Malik ; Si Bujang Jauh

Saat diberitahu bahwa bayi yang baru lahir laki-laki, Haji Rasul terkejut dan kelihatan gembira sekali sambil berkata “sepuluh tahun”
“Apa maksud sepuluh tahun Guru Haji?”, tanya ibu mertuanya.
“Sepuluh tahun dia akan dikirim belajar ke Mekkah, supaya kelak menjadi orang alim pula seperti aku, seperti neneknya, dan seperti nenek-nenek yang terdahulu.

Jalan hidup hanya bisa direncanakan, namun Allah yang menentukan. Takdir sepenuhnya digenggaman Allah. Malik (Hamka kecil) memang tidak diberangkat ke Mekkah pada usia 10 tahun seperti yang diniatkan Haji Rasul saat kelahiran puteranya.

Pertikaian kerap terjadi antara anak dan ayah, terlebih setelah orang tua mereka berpisah. Haji Rasul memiliki beberapa orang isteri selain ibu Malik. Poligami Haji Rasul dan perceraian orang tua membuat Malik traumatik. Barangkali karena itulah Buya Hamka setia kepada Siti Raham binti Endah Sutan. Baru setelah Siti Raham Hamka menikah lagi.

Bukannya giat mengaji pada ayahnya, pada usia 14, Malik telah berkelana ke Djawa. Berguru kepada Cokroaminoto, Ki Bagus Hadikusumo, Suryopranoto dan kakak iparnya yang menjadi ketua Muhammadiyah di Pekalongan Ahmad Rasyid Sutan Mansur.

Dan karena kerap berselisih dan bertikai, hingga Malik lebih memilih berkelana daripada berguru kepada Ayahnya, Haji Rasul menyebut putera tertuanya itu dengan sebutan Si Bujang Jauh.

Malik berangkat ke Mekkah pada usia 19 tahun, itu pun tanpa sepengetahuan ayahnya-Haji Rasul. Malik hanya memberi tahu ayahnya bahwa ia akan berangkat , tapi tidak menyatakan akan tujuannya.
Malik berangkat dengan uang yang dikumpulkan oleh Andungnya (nenek) dari panen kapuk.

Dari Belawan Malik bertolak ke Mekkah.
“Jika tuan Haji pulang, tentu tidak ada niat untuk kembali balik ke Medan lagi ya? Ungkap seorang gadis.
“Ah, tentu saja kembali” jawan Malik.
Saat kakak gadis itu berkata lagi “kembalilah ke Medan, Haji, sebab ada orang yang menunggumu”.

Wukuf di Arafah terjadi di puncak musim panas, banyak jamaah yang wafat, Malik pun tak luput dari serangan hawa panas. Darah mengalir dari hidungnya bahkan hingga tak sadarkan diri. Sampai ia berfikir juga tak akan luput dari maut. Terkenanglah ia akan Abuya dan bunda, serta anduang dan seluruh keluarga. Syukurlah Malik kembali pulih dan menyelesaikan rukun haji.

Tradisi kala itu, selesai melaksanakan seluruh rukun haji, jamaah berkumpul di hadapan syaikh masing-masing. Syeikh akan memasangkan serban dan mengganti nama haji yang diinginkan si empu. Uang seringgit tak lupa melompat ke kantong Syekh setelah prosesi.

Namun Malik tak mau mengikuti ritual itu. “Buat apa? Serban itu bagiku tak perlu, dan nama yang telah diberikan ayahku kepadaku tidak akan kutukar! Ini hanya perbuatan khurafat semua,” kata Hamka membatin.

Saat orang sibuk membicarakan kepulangan, Malik terbelah; mukim atau pulang. Seorang teman menyarankan untuk mukim barang setahun. Malik sempat ragu. Apalagi Hamid, putera Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabauwy, bersedia menampung Malik untuk tinggal dan bekerja pada Percetakan dan Toko buku miliknya.

“Apa yang akan engkau tunggui di sini? Lebih baik pulang. Banyak pekerjaan penting berhubung dengan pergerakan, studi, dan perjuangan yang dapat dikerjakan di Indonesia,” kata Agus Salim pada anak muda yang belum genap 20 itu.

Atas nasehat Haji Agus Salim, Malik kembali berlayar ke Indonesia.

Setelah terapung-apung selama 15 hari di lautan tampak Sabang dari kejauhan.

Malik memang tidak mengganti nama seperti kebiasaan yang dilakukan oleh orang-orang yang telah menunaikan rukun Islam yang ke-5 kala itu. Baginya Abdul Malik Karim Amrullah sebaik-baiknya nama pemberian ayahnya. Ia hanya menambahkan haji di depan nama. Namun untuk menyamarkan gelar haji ia menulis namanya menjadi HAMKA singkatan dari Haji Abdul Malik Karim Amrullah.

Hamka mengawali pergerakan di Indonesia. Diawali dengan pena hingga angkat senjata ketika terjadi agresi mileter Belanda yang ingin menguasai Indonesia kembali.
Hampir seluruh gelar intelektual tersimpul pada dirinya. Tidak hanya ulama, beliau juga Pujangga, Jurnalis, Budayawan, Sejarahwan, Politikus, Filsuf hingga Pejuang.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close