Malik Terpuruk & Pencarian Jatidiri

Menginjak usia 12 tahun, Malik merasakan puncak kesedihan. Terpuruk. Pertikaian dengan ayahnya selama ini semakin meruncing. Terlebih sejak ibunya yang selama beberapa tahun belakangan dipoligami oleh Ayahnya, sekarang diceraikan. Sekali-kali ia pulang ke Maninjau untuk lepas kangen dengan ibu dan andaungnya, ia mendapati ibunya mengusap-usap photo ayahnya dengan penuh kasih-sayang dan berderai airmata. Ia pernah menyaksikan ibunya menangis hingga bengkak matanya saat ayahnya menikah lagi

Begitupula sekolahnya tidak ada yang selesai. Sekolah Diniyah yang didirikan oleh Zainuddin Labai El Yunusi dia tinggalkan, Sekolah Sumatera Thawalib pun tidak selesai. Sekolah Rakyat (Sekolah untuk Pribumi pada massa kolonial) telah lama ia tinggalkan. Mengaji pada Ayahnya apalagi, itu yang dia tak suka. Ayah terlalu keras. Baginya hanya belajar…belajar….dan belajar….dan satu lagi bagi Haji Rasul ilmu itu hanya ilmu agama (Islam). Sedangkan Malik senang membaca roman dan menonton bioskop, belajar pencak silat, tari piring, sepakbola, randai,

Malik tidak punya ketertarikan untuk belajar secara formal. Ia lebih senang belajar kepada alam. Malik rela menahan jajan, uang digunakan menyewa buku. Malik senang menonton Pacuan Kuda, Menonton Sepakbola, Menonton di Bioskop, menonton Pencak Silat dan pertunjukan kesenian tradisional. Untuk hal-hal seperti itu baginya biasa saja meninggalkan sekolah. Ia pernah dua minggu tidak masuk kelas. Gurunya di Diniyah Abdul Hamid Engku Mudo, yang merupakan Murid kesayangan Ayahnya datang ke rumah, memberi tahu Ayahnya bahwa Malik telah dua minggu tidak masuk sekolah. Tentu saja tamparan melayang di pipi Malik.

Haji Rasul binggung. Tidak dapat memahami keinginan anak, yang diharapkan untuk menjadi ulama seperti dirinya. Malik pun tidak tahu bagaimana menyenangkan hati ayahnya yang telah menceraikan ibunya. Ia lebih banyak takut dibanding segan atau hormat kepada ayahnya.

Malik berpetualang kemana-mana, untuk menghibur duka, bergaul dengan parena (preman). Meskipun ia tetap tinggal di Padang Panjang bersama Ayah dan Ibu tirinya, ia hanya pulang ke rumah sekali-sekali. Ketika ayahnya sedang tidak di rumah. Kadang ia pulang ke Maninjau menenggok andungnya. Berjalan kaki sejauh 40 Km.

Ia tenggelankan diri di Maninjau dengan belajar silat, randai, pencak, dan Tari Piring hingga mendalam dan mahir. Pernah ia tampil bersikat dengan pisau di gelanggang. Ia menikam betis lawannya hingga tembus, hanya karena lawannya menyombongkan diri ; berkata mampu menyambut pisau walaupun secepat kilat. Ia berkelana ke tempat-tempat pacuan Kuda di Padang Panjang, Bukittinggi hinga Payakumbuh. Didatanginya tempat orang berjudi, menyabung ayam. Semua akibat perceraian orang tuanya. Namun satu hal, Malik tidak sekalipun meninggalkan Sholat dan hanya sekali melepaskan puasa.

Bingung memikirkan anak sulung yang menjadi tumpuan harapannya itu Haji Rasul mengirim Malik mengaji ke Parabek, Bukittinggi. Kepada sahabatnya Syekh Ibrahin Musa Parabek. Malik senang, setidaknya memiliki kebebasan dari pantauan ayahnya yang keras. Tidak terbayang-bayangi oleh kebesaran nama ayahnya.

Malik pintar bergaul, tidak cukup sebulan ditelah kenal dengan seluruh Anak Siak (santri) yang mengaji di Parabek, mulai dari tingkat paling bawah hingga tingkat paling atas. Bukan hanya anak siak, Malik juga berkenalan dengan masyarakat kampung sana, mulai dari remaja hingga orang-orang tua. Bukan hanya di Parabek jajahannya meluas hingga Sungai Tanang, Padang Luar, Kapas Panji, Hingga Guguak Tinggi. Ia datangi ibu-ibu yang tengah bekerja di ladang atau sawah. Dibantunya, lalu pulangnya ia diberi anaka sayuran, seperi Jagung, Kacang. “Bawolah iko ka Surau Malim”, semoga pemberian ambo mambawo berkat ke ladang iko”.

Dasar Malik yang memang tidak mau terkungkung oleh dinding sekolah atau surau. Saat malam kawan-kawannya menghafal pelajaran, ia malah pergi belajar silat kepada Sutan Marajo, Pandeka (Pendekar) Silat yang terkenal.

Setiap Kamis selesai mengaji Malik bergegas ke Durian. Disana ada sebuah pondok yang luas tempat para penghulu, niniak-mamak, datuak-datuak mengadu balam. Mereka duduk dengan pakaian adat kebesaran masing-masing. Memuji balam masing-masing. Malik datang bukan karena tertarik kepada lomba suara balam. Tidak. Malik senang mendengar pidato-pidato adat sebelum dan sesudah perlombaan. Kata-kata yang tersusun indah dan rapi.

Meskipun kata-kata yang diucapkan hanya itu-itu saja setiap pekan, tidak ada tambahan, tidak ada yang baru, tapi tetap menyenangkan bagi Malik. Belum puas, didatanginya penghulu yang yang pandai Pidato adat, Ia bawa pena, dicatatnya petatah-petitih, pidato adat itu, hingga dihafal olehnya. Hingga ia mahir pidato adat. Dipelajarinya adat-istiadat secara mendalam Dan akhirnya mamaknya (paman dari garis ibu) Datuak Rajo Endah senang dan bangga kepada kemenakannya, lalu dinobatkan sebagai Datuak dengan gelar Datuak Indomo.

Haji Rasul tentu tidak senang baginya hanya satu, Malik mesti jadi ulama seperti dirinya. Namun ia tidak berdaya. Ia sadar Malik kecewa kepadanya karena telah menceraikan ibu Malik.

Malik hanya bertahan delapan bulan mengaji di Parabek. Malik yang sering nongkrong di Lapau tergiur mendengar kisah-kisah petualangan para perantau di negeri-negeri jauh yang sering maota (ngobrol) di lapau. Dan pula Malik yang gemar membaca, pernah membaca buku Keliling Dunia Dengan Uang Sepuluh Sen. Malik ingin berpetualang. Ia hendak menyeberang lautan. Ia hendak mengembara ke Jawa. Tanpa sepengetahuan Ayahnya. Namun sayang, pengembaraannya hanya sampai Bengkulu. Dia terserang cacar. Deman tinggi. Sakit selama dua bulan. Hingga bintik-bintik seluruh tubuh hingga wajahnya. Sehingga ia diledek Si Muka Tai Kerbau. Pemuda 14 tahun ini terpaksa kembali pulang.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close