Pandangan Hamka Terhadap Seni

Beribu kali Soekarno berpidato menggembleng persatuan bangsa Indonesia. Dua puluh tahun lamanya. Padahal W.R. Supratman hanya sekali mengarang lagu Indonesia Raya. Meskipun bagaimana, Soekarno tidak ada (punya) waktu datang ke da dusun-dusun yang terpencil, ke pulau-pulau kecil yang berserak di Nusantara ini (untuk bersafari politik dalam rangka menyemai semangat kemerdekaan). Akan tetapi, itu tidak mengapa sebab Lagu Indonesia Raya gubahan Supratman telah datang ke sana lebih dahulu menggelorakan semangat Persatuan.

Pidato Sukarno hanya didengar oleh para peserta rapat akbar dan orang-orang yang sudah bisa mengakses radio, mampu membeli koran pada waktu itu. Kebanyakan kaum intelektual. Pidato Soekarno tidak menjangkau rakyat biasa, petani, nelayan, buruh yang merupakan kelompok terbesar terbesar rakyat saat itu.

Lalu siapakah yang menanamkan semangat kebangsaan ke pulau-pulau terpencil, ke dusun-dusun di pedalaman, rakyat yang tidak punya akses terhadap informasi. Mereka yang tidak berlangganan koran dan yang tidak punya radio ?
Tanpa mengecilkan pidato Soekarno lagu Indonesia Raya mampu menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Dari Kota hingga pelosok desa, lagu Indonesia Raya telah dinyanyikan oleh anak-anak muda, membuka jalan tentang apa itu kebangsaan dan kisah heroik tentang sosok Sukarno.

Namun, seniman lebih sering bernasib malang, hilang di ombak zaman. Orang telah membagi-bagi pusaka (kekuasaan setelah merdeka), tampil di mana-nama, mendapat kursi (jabatan), seniman tetap di alamnya sendiri dan akan tampil ke hadapan juga dengan hati gembira bilamana keadaan menghendaki, di desak oleh rasa seninya pula. Tulis Hamka dalam Buku Kenang-Kenangan Hidup.

Begitulah cara seniman bekerja, karena seniman itu adalah pemujuk tangis atau penimbul air mata, penggubah bahasa, pengobat rindu dan dendam, pencipta perasaan umum, pecinta keindahan.

Di samping itu, seniman adalah kepala pemberontak, penumbang kekuasaan yang lama, perintis jalan baru, pemuja alam, dan pengabdi tuhan.

Seniman adalah manusia. Karena seninya jelas kemanusiaannya, bahwa dia bukan tuhan, bukan malaikat, dan bukan pula setan. Dia dipaksa oleh maunya atau tidak maunya, oleh satu kekuasaan yang menguasainya dirinya untuk menyatakan keadilan dan kebenaran. Kadang sebagai lilin, yang dirinya sendiri hangus, untuk memberi cahaya kepada orang lain. Sendi dari semuanya ialah kemerdekaan jiwa dan bebas dari pengaruh duniawi, pengaruh maddah (benda, material) dalam mengabdi keindahan.

Begitulah pandangan Buya Hamka terhadap seni. Selain dekat dengan ulama, Hamka banyak bergaul dengan seniman. Bahkan beliau juga pujangga ; penyair dan penulis roman, serta penggemar film. Hamka pernah diledek sebagai ulama cabul karena kebiasaanya menonton film di bioskop setiap pekan.

Hamka pernah bergaul dengan Chairil Anwar. Meskipun tidak menyukai gaya hidup Chairil yang bohemian, namun tak mengurangi Hamka dalam mengapresiasi puisi Chairil. Hamka juga mengagumi Jose Rizal, penyair yang memimpin perjuangan bangsa Philipina.

Tentu saja yang diapresiasi Hamka adalah seni dalam artian yang sesungguhnya. Bukan pornografi, pornoaksi atau kata-kata cabul yang dibungkus seni, dalam mengejar materi.

Dari buku-buku karya Hamka, tulisannya merupakan cerminan ketajaman, kejernihan dan kedalaman pemikiran seorang filsuf serta kehalusan bahasa seorang seniman. Selain ulama Hamka juga seorang filsuf dan seniman.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close