Khitan

Setelah tertunda sejak penghujung tahun lalu, beberapa hari yang lalu Alwi menanyakan kapan dia akan disunat? “Kapan saya disunat? Sebelum mulai kelas V, saya harus sudah sunat” desaknyaa. “Iya, dalam waktu dekat, nanti ayah bilang bunda dulu, kapan dan dimana tempat sunatnya” saya menanggapi. Barangkali dia terpengaruh oleh teman sepermainan atau teman sekolahnya, yang satu persatu telah disunat. Saya paham, ketika seumuran dia, bagaimana teman-teman yang telah bersunat mengitimidasi saya dan teman lainnya belum disunat dengan menceritakan pengalaman sunat yang intimidatif, seperti Mail menceritakan sakitnya disunat setara dengan dicakar harimau.

Hingga semalam saya sampaikan kepada bunda Alwi dan kami ngobrol bertiga mengenai klinik dan waktu yang tepat. Bunda Alwi bertanggung jawab mencari refrensi, baik itu cara daring dengan berselancar di Google atau pun menghubungi kerabat dan orang tua teman Alwi menanyakan tempat khitan yang recomended di massa Pagebluk Corona ini. Sedangkan saya mendapatkan tugas maha berat yaitu mendampingi Alwi masuk kamar bedah saat hati H. Meskipun punya jejak langkah yang buruk segala yang terkait dengan darah dan peralatan bedah, namun kali ini sebagai penebus dosa atas ketidakberanian selama ini, saya membulatkan tekad dan mengumpulkan keberanian akan mendapinginya masuk kamar bedah. Semua itu berat. Dan itu harus diwujudkan.

Saya pernah lemas dan merasa seperti ikan tanpa air ketika mendampinginya ketika darahya diambil beberapa mili oleh perawat untuk kepentingan laboratorium ketika dia sakit, bahkan ketika dia dilahirkan saya tak punya keberanian untuk mendampingi bundanya di kamar operasi. Barangkali karena itulah bundanya selalu berinisiatif tanpa memberi tahu saya ketika terjadi hal buruk yang mengharuskannya dibawa ke Rumah Sakit. Tempo hari jidatnya bocor dan harus dijahit akibat bermain bola di sekolah. Bundanya baru beri saya khabar ketika semua telah beres. Begitu pula ketika telapak kakinya tertusuk paku ketika meloncat-loncat di gazebo, saya dikasih tahu pada malam hari.

Namun entah mengapa ketika membahas hal ini semalam bundanya merasa ngilu dan takut untuk mendampinyanya di kamar bedah pada hari H nanti, secara tersirat meminta saya untuk menggantikannya mendampingi Alwi. Mengampil peran yang selama ini dilakoninya. Dan saya maklum.

Tapi pagi Alwi menagih janji. “Ayo Ayah nanti sore sunat” ajaknya. “Belum, bunda masih nanya-nanya dulu”jawab saya. Perbincangan semalam dan desakan Alwi tapi pagi melemparkan saya pada kenangan lebih 30 tahun silam. Membayangkan pengalaman sendiri. Rasa ngilunya pun masih terbayang. Khitan merupakan momok yang menakutkan bagi saya, bagaimana pun juga mesti dilalui. Soal keberanian menghadapi hal seperti ini saya kalah jauh dibanding Alwi. Saya tak pernah minta disunat, bahkan membayangkan suatu saat saya harus disunat membuat saya ketakutan dan mengganggu tidur.

Tadi pagi saya membaca literatur tentang sunat melalui ponsel. Ternyata kemajuannya sudah sangat jauh dibanding saya dulu. Ketika disunat pakai sembilu..eh. Kapak. Ternyata sekarang ada metode laser, klam hingga stampler. Saya jadi ngeri membayangkan yang disebut terakhir ini. Saya membayangkan stapler kertas.

Setiap zamam membawa kegemilangan masing-masing. Sekarang sunat kelihatannya tak semenakutkan dulu, setidaknya seperti pengalaman saya pribadi. Sunat sekarang minim rasa sakit dan cepat sembuh. Bayangkan dulu sudah proses sunatnya sakit, waktu penyembuhannya lama dan menunggu sebuh penuh aniaya. Bayangkan! Agar tidak miring ke kiri dan kanan badan diapit oleh dua karung beras kiri-kanan, terus dengkul agar tidak dirapatkan secara tidak sadar ketika tidur diberi penyangga tongkat. Seuntai tali dikaitan ke loteng dan ujung bagian bawah tali diikatkan ke kain yang menutupi tubuh bagian bawah. Seperti main layangan namun terbalik. Kedua pergelangan kaki diberi kain seperti gelang yang telah dicelupkan ke minyak goreng agar tungau tidak naik melalui kaki mendekati bagian yang disunat.

Proses penyembuhannya pun relatif lebih lama darilada zaman kiwari yang cukup 4-5 hari saja. Dulu dihari ke-5 atau 6 ada proses lepas jahitan. Setelah itu untuk mengatasi inflamasi (bengkak) sabab petang kami pergi ke sungai lalu ambil batu yang panas sekira bisa tertahankan lalu ditempelkan ke aurat. Itu juga sakit. Belum lagi mitos bahwa selama proses penyembuhan tidak boleh makan ikan, ayam apalagi daging karena diyakini akan memperlambat proses pengeringan luka. Makanan yang boleh dimakan hanya teri dan digoreng tanpa minyak alias digongseng. Caranya masukan pasir yang bersih ke dalam wajan setelah panas masukan teri yang sudah dibersihkan hingga teri berubah warna kecoklatan menandakan teri telah matang dan siap untuk disantap.

Kenangan saya tentang sunat diisi oleh hal yang menakutkan. Tidak ada pesta, tidak pula di arak keliling kampung dengan menaiki andong. Karena tidak ada tradisi itu di kampung saya dulu bahkan hingga hari ini. Nyaris tidak ada perta untuk khitan. Kalau pun ada hak baik yang saya ingat tentang sunat ketika alm Mandeh (saudara perempuan dari Bapak) dan bako datang secara sendiri-sendiri (karena tidak ada pesta) lalu memberi kain sarung dan sedikit uang. Itu sungguh menyenangkan meski tidak seberapa dibanding dengan penderitaan sunat. Tapi itu cukup berarti. Setelah sembuh uang yang terkumpul selalu saya banggakan kepada teman-teman.

Dan bagaimanapun itu. Sakitnya disunat (pada zaman dahulu) Sunat akan membawa kita ke jalan kebaikan. Banyak kejadian dalam hidup ini yang memaksa kita untuk selalu cekatan mengambil hikmah. Kehilangan tidak selalu berarti kerugian. Dalam hal sunat kita bisa kutip kata penuh hikmah ini. “Tak apa dipotong sedikit, untuk mengambil mamfaat lebih banyak” begitu kata Mantri Soekarno yang tersohor sekecamatan Sungai Limau dan Sungai Geringging puluhan tahun silam sesaat sebelum menggunting yang seharusnya digunting.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close