SAIYO SAKATO

Tema yang diangkat pada film ini, sebenarnya topik yang sangat sensitif, terlebih belakangan ini. Membahas perihal poligami lebih sering berujung perselisihan dan pertikaian, karena bersikeras dengan perpekstif masing-masing. Gerakan feminisme berhadap-hadapan dengan pemahaman agama (islam) tekstual itulah yang mendominasi perdebatan masalah poligami selama ini.

Film ini tidak sedang mempengaruhi anda untuk setuju atau pun menolak poligami. Semua itu dikembalikan kepada anda setelah menonton film ini. Tapi bukan begitu juga. Gina S Noer (Sutradara) sedang menyampaikan pesan bagaikan angin menyusup pelan-pelan ke dalam relung hati. Lalu mengimpresi hati anda untuk berfikir bahwa begitu rumitnya perihal poligami.

Taruhlah anda seorang yang jago main kucing-kucingan, pembual kelas kakap, penghapus jejak langkah yang jitu, sehingga tak seorang pun yang tahu perihal poligami yang tengah anda lakukan. Kehidupan anda bahagia damai sentosa dengan kedua isteri dan anak-anak. Justeru setelah meninggal baru muncal masalah. Itulah yang terjadi pada Uda Zul, koki pilih tanding yang mewariskan buku resep rahasia Rumah Makan Padang Saiyo Sakato. Yang takaran semua menu rahasia ditulir “secukupnya” ; Gulai Kepala Ikan : santan secukupnya, bawang merah secukupnya, dan seterusnya dengan serba secukupnya. Membuat pusing isteri dan kedua anaknya, untuk mencopy paste menu rahasia Uda Zul yang telah mendunia.

Film sebagai sebuah misi kebudayaan terpenuhi dalam Saiyo Sakato. Film ini sebagai duta Masakan Padang dalam rangka Men-dunia-kan masakan Padang bolehlah dianggap seperti itu. Dalam Saiyo Sakato, selain menampilakan visualisasi masakan minang yang menggugah selera, juga menampilkan sebuah totalitas dalam mengelola Rumah Makan Padang. Segala daya dan upaya rasional ditempuh oleh Uni Mar dan Nisa dalam rangka membesarkan Saiyo Sakato warisan Uda Zul. Mulai dari pembukuan yang rapi, uji-coba menu ayang tak pernah berhenti, mengundang influecer agar memberikan testimoni, berusaha agar Saiyo Sakoto diliput oleh Lidah Tak Berdusta, sebuah program kuliner TV, tentu-tentu upaya rasional yang jauh dari hal mistik dan klenik.


Tiga hari menjelang ulang tahun pernikahannya yang ke-31 dengan Uni Mar, Uda Zul meninggal akibat serangan jantung saat ia memasak di dapur. Uni Mar dengan kedua anaknya (Nisa dan Zul) terpukul dengan kematian mendadak Uda Zul. Sudah jatuh tertimpa tangga, begitulah yang dialami oleh Uni Mar sekeluarga, belum hilang duka, datanglah seorang perempuan dengan seorang putera berusia 5 tahun. Perempuan itu bernama Nita, mengaku sebagai isteri Uda Zul, sedangkan Budi buah cinta mereka berdua. Mereka menikah 8 tahun lalu. Nita datang dengan itikad baik dengan cara yang baik, namun sayang diujung perbicaraan ia menanyakan masalah warisan yang menjadi hak Budi. Uni Mar, yang dari awal hanya terdiam mendengarkan paparan Nita, naik pitan, ia melemparkan rantang yang berisi gulai asam padeh, gulai ikan yang dibawa oleh Nita sebagai buah tangan dalam rangka menjalin silaturahmi. Semua makanan itu berserakan di halaman Saiyo Sakato. Nita dendam niat baiknya untuk memulai silatarahmi dibalas dengan cara yang buruk oleh Uni Mar. Silaturahmi kedua mantan isteri Uda Zul Gagal Total.

Atas anjuran Pak Etek Eri (Adik Uda Zul yang ikut mengelola resto) , Uni Mar pulang kampung untuk menenangkan perasaan dan menata hati. Pada hari keberangkatan Rumah Makan Saiyo Sakato versi Nita berdiri megah di seberang jalan. Percis berhadap-hadapan dengan Resto Saiyo Sakato versi Uni Mar. Uni Mar membatalkan rencana menepi ke kampung. Hari itu dimulai kompetisi. Kompetisi antara Saiyo Sakato milik Uni Mar vs Saiyo Sakato versi Nita. Mereka saling klaim bahwa milik mereka yang paling aseli.

Kompetisi bertanbah pelik karena Nisa (Puteri Uda Zul dari Uni Mar) terlibat asmara dengan Emir (adik Nita) yang juga ikut mengelola resto Saiyo Sakato bersama kakaknya.

Saya kerap iri kepada laki-laki yang jago memasak. Meskipun tidak jago memasak namun bagian rumah yang saya sukai adalah dapur. Saya senang melihat aktifitas di dapur, saya senang melihat santan bergelembung, saya suka mencium aroma bumbu dapur menguap saat dipanaskan. Dan semua itu terpenuhi dalam film ini.

Ungakapan tambuah ciek sudah sangat umum, semua orang sudah tahu maksudnya baik yang bisa bahasa minang maupun yang tidak , namun dalam Film ini menggunakan Tagline “Awas Batambuah Ciek”. Dalam kehidupan sosial minang lelaki yang menikah lagi tanpa menceraikan isteri pertama sering disebut “batambuah”, bilo ka bantambuah?, tambuahlah cieklah, begitulah candaan laki-laki untuk menantang sahabatnya berpoligami. Secara ekplisit Gina S Noer menggunakan “Awah Batambuah Ciek” barangkali meminta agar laki-laki berfikir ulang sebelum berpoligami.

Film ini terdiri dari 10 Episode dengan durasi 30-35 menit masing-masing episode.
Bagi yang kuota masih cukup silakan ditonton, sebagai pengusir bosen pada masa karantina ini.

https://m.facebook.com/groups/337128266966635?view=permalink&id=508688576477269

https://m.facebook.com/groups/337128266966635?view=permalink&id=508688576477269

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close