Injil Berbahasa Minangkabau Untuk Apa ?

Dalam literasi masyarakat Minangkabau sudah terbiasa menggunakan Bahasa Indonesia. Hampir tidak ada koran lokal yang berbahasa minang, paling cuma ada kolom berbahasa minang pada koran lokal. itupun dengan konteks budaya. Bahkan pada zaman sebelum ponsel mengambil peran telekomunikasi. Perantau berkirim surat kepada orang tua di Ranang Minang berbahasa Indonesia bukan Bahasa Minang, begitu juga sebaliknya. Singkatnya meskipun dalam bertutur masyarakat Minang sebagian masih menggunakan Bahasa Minang namun dalam bahasa tulis mereka mengunakan Bahasa Indonesia.

Saya belum pernah menemukan buku, ataupun novel dalam bahasa minang. Mengetahui bahwa Buya Hamka pernah menulis novel Si Sabariah dalam Bahasa Minang saya pun penasaran, cari di toko buku daring tidak ada apalagi di Gramedia.

Satu dekade belakangan Bahasa Indomi–Bahasa Indonesia logat dan struktur Bahasa Minang– menggusur Bahasa Minang. Kota-kota Ranah Minang, seperti Padang, Bukittinggi, Payakumbuh dan kota lainnya bahkan hingga pelosok anak-anak hingga remaja sudah meninggalkan Bahasa Minang beralih ke Bahasa Indomi.

Di sekolah, di Kampus, pergaulan sehari-hari generasi muda minang menggunakan Bahasa Indomie, sedikit sekali yang berbahasa Minang. Panggilan Uda, Udo, Ajo sudah berganti dengan Abang. Uni, Onang berganti dengan Kakak. Begitu pula Mak Adang, Mak Uniang, Mak Itam, Mak Uncu, Mak Aciak, Mak Etek sudah berganti dengan Oom. Tante telah menggusur Etek, Mak Uwo.

Berbeda masyarakat Jawa yang masih setia berliterasi dalam Bahasa Jawa. Perhatikan ! Media sosial, mereka masih banyak yang menulis dengan Bahasa Jawa, masih terbit buku berbahasa Jawa bandingkan dengan masyarakat Minang, hampir tidak ada yang menulis dengan Bahasa Minang di Media Sosial, jika pun ada paling untuk status-status pendek atau komentar.

Belum lagi perihal alihbahasa. Kosa Kata Bahasa Minang terbatas. Kemungkinan terjadi pergeseran makna jika Injil disulihbahasakan ke Bahasa Minang. Apalagi soal kaidah dalam cara penulisannya tidak ada standar baku yang menjadi pedoman.

Secara etika dan estetika, bahasa Minang tidak dibagi dalam kategori halus-kasar, melainkan kiasan-literal. Wilayah pemaknaan dalam bahasa Minang, baik keseharian ataupun formal, lebih cenderung berada dalam tataran pragmatik daripada semantik, senang bermetafora daripada ekspresi verbal—sekecil dan sesederhana apapun itu, bahkan di taraf tertentu, bahasa bagi masyarakat Minang umumnya tidak sekadar tuturan belaka, namun juga ekspresi tubuh.

Jujur, saya yang aseli Minang, berdomisili di Ranah Minang, namun lebih nyaman membaca dan menulis dalam Bahasa Indonesia dibanding Bahasa Minang. Untuk memahami tulisan dalam Bahasa Minang saya butuh waktu lebih lama, membaca dengan tempo lebih lambat bahkan kadang perlu mengulang untuk dapat memahaminya.

Apalagi jika dikaitkan dengan konsensus Adaik Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabulla (ABS-BSK), yang dipegang erat oleh masyarakat minang sejak ratusan tahun silam, tindakan menerbitkan Injal berbahas minang bisa dikategorikan ‘loncat pagar’.
Jika ber-Indonesia meski ber-Pancasila yang baru disepaki 75 tahun silam, tentu tidak ada yang salahnya jika Minang meski Islam yang disepakati oleh para leluhur Minang jauh lebih dahulu jika dibandingkan dengan kesepakan pendiri negara ini. Bukan perkara sara atau pemaksaan beragama jika menjadi minang harus muslim, lain halnya jika berdomisili di Sumatera Barat harus Islam, ini baru melanggar kebebasan beragama, melanggar HAM dan tindakan sara. Minang dan Sumatera Barat dua hal yang berbeda. Minang Identitas sedangkan Sumatera Barat teritorial. Ada yang beririsan ada yang lepas.

Menerbitkan Injil Berbahasa Minangkabau pekerjaan yang sia-sia, kecuali dengan tujuan kelak seratus tahun lagi menjadi buku langka yang harganya selangit dan menjadi bahan kajian filologi, apalagi jika ditulis dengan aksara Arab Melayu dalam Bahasa Minang. Aksara masyarakat minang sebelum menggunakan aksara latin. Itu pun jika versi cetak, ini kan versi digital di android yang gratis. Kecuali Kuciang Aie yang kurang kerjaan, namun senang memancing keributan.


****

Al Albana, Andalas, 23 Syawal 1441

Kategori Telaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close