Tak Ada Jengkol Tempoyak Pun Tak Kalah Eunak

Tujuan saya pulang ke rumah (masa ketjil) dua hari lalu, sama seperti kaum muslim Nusantara lainnya ; Ziarah ke makam kedua orang-tua, kakek-nenek, sanak famili dan kerabat sebelum masuk Ramadhan. Selain itu saya ingin membasmi rumput liar yang tumbuh di areal pandam dengan meyemprotkan pestisida.

Usai sarapan pagi, saya berangkat ke areal pemakaman yang hanya berjarak 200 m dari rumah dengan menggendong tangki semprot di punggung, pestisida, minyak tanah, korek api dan sebilah golok saya tenteng di kanan-kiri. Selepas mengucapkan salam, lalu memanjatkan do’a untuk kedua orang tua serta seluruh ahli kubur, selanjutnya saya menyemprot seluruh rumput liar berupa tanaman merambat, pakis dan keladi.

Pelepah kelapa tua yang jatuh dari pohon saya kumpulkan di dua titik. Dengan mengguyurkan sedikit minyak tanah, bunga api dari korek menyambar tumpukan pelepah daun kelapa yang sudah kering. Api bergelombang dan bergoyang seperti biduan dangdut sedang menyanyi, suara mendecis keluar dari daun kering yang terbakar, asap putih kecoklatan membubung ke udara.

Pestisida tinggal setengah, sudah 8 tangki dengan volume 16 L, Seluruh areal pemakaman telah basah oleh larutan pestisida. Saya beranjak ke rumah. Mulai dari halaman depan, samping kiri-kanan, beranjak ke belakang, hingga jauh ke belakang ke bekas kolam ikan yang sudah ditimbun. Menjelang matahari tegak lurus di kepala tujuan utama complete. Misi selesai.

Sebenar ada misi selanjutnya ; saya ingin menandai pegebluk Corona ini dengan menandur tanaman keras. Tanaman berumur panjang seperti durian atau kelapa non hibrida yang bisa hidup belasan bahkan puluhan tahun. Agar suatu saat akan dikenang oleh keponakan dan cucu-cicit ; durian ini ditanam oleh ungku (kakek) ketika massa Corona tahun 2020 silam ungkap cucu-cucu saya mengenang pegebluk Corona ini di massa akan datang. Rencana ini mesti ditunda dulu karena matahari sudah hampir tegak lurus dan perut mulai keroncongan. Rolasan istilah jawa yakni aktifitas makan siang setelah memburuh. Diambil dari kata dua belas, sesuai waktu jeda para buruh dalam bekerja, pukul 12 siang.

Saya memasuki rumah melalui pintu dapur, setelah menciduk segelas air suam-suam kuku, Saya singkap tudung saji untuk mencigap apa sambal yang dimasak Ayang. Iba hati saya karena tidak ada sambalo jering, biasanya setiap saya pulang Ayang selalu memasak jering, masakan nomor satu favorit saya. Kali ini tidak ada. Namun setelah saya cocol dengan telunjuk, adonan kental yang bersisi bada tersirap dan girang hati saya, karena Ayang memasak masakan paling favorit saya yang sudah lama sekali tak mencicipnya yakni Asam Durian dicampur dengan bada. Waw… terbit air selera saya dibuatnya. Aroma asam durian yang berlumur bada membuat perut saya bersilonjak. Sungguh lemak sekali.

Tidak dapat diakal lagi, langsung saya sambar pinggan, lalu saya ambil nasi putih, saya gelincakan asam durian ke nasi. Sungguh makan siang yang lemak sekali.

Namun bersamaan lidah saya sedang menikmati Asam durian, saya terkenang Amak yang semasa hidupnya juga sangat suka asam durian. Seperti anak-anak kecil di kampung pada masa itu, meskipun seorang introvert dan penakut, saja juga ikut-ikutan keliling kampung mencari durian pada malam atau subuh. Meskipun tidak sepiawai teman-teman sebaya dalam mencari durian, kadang saya juga bernasib baik, pulang ke rumah memawa 1-2 durian. Saya ingin menikmati lansung, dengan memakan tanpa diolah, namun amak selalu memaksa menjadikan durian yang saya bawa menjadi Asam durian, katanya lebih enak dan bermamfaat sebagai pakan nasi (lauk untuk nasi). Namanya anak-anak saya kadang kesal bin jengkel karena pada masa itu saya belum suka asam durian, mencium aroma asam durian saja saya menghindar. Namun setelah kuliah saya juga tergila-gila kepada asam durian, sama seperti amak. Tak terasa mangkok yang berisi asam durian sudah tandas saya sungkah.

Terdengar suara tilawah Al Qur’an dari Surau tanda sedikit lagi waktu zuhur akan tiba. Saya sambar handuk lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan badan bak pariuk cindue.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close