ATAS RUNTUHAN MELAKA LAMA

Karya ; Hamka

Di atas runtuhan Melaka lama
Penyair termenung seorang diri
Ingat Melayu kala jayanya
Pusat kebesaran nenek bahari

Di atas mungu yang ketinggian
Penyair duduk termenung seorang
Jauh pandangku ke pantai sana
Ombak memecah di atas karang

Awan berarak mentilau bernyanyi
Murai berkicau, bayu merayu
Kenang melayang ke alam sunyi
Teringat zaman yang lama lalu

Sunyi dan sepi, hening dan lingau
Melambai sukma, melenyai tulang
Arwah Hang Tuah rasa menghimbau
Menyeru umat tunduk ke Tuhan

Di sini dahulu alat kebesaran
Adat resam teguh berdiri
Duduk semayam Yang dipertuan
Melimpah hukum segenap negeri

Di sini dahulu Laksamana Hang Tuah
Satria moyang Melayu jati
Jaya perkasa, gagah đan mewah
“Tidak Melayu hilang di bumi. “(4)

Di sini dahulu payung terkembang
Megah Bendahara Seni Maharaja
Bendahara yang cerdik tumpuan dagang
Lubuk budi laut bicara

Penyair menghadap ke laut lepas
Selat Melaka tenang terbentang
Awan berarak riak menghempas
Mentari turun rembanglah petang

Wahai tuang Selat Melaka
Mengapa tuan berdiam diri
Tidakkah tahu diuntung hamba
Hamba musafir datang kemari

Dimana Daulat Yang Dipertuan
Mana Hang Tuah, mana Hang Jebat
Mana Bendahara Johan Pahlawan
Bukankah jelas di dalam babad

Namanya tetap jadi sebutan
Bekasnya hilang payah mencari
Hanya sedikitit bertemu kesan
Musnah dalam gulungan hari

Hanyakah ini bekas yang tinggal
Umat yang lemah terkatung-katung
Hidup menumpang tanah terjual
Larat wai larat dipukul untung

Adakah bekas peninggalan
Belahan diriku umat Melayu
Lemah dan lunglai tiada karuan
Belahan diriku umat Melayu

Jauh di daray penyair melihat
Gunung Ledang duduk termangu
Tinggi menjulang hijau dan dasyat
Hiasan hikayat nenekku dulu

Di dalam kuasyik merenung gunung
Di dalam kemilau panas ‘kan petang
Tengah khayal dirundung menung
Rasanya ada orang yang datang

Penyair hanya duduk sendiri
Tapi keliling rasanya ramai
Bulu romaku rasa berdiri
Berbuah warna alam yang permai

Ada rasanya, bisikan sayu
Hembus angin di Gunung Ledang
Entah putri datang merayu
Padahal beta bukan meminang

Bukankah hamba Sultan Melaka
Jembatan emas tak ada padaku
Kekayaan hanya syair geloka
Hanya nyanyian untuk bangsaku

Tiba-tiba terdengar putri berkata
Suaranya halus masuk ke sukma
Makşudmu tuan sudahlah nyata
Hendak mengenang riwayat yang lama

Bukan kuminta jembatan emas
Tapi nasihat hendak kuberi
Kenang-kenangan roman yang lepas
Ikhtibar cucu kemudian hari

Sebelum engkau mengambil kesimpulan
Sebelum Portugis engkau kutuki
Inggris Belanda engkau cemarkan
Ketahui dulu salah sendiri

Sultan Mahmud Syah mula pertama
Meminang diriku ke Gunung Ledang
Segala pintaku baginda terima
Darah semangkuk takut menuang

Adakan cita akan tercapai
Adakan hasil yang diingini
Jika berbalik sebelum sampai
Mengorbankan darah tiada beranı

Apakah daya Datuk Bendahara
Jikalau Sultan hanya tualang
Memikir diri seorang saja
Tidak mengingat rakyat yang malang

Sultan Ahmad Syah apalah akalnya
Walaupun baginda inginkan syahıd
Mualim Makhdum lemah imannya
“Di sini bukan tempat Tauhid”

Bendahara Tua Paduka Raja
Walaupun ingin mati berjuang
Bersama hilang dengan Melaka
Anak cucunya hendak ları pulang

Berapa pula penjual negeri
Mengharap emas perak bertimba
Untuk keuntungan diri sendiri
Biarlah bangsa menjadi hamba

Ini sebabnya umat ‘kan jatuh
Baik dahulu atau sekarang
Inilah sebabnya kakinya lumpuh Menjadi budak belian orang

Sakitnya bangsa bukan di luar
Tetapi terhunjum di dalam nyawa
Walau diobat walau ditawar
Semangat hancur apalah daya

Janjian Tuhan sudah tajalli
Mulailah umat yang teguh iman
Allah tak pernah mungkirkan janji
Tarikh riwayat jadi pedoman
Tidaklah Allah mengubah untung
Suatu kaum dalam dunia
Jika hanya duduk termenung
Berpeluk lutut berputus asa

Malang dan mujur nasibnya bangsa
Turun dan naik silih berganti
Terhenyak lemah; naik perkasa
Bergantung atas usaha sendiri

Riwayat yang lama tutuplah sudah
Apakah guna lama terharu
Baik berhenti bermenung gundah
Sekarang buka lembaran baru

Habis sudah madahnya putri
la pun gaib khayal pun hilang
Tinggal penyair seorang diri
Di hadapan cahaya jelas membentang

Pantai Melaka kulihat riang
Nampaklah ombak kejar mengejar
Bangunlah tuan belahan sayang
Seluruh Timur sudahlah sadar

Becermin pada sejarah moyang
Kita sekarang mengubah nasib
Di zaman susah ataupun riang
Tolongan tetap dan yang Gaib

Bangunlah kasih umat Melayu
Belahan asal satu turunan
Bercampur darah dan dahulu
Persamaan nasib jadi kenangan

Semangat yang lemah dibuang jauh
Jiwa yang kecil kita besarkan
Yakin percaya, iman pun teguh
Zaman hadapan, penuh harapan

Bukanlah kecil golonganmu tuan
Tujuh puluh juta Indonesia
Bukan sedikit kita berteman
Sudahlah bangun bumi Asia

Kutarik napas, kukumpul ingatan
Aku pun tegak dari renungku,
Jalan yang jauh aku teruskan
Melukis riwayat safhat hidupku

Kota Melaka tinggallah sayang
Beta nak balik ke Palau Perca
Walau terpisah engkau sekarang
Lambat launnya kembali pula

Walaupun luas lautan terbentang
Danau Maninjau terkenang jua

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close