Siti & Pengaburan Identitas Nusantara

Siti Hawa, Siti Hajar, Siti Sarah, Siti Aminah, Siti Khadijah, Siti Aisyah, Siti Fatimah begitulah nama-nama yang sering dikisahkan oleh guru mengaji di surau pada masa kecil dulu. Bahkan hingga sekarang, sebagian muslim tidak tahu bahwa Siti merupakan penambahan sebutan untuk wanita yang dihormati. Mereka menyangka Siti yang disebut pada awal nama-nama Isteri, ibu dan puteri nabi merupakan nama asli.

Setelah remaja saya baru paham bahwa Siti pada awal nama yang disebutkan di atas hanya dikenal oleh muslim Indonesia. Ternyata tidak orang Arab yang bernama Siti. Baik itu dahulu maupun sekarang. Karena memang nama-nama Arab tidak kenal expired seperti nama-nama Indonesia.

Siti berasal dari Bahasa Jawa (sangsekerta) yang punya arti Bumi, yang merupakan penghormatan kepada perempuan. Karena mereka perempuan-perempuan yang dihormati, orang-orang jawa sungkan menyebut nama, maka ditambah siti. Seolah-olah mereka lahir dari rahim kebudayaan nusantara.

Penambahan Siti, arsitektur masjid bercorak Hindu, penyebutan Kanjeng Nabi, Gusti Allah, merupakan fakta bahwa budaya nusantara mempengaruhi budaya Islam di Nusantara. Kebudayaan islam bukan syariat Islam mesti dibedakan. Singkretisasi budaya. Singkretisasi dalam definisi umum, bukan singkretisasi yang telah mengalami penyoratif, seperti yang dialami kata radikal saat ini.

Kebudayaan Arab yang ikut bersamaan dengan Islam ke Nusantara juga mempengaruhi kebudayaan Nusantara. Menurut ahli bahasa memperkirakan sekitar 2.000-3.000 kosa kata Bahasa Melayu (cikal-bakal Bahasa Indonesia) merupakan serapan dari Bahasa Arab, sebagian masih utuh, sebagian lagi telah mengalami perubahan pengucapan dan makna yang semakin meluas.

Abadi, adat, adil, ahad, ahli, aib, ajal, awal, akhir, akhlak, akrab, alamat, alam, asal, asli, bab, bahas, bathin, batal, bala, dahsyat, daerah, dewan, dunia, hadiah, hadir, hajat, hamil, hasil, huruf ,hina, jadwal, jasad dan banyak merupakan kosa kata yang dalam Bahasa Indonesia yang diserap dari Bahasa Arab.

Saking kuatnya pengaruh kosa kata Bahasa Arab dalam Bahasa Melayu, Frans Van Lith, yang mendirikan Sekolah Kolose Xaverius- sekolah untuk penginjil di Muntilan, hanya mengajarkan Bahasa Belanda dan Bahasa Jawa, hal-hal yang identik dengan Islam dijauhkan termasuk Bahasa Melayu-yang sudah menjadi lingua franca pada massa itu.
Anak anak lelaki yang masuk ke sekolah ini pada awalnya semuanya muslim, tetapi lulus telah menjadi Katolik, tak jarang sebagian dari mereka bahkan studi lanjut untuk menjadi imam.

Sejak masuknya Islam ke Nusantara, Islam sudah benar-benar menyatu dan, berpilin-padu dengan kebudayaan nusantara. Saling mempengaruhi, saling mewarnai dalam hal kebudayaan dan identitas, itu tidak dapat dipungkiri.

Sebelum kedatangan bangsa Eropa, nusantara sudah mayoritas Islam, meskipun Hindu, Budha masih tersisa. Islam bukan hanya sebagai agama spritual namun juga identitas dan kebudayaan masyarakat Nusantara. Identitas Indonesia pra kolonial, Ya Islam.

Keberadaan Islam di Nusantara menghalangi kolonialisasi. Atas saran Indolog, Islam meski dipisahkan dari identitas Nusantara untuk menancapkan kuku penjajahan. Caranya dengan memisahkan identitas nusantara dengan Islam.

Dikorek-korek kejayaan Nusantara pra Islam, kemudian dipoles hingga mengkilap. Majapahit sebelum kedatangan Islam merupakan kejayaan nusantara, dibesar-besarkan cerita tentang Majapahit, Sriwijaya disaat bersamaan ditenggelamkan Kesultanan Demak, Banten, Aceh. Dibangun opini bahwa Nusantara akan lebih maju jika melepaskan identitas Islam, buktinya Majapahit dahulu bisa menguasai tidak hanya Nusantara bahkan hingga Champa dan Madagaskar, padahal tidak ada bukti historis hanya opini orientalis. Dibisikan bahwa Nusantara bisa mencapai kejayaan lagi seperti Majapahit dengan hanya perpaduan kebudayaan Hindu dan modernis Eropa. Bukan Islam yang sudah menjadi identitas masyarakat Nusantara.

Itulah sebabnya sebagian kita kebanggannya terhadap Nusantara lebih tinggi dari pada kebanggaan terhadap Islam. Celakanya lagi pada dekade belakangan kelompok Islam modernis yang mengusung semangat purifikasi untuk memperkuat tuduhan kepada Islam Tradisional mereka mengamini opini yang dibangun oleh orientalis bahwa Islam hanya lapisan paling atas saja dari masyarakat Nusantara sedangkan dalamnya masih Hindu-Budha.

Kolonial telah hengkang namun hasil kerja orientalis ratusan tahun silam masih tersisa hingga hari ini. Contohnya kemunculan Kerajaan-Kerajaan siluman belakangan ini seperti Sunda Empire, Kedaton Agung Sejagat dan lainnya, merupakan bukti nyata hasil kerja orientalis pada massa kolonial. Atau barangkali masih ada yang melanjutkan.


Al Albana, Andalas 21 Dzulkhaidah 1441

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close