New Normal Untuk Siapa

Dari awal perencanaan New Normal sudah tidak jelas. Kabur konsep dan penerapannya. Yang jelas hanya 50 %. Semua pukul rata menjadi setengah kapasitas maksimal. Misalnya penumpang Comuterline, Transjakarta, Pesawat Terbang, Angkot, antrian bank, pengunjung Cafe, resto dan mall. apakah sama kerapatan (kepadatan) masing-masing tempat itu jika semua dipukul rata tanpa identifikasi dan kalkulasi yang jelas dan akurat.

Satu lagi yang jelas dari New Normal adalah ketidakjelasan istilah ‘New Normal’ itu sendiri. Selain rancu dalam bahasa dan dalam KBBI daring versi V tidak ditemukan lema New Normal, yang ada lema ‘Normal’ dan Abnormal. Saya cek ke Oxford Dictionary of English hasilnya juga nihil. Sama seperti KBBI. Jadi “makanan atau binatang buas” seperti apa New Normal ini belum jelas. Barangkali kerumitan saya dalam memahani New Normal sama rumitnya bagi santis untuk memahami Covid-19.

New Normal memang penuh ketidakjelasan. Mengapa kita menerapkannya, untuk siapa, oleh siapa serta apa tujuannya. Semua serba ketidakjelas. Apalagi ditilik dari penerapannya di lapangan. Satu hal yang jelas dunia sedang menerapkan New Normal kita pun harus mengikuti. Singkatnya sedang viral, paham atau tidak paham, jelas atau buram kita meski mengikutinya. Sama dengan frasa Perang Melawan Corona, kita pun mengikutinya. Kita tak lebih sebatas buih yang terbawa arus. Arus dunia.

Yang penting ikut dunia, Perang Melawan Corona, meskipun terlihat hanya sebatas ‘perang-perangan’. Bagaimana tidak? Di saat korban terinfeksi Covid-19 terus menanjak, grafik belum melandai, tetiba pemangku kekuasaan mengajak berdamai dengan Corona hanya karena dunia telah berdamai dengan Corona. Lalu muncul istilah New Normal.

Ironis, dalam perang setiap ada kesepakatan damai. Masing-masing pihak akan mengurangi kekuatan militer secara bertahap, hingga benar-benar suasana damai telah tercapai zona perang akan disterilkan dari kekuatan militer. Yang terjadi di sini juteru sebaliknya ; penguasa menambah personil yang terdiri dari Polisi dan TNI untuk melaksanakan apa yang disebut New Normal. Polisi dan Babinsa dilipat-gandakan untuk mengawasi penerapan New Normal bahkan dengan senjata laras panjang masuk pasar-pasar tradisional. Sehingga pedangang ketakutan.

Dalam pelajaran sekolah SD atau SMP dulu kita dikenalkan dengan tiga macam kebutuhan, yaitu Kebutuhan primer (dasar), sekunder dan tertier. Orang-orang yang datang ke pasar (tradisional) bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dasar. Baik itu pengunjung untuk membeli bahan pangan, maupun pedagang yang berjualan di pasar. Mereka bukan dalam rangka memehuhi kebutuhan tersier atau luxs. Bukan sama sekali bukan.

Pengunjung datang ke pasar (tradisional) untuk memenuhi kebutuhan pokok ; membeliberas, minyak goreng, tepung sayur, dan aneka lauk. Begitupun pedagang, mereka juga sedang memenuhi kebutuhan pokok dengan berjualan di pasar untuk menafkahi keluarga di rumah.

Mereka datang ke pasar karena tak punya cukup uang untuk berbelanja di supermarket. Mereka berjualan di pasar karena tidak punya cukup uang untuk menyewa outlet di mall. mereka yang tengah berkotor-kotor, becek dan bau di pasar bukanlah pedangang yang sedang mengumpulkan kekayaan untuk diwariskam untuk tujuh turunan. Mereka tidak sedang bersenang-senang, seperti orang yang sedang berkerumum di Mall, di resto, cafe dan tempat hiburan.

Pasar tempat pertemuan penjual dan pembeli. Wajar jika ramai. Itu artinya pasar hidup. Jika tidak, pasti pasar sudah ditutup. Bukan pembiaran namun butuh pemakluman dari aparat sambil terus merapikan dan mengimbau agar semua memenuhi protokol kesehatan. Jangan sampai keberadaan aparat dan tim gugus tugas percepatan penanganan Covid-19 menjadi teror bagi pedagang dan pengunjung.

Di beberapa pasar terjadi gesekan antara pedagang dan petugas gugus tugas Covid-19. Mulai dari pengusiran mobil Rapid tes hingga kejar-kejaran antara petugas dengan pedagang yang menolak melakukan Rapid tes. Dari kesimpangsiuran dan ketidakjelasan, serta setumpuk penasaran dan pertanyaan mengenai Corona wajar mereka menolak, pertama mereka tak merasakan gejala sama sekali seperti yang disosialisasikan selama ini. Lagi pula jika mereka dikarantina selama 14 hari, otomatis tidak bisa berjualan, tidak ada pemasukan, bagaimana keluarga mereka bisa makan? Mereka tidak punya tabungan yang cukup hidup selama berbulan-bulan tanpa keluar rumah seperti perjabat. Bahkan mereka berangkat dari rumah pagi hari untuk beli beras di sore hari. Bagaimana biaya sekolah anak mereka? Meskipun sedang pandemik Coroma mereka juga masih butuh listrik untuk penerangan dan kebetuhan lainnya. Sejauh mana bantuan sosial yang diberikan mampu meringankan beban hidup mereka. Semua itu perlu dipikirkan sebelum ikut-ikutan menghujat mereka.

Mengapa hal yang sama tidak diberlakukan di Mall, Cafe dan resto serta tempat hiburan lainnya. Misalnya mobil Rapid Tes mencegat pengunjung yang ke luar dari Mall untuk dilakukan Rapid tes. Pengunjung Cafe dibubarkan. Kenapa? Takut mall sepi, pemilik resto waralaba gulung tikar, corparat besar gulung tikar, takut konglomerat jadi melarat.

Sekali lagi pasar berfungsi untuk memenuhi kebutuhan dasar sedangkan mall untuk kebutuhan tersier bahkan hanya sebatas life style. Perlakuan memang harus dibedakan, tapi bukan begini caranya. Pasar diawasi secara berlebihan sedangkan pada saat semangat New Normal secara tersirat menggiring orang-orang agar berkunjung ke Mall, nongkrong di cafe.

Jadi sebenarnya New Normal untuk siapa ?

*****

Al Albana, Andalas 21 Syawal 1441

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close