Swacukur Di Masa Lockdown

Setelah lebih dua bulan lockdown dengan gerak sangat terbatas, ternyata rambut tidak ikutan lockdown, ia terus tumbuh dan semakin panjang sehinga terlihat awut-awutan. Saya mulai merindukan tukang cukur. Saat bangun untuk sahur saya ngeri menyaksikan wajah sendiri di depan cermin dengan rambut jingkrak. Seakan-akan saya bintang Shampoo lain yang dimaksud oleh Anggun C Sasmi.

Ramadan hampir sampai di ujung jalan, meskipun lebaran tidak sesemarak dan semeriah tahun sebelumnya, tentu juga mesti disambut dengan sesuatu yang baru. lebaran tahun ini, tak satupun yang baru; tidak ada koko baru, tidak ada sarung baru, tidak ada sandal baru, maka dari itu, tadi pagi ketika hendak mandi saya membawa gunting dan sisir ke kamar mandi, guna mempersiapkan rambut baru dalam menyambut lebaran.

Sebenarnya perihal pangkas bukan hal yang asing bagi saya, dua minggu lalu saya berhasil meyakinkann Alwi sehingga dia bersedia menyerahkan kepalanya untuk saya pangkas, begitu pula Bundanya. Namun memangkas rambut sendiri memang lebih sulit. Maklum sudah lebih 12 tahun saya tidak berswapangkas (memamangkas rambut sendiri) namun setelah beberapa menit menjadi lancar dan semakin lancar, hasilnya lumayan rapi (berdasarkan pengakuan saya sendiri).

Pengalaman buruk masa kecil dengan Tukang Pangkas , memaksa saya belajar memangkas. Pada masa SD saya hampir selalu menangis setiap kembali dari tukang cukur keliling. Bahkan esok harinya tidak mau berangkat ke sekolah. Awal SMP masih sama, namum kadarnya berkurang ; tidak menangis lagi berganti menjadi menggerutu dan sebuah penyesalan karena telah mendatangi tukang cukur.
Saya benci melihat wajah sendiri dengan rambut seperti batok kelapa di cermin.

Dulu waktu SD, setiap minggu pagi Mak Bumi, begitu ia dipanggil anak-anak melintasi desa kami dengan membawa peralatan cukur.
Mak Bumi, memang terlihat tukang cukur yang meyakinkan. Rambutnya tertata rapi, dan selalu tampil berkemeja lengan pendek, kadang berwarna putih dengan bawahan celana panjang. Tinggi tubuhnya sedang dan ramping tanpa lemak. Dia ramah kepada siapa saja, tak peduli yang dilayaninya anak-anak atau dewasa.

Kadang di Lapau, bisa juga di bawah pohon rindang dengan semilir angin yang sejuk ia memangkas rambut bocah-bocah. Si tukang pangkas itu bekerja sambil memainkan sisir dan guntingnya tapi dia juga sibuk bercerita tentang dirinya sendiri, kadang tentang pengalaman berburu babi hutan, sementara saya dipenuhi rasa cemas karena tahu hasil potongannya akan membuat kepala saya seperti memakai batok kelapa: rambut bertumpuk setengah lingkaran di bagian atas dan ke bawah licin tandas. Seingat saya hanya demikianlah puncak keterampilan si tukang pangkas keliling kala itu.

Tangan dan jemarinya lincah memangkas rambut dengan teliti, cepat tapi terukur, dan kadang mengubah temponya menjadi lambat terutama ketika menjelang proses akhir. Bagian akhir itu yang saya suka; dia akan mengambil pisau cukur dan mengasahnya di pada sabuk kulit sehingga pisau itu tampak mengkilat lalu dengan pelan dia membasahi bagian wajah saya dengan busa sabun yang terasa dingin di kulit dan pelan-pelan pisau itu menjelajahi permukaan kening, dagu, cambang, belakang telinga, dan lalu tengkuk. Lalu adegan yang sedikit seram adalah saat dia merapikan alis mata dan mata saya disuruh terpejam lalu pisau itu menyapu lembut di atas kelopak mata

Masuk SMP dan beranjak remaja saya tak mau lagi dipangkas dengan gaya batok itu, terasa kurang keren dan hanya jadi bahan perisakan di sekolah dan seturut dengan ketertarikan para remaja masa itu dengan bintang-bintang remaja kala itu seperti Lupus. Saya mendatangi Kedai Pangkas di pasar Kecamatan. Namun yang saya dapatkan bukan model rambut seperti remaja di tabloid atau di televisi tapi model rambut seperti calon “marapulai” (Pengantin Pria) yang bagian pinggir hingga bulu-bulu halus di tengkuk dikerik rapi. Penyesalan panjang mengiringi langkah pulang hingga berhari-hari ke depan hingga rambut mulai tumbuh dan menutupi bagian yang dikerik.

Pengalaman buruk berhadapan dengan tukang cukur membulatkan tekad saya untuk belajar mencukur. Beranjak SMA saya sudah mahir mengkombinasikan gerakan gunting dan sisir. Pada kala itu, menjelang ujian semester, selain semua urusan adminitrasi keuangan sudah kelar, rambut dan kuku juga harus rapi sebelum mendapatkan nomor peserta ujian. Untuk urusan yang disebutkan belakangan saya stand by di basah pohon sukun dekat tembok belakang sekolah bersiap dengan gunting dan sisir. Teman-teman cowok yang tidak lolos untuk mendapatkan nomor ujian akan saya pangkas sebelum kembali menghadap untuk mendapatkan nomor peserta ujian.

Saat kuliah karir saya di dunia gunting-sisir semakin menanjak, hampir setiap minggu ada saja teman cowok yang datang menyerahkan kepalanya untuk dipangkas, kadang dengan imbalan sepiring Indomie plus telor kadang cukup Thank You. Diberi atau tampa imbalan saya akan memangkas dengan sungguh-sungguh karena saya menekuninya dengan senang hati. Saya menyukai suara gunting, saya senang melihat rambut rontok di lantai, saya senang jika teman-teman senang dengan hasil kerja saya. Namun setelah pindah ke Batavia, nyaris saya tak pernah mendapatkan kepala untuk dicukur. Orang-orang Batavia lebih senang menyerahkan urusan rambut ke barber shop bahkan salon dibanding kepada teman dan kerabat.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close