya bahwa di Tanah Minang ada kaum radikal yang hendak meruntuhkan kewibawaan Rajanya yang juga Islam, Raja Islam ini harus dibantu, maka berangkatlah Sentot Ali Basya ke Ranah Minang untuk mematahkan perlawanan kaum radikal ini karena terpedaya oleh politik adu domba Belanda. Sesampai di Minangkabau Sentot merasa dirinya ditipu, sebab yang diperangi adalah kawan sepaham dalam Islam. Lilitan surban Sentot sama dengan lilitan kaum paderi. Kemudia Sentot berbalik arah, ingin bergabung dengan kaum Paderi, namun sayang tercium oleh kompeni. Sentot diasingkan ke Bengkulu hingga menemui ajal di sana.

Dengan memakai paham Islam, dengan sendirinya kebangsaan dan kesatuan Indonesia telah terjamin. Tetapi dengan mengemukakan kebangsaan, apalagi kesukuan saja, orang-orang akan kembali mengorek-korel tambo (sejarah) lama, dan itulah pangkal bala dak bencana.

Tercium aroma geram dari tulisan Buya Hamka yang dituangkannya dalam Dari Perbendaharaan Lama, karena pada saat beliau menulis buku ini pada tahun 1963 para penganut paham Majapatisme sedang gencar mengapus konstribusi Islam terhadap kebangsaan (Indonesia) seperti yang pernah dilakukan oleh orientalis pada masa kolonial.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close