Black Death, Amawas dan Corona

Black Death, Kematian Hitam. Begitu menakutkan nama yang diberikan oleh masyarakat Eropa terhadap pandemik ini. Barangkali karena begitu mencekam kehidupan masyarakat Eropa akibat virus ini kala itu. Sehingga pendemik ini disebut kematian hitam. Bisa juga karena karena orang yang terjangkit wabah ini mengalami pembengkakan kelenjer getah bening. Penderita yang sekarat akan terlihat bercak-bercak hitam pada kulitnya hingga ajal tiba.

Berdasarkan catatan sejarahwan, Black Death menjangkiti Eropa dan Mediterania pada rentang 1346-1353. Pandemik ini menelan korban hingga 50 juta jiwa. Mengurangi populasi Eropa hingga 60%.

Pada masa kekhalifan Umat bin Khattab, pandemik seperti Corona di China dan Black Death seperti di Eropa pada abad ke-14, juga pernah terjadi. Wabah ini bermula di Amawas, Palestina. Sehingga dinamakan demikian ; Wabah Amawas. Ribuan kaum muslim wafat termasuk tokoh sipil dan militer seperti Abu Ubaidah bin Jarrah, Muaz bin Jabar, Yazib bin Abu Syofyan dan lainnya.

Dalam menghadapi wabah ini, Khalifah Umar mengerahkan seluruh daya dan upaya. Wabah ini bermula di Amawas, kota yang berada di sebelah barat Yerusalem, terus menjalar ke Syam hingga Iraq. Penularan sangatlah cepat. Sama cepatnya dengan kematian setiap orang yang terjangkiti. Itulah sebabnya wabah ini menimbulkan kepanikan massal. Total korban mencapai 25.000 jiwa. Basrah menjadi kota yang paling parah terjangkit wabah ini.

Sapuan wabah Amawas ini juga melanda pusat konsentrasi kekuatan militer Umat Islam, semacam Kamp Militer Islam kala itu di Syam. Panglima Perang Islam yang tersohor yakni Khalid bin Walid pun terjangkit. Ia beserta 40 orang puteranya meninggal dunia. Pada saat ini secara militer kaum muslim sedang lemah namun Romawi tidak menggunakan momentum ini untuk menyerang karena takut terjangkit.

Khalifah Umar mendapati khabar wabah ini saat dalam perjalanan dari Madinah menuju Syam. Umar beserta rombongan sejumlah petinggi militer ; Abu Ubaidah bin Jarrah, Yazid bin Abu Syofyan dan Syurahbil bin Hassah baru saja tiba di Sar, dekat Tabuk. Ketika diberitahu oleh ketiga sahabat itu tentang Wabah Amawas yang sedang menjangkiti Syam, Umar awalnya merasa cemas. Ia memimpin musyawarah untuk menentukan sikap ; melanjutkan perjalanan ke Syam yang sedang terjangkit Wabah Amawas atau kembali ke Madinah. Tidak ditemukan kata sepakat ; sebagian bersikeras melanjutkan perjalanan dan sebagian lagi ingin kembali ke Madinah.

“Wahai Umar, kita akan lari dari takdir Allah?” Abu Ubaidah mendebat Umar
“Ya, lari dari takdir Allah yang satu dan menuju takdir Allah yang lain” balas Umar.
Saat Umar berdebat dengan Abu Ubaidah muncul Abdurahman bin Auf, lantas mengingatkan akan kepada mereka berdua ihwal sabda Nabi Muhammad s.a.w ; “jika ada wabah pada suatu kota janganlah kalian masuk. Kalau kalian sedang di dalamnya, janganlah kalian lari ke luar”. Mendengar dari Abdurrahman bin Auf Umar semakin yakin untuk kembali ke ibu kota.

Keesokannya, selesai memimpin sholat subuh, Umar menyeru ke seluruh rombongan “saya akan kembali ke Madinah, maka pulanglah kalian”. Namun himbauan Umar tidak diikuti oleh seluruh rombongan. Abu Ubaidah melanjutkan perjalanan. Ia bertanggung jawab atas sejumlah pasukan di barak-barak tempur dalam wilayah Syam. Itulah alasan Abu Ubaidah bin Jarrah terus memasuki Syam.

Sesampai di Madinah Umar gelisah memikirkan nasib kaum muslimin di Syam. Ia terus memikirkan sahabatnya Abu Ubaidah bin Jarrah, bagaimana cara mengeluarkannya dari Syam. Padahal Umar berharap setelah ia tiada nanti sahabatnya itulah kelak yang akan menggantikannya memimpin kaum muslimin. Ia bersiasat agar Abu Ubaidah mau keluar dari Syam. Ia kirim surat bahwa ada urusan penting yang harus dibahas antara Umar sebagai Amirul Mukminin dengan Abu Ubaidah sebagai pemimpin tertinggi militer. Dan itu hanya dapat dibahas dengan empat mata di Madinah. Artinya Abu Ubaidah mesti menghadapnya ke Madinah.

Membaca surat Umar, Abu Ubaidah telah dapat menangkap maksud implisit dari Umar. Ia tahu sang khalifah ingin mengeluarkannya dari wabah yang sedang menjangkiti Syam. Ia menulis surat balasan “saya sudah tahu tujuan anda kepada saya. Saya berada di tengah-tengah pasukan muslimin. Saya tidak ingin menjauh dan berpisah dengan mereka, sampai nanti Allah menentukan keputusan-Nya untuk saya dan untuk mereka. Lepaskan saya dari kehendak anda wahai Amirul Mukminin, biarkan saya dengan prajurit saya”. Ketika surat balasan itu sampai di Madinah Umar membacanya dengan berderai air mata.

Bagaimanapun Umar tidak menyerah, ia terus berusaha menyelamatkan seluruh rakyat dari wabah Amawas. Ia surati lagi Abu Ubaidah agar memimpin rakyat untuk pindah ke dataran yang lebih tinggi dan tandus agar terhindar dari wabah. Belum sempat instruksi Umar dilaksakan Abu Ubaidah telah terjangkit dan meninggal. Dan penerusnya Muaz bin Jabal pun belum sempat melaksanakan perintah Umar. Selang beberapa hari Muaz pun terserang wabah dan meninggal. Lalu posisinya digantikan oleh Amr bin Ash. Pada masa inilah perintah Umar dilaksakan oleh Amr bin Ash dan wabah pun mereda. Umar berkunjung ke Syam dalam rangka memulihkan kembali kondisi umat Islam pasca wabah Amawas.

Kategori Historia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close