Malik Belajar Mengaji & Sang Penolong

Ketika Haji Rasul pindah ke Padang untuk memenuhi ajakan Abdullah Ahmad dalam berdakwah, serta mengembangkan Majalah Al Munir, Malik ditinggalkan di Maninjau bersama Anduangnya kala itu usia Malik baru 4 tahun. Setelah dua tahun di Padang Haji Rasul pindah ke Padang Panjang, mengajar di Surau Jembatan Besi, kali ini Malik dibawa turut serta.

Memasuki usia enam tahun Malik mulai mengaji Al Qur’an, di rumah kepada kakaknya Fatimah binti Karim. Fatimah binti Karim merupakan kakak Malik sebapak beda ibu. Fatimah puteri Haji Rasul dari Isteri pertama ; Raihanah binti Haji Zakaria yang meninggal di Makkah. Raihanah merupakan kakak kandung dari Safiyah ; Ibu Malik.

Fatimah sangat pemarah dalam mengajari Malik mengaji, acap kali perut, paha Malik kena cubit olehnya apabila Malik tidak paham yang telah diajarkannya, bahkan digigit adiknya itu jika terlalu kesal. Malik bocah enam tahun memang masib ogah-ogahan belajar baca Al Qur’an, pikirannya masih bermain. Yang terjadi Fatimah yang usianya hanya lima tahun dari Malik ini lebih sering menghajar daripada mengajar adiknya baca Al Qur’an.

Setelah dua bulan, Malik masih malas-malas mengaji hingga datang seorang “penolong” yang datang. Seorang anak perempuan seusia Malik, ia pintar tidak pernah kena cubit dan gigit seperti Malik. Khamsinah namanya, mengaji dengan lancar hingga pelajarannya sama dengan Malik. Malik yang sebelumnya malas-malasan menjadi rajin dan bersemangat sejak kehadiran Khamsinah. Ia takut ketinggalan oleh Khamsinah.

Biasanya Malik kecil sehabis Magrib berjamaah di belakang ayahnya di Surau Jembatan Besi, bukannya lansung pulang untuk mengaji dengan Fatimah, ia malah berpetualang, kadang ke depan bioskop di Pasar Usang, Padang Panjang, walau sekadar melihat poster Eddie Polo, kalau beruntung mencuri masuk bioskop, namun sejak kehadiran Khamsinah, pikirannya hanya untuk mengaji saja, tidak terpikirkan lagi keluyuran.

Senja ia bergegas ke Surau, sholat magrib berjamaah di belakang ayahnya. Setelah salam ia bergegas pulang. Sampai di rumah senantiasa didapatinya Khamsinah telah duduk lebih dahulu, di hadapannya terdapat dua Al Qur’an, satu untuk dirinya sendiri sedangkan yang satu lagi untuk Malik. Sejak kehadiran Khamsinah Malik tak pernah lagi dicubit kakaknya. Ayah dan ibunya kerap tersenyum melihat kedua anak-anak itu sama-sama asyik dan bersungguh-sungguh mengaji.

Pernah Malik tidak mendapatkan Khamsinah dirumah selepas sholat Magrib di Surau Jembatan Besi, yang biasanya telah menyiapkan Al Qur’an untuk mereka berdua. Malik tidak bertanya, ia duduk saja dengan malas. Suaranya pelan dan tidak bersemangat. Dia pura-pura tidak mengunggu. Hingga terbuka pintu, khalidin, adik Khamsinah datang memberitahu bahwa Khamsinah tidak masuk mengaji hingga dua hari ke depan karena pulang ke Koto Gadang dengan Kereta Api sore tadi. Lega hati Malik. Selama dua hari Malik tidak melanjutkan pelajarannya. Hanya pelajaran lama diulang-ulang.

Setalah dua hari Khamsinah datang mengaji lagi.
“Sampai dimana kajimu sepeninggalku Malik?”
“Tidak saya sambung”
“Mengapa?”
“Supaya kaji kita sama dan tamatnya pun sama-sama”.

Mereka pun bergiat mengaji, saling mengingatkan dan tolong-menolong saat ujian. Dan akhirnya mereka sama-sama khatam Qur’an, namun tidak seperti Kakaknya Fatimah khatam Qur’an di Maninjau beberapa tahun silam yang diarak keliling kampung dengan bendi, tapi dibacakan do’a bersama oleh Haji Rasul di rumah orang tua Khamsinah. Setalah itu mereka tak pernah berjumpa lagi.

Pada tahun 1954, Malik yang malas-malasan mengaji ketika bocah dulu telah menjelma menjadi ulama tersohor, pejabat tinggi di Departemen Agama. Ia pulang kampung, saat akan kembali ke Jakarta melalui Pelabuhan Emma Haven (Teluk Bayur), ia melihat sosok “penolong” saat mengaji lebih 30 tahun silam. Saat Kapal mulai menaikan sauh terlihat olehnya Khamsinah membimbing seorang anak dan seorang laki-laki, barangkali Suaminya pikir Malik. Mereka berdiri di anggar melambaikan tangan kepada orang-orang yang akan berlayar yang telah berada dalam kapal. Rupanya Malik tidak lupa dengan kawan mengajinya walaupun telah lebih 35 tahun tidak berjumpa, segera Malik bergegas turun menemui sang “penolong” saat mengaki dulu.
“Kau Khamsinah”
Perempuan itu tercengang dan suaminya tersenyum.
“Memang dia Khamsinah, isteri saya”
“Saya Si Malik, kami sama mengaji di Jembatan Besi, Padang Panjang, lebih dari 30 tahun lalu.
Pasangan suami-isteri itu kagum karena kekuagan ingatan Malik. Mereka sangat terharu dan bangga. Mereka saling berjabat-tangan, kepada anaknya diperkenalkan “ini Engku Hamka! Dia adalah mamakmu!

Ternyata Orang Kaya Khamsinah juga sedang melepaskan puteranya untuk melanjutkan pendidikan ke Jakarta.

Peluit kapal berbunyi untuk kali kedua, tangga segera diangkat. Malik kembali ke kapal.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close