Politik Bahasa ; Menjauhkan Bahasa Indonesia dari Dasar dan Akarnya

Pada kongres Bahasa Indonesia di Medan tahun 1954 telah diputuskan bahwa Bahasa Indonesia berasal dan berdasar pada Bahasa Melayu. Dengan keputusan ini, jelas bahwa betapapun berkembang luasnya pemakaian Bahasa Indonesia, tetapi tak boleh melupakan dari mana asal bahasa yang mereka pakai, yaitu salah satu diantara beraneka suku bangsa ini, yaitu bangsa Melayu. Asal mula datangnya dari Jambi, lalu tersebar di pesisir timur dan barat pulau Sumatera, hingga ke Tanah Semenanjung (Malaysia, Singapura dan Pattani).

Ditegaskan lagi pada konres itu, selain berasal dari Bahasa Melayu, dan dia pun tetap berdasarkan kepada Bahasa Melayu. Maksudnya kaidah, “nahwu sharaf-nya harus berdasarkan Bahasa Melayu. Boleh ditambah namun tak boleh diubah. Itulah ketentuannya dahulu.

Ketika diikrarkan pada Sumpah Pemuda tahun 1928 ‘berbahasa satu bahasa persatuan Bahasa Indonesia’, sekali-kali bukanlah menciptakan atau melahirkan suatu bahasa yang baru. Melainkan hanya sebatas memberi nama yang baru bagi Bahasa Melayu yang telah digunakan beratus-ratus tahun sebelumnya, di gugusan pulau-pulau nusantara dan tanah semenanjunh.

Bahasa Melayu sebelum diikarkan dan diubah namanya menjadi Bahasa Indonesia sudah menjadi lingua franca bagi masyarakat yang mendiami Nusantara. Bahasa pengantar, bahasa pergaulan. Bahasa Melayu hanyalah salah satu dari sekian banyak bahasa yang dituturkan di nusantara kala itu. Ada Bahasa Djawa yang penuturnya berkali-kali lipat Bahasa Melayu. Ada Bahasa Sunda, Bahasa Madura, Bahasa Ambon, Bahasa Bugis, Bahasa Ambon dan banyak lainnya. Namun hebatnya Bahasa Melayu, telah menjadi bahasa pengubung anttar pulau jauh sebelum diikrarkan pada Sumpah Pemuda. Beratus tahun sebelumnya. Jika utusan Kerajaan Mataram datang ke Aceh terpaksa menggunakan Bahasa Melayu. Saudagar-saudagar entah Arab, Portugal, Belanda, Inggris, Benggala, Aceh yang berniaga di Pelabuhan-pelabuhan Nusantara seperti Pelabuhan Pasai, Sibolga, Banten, Demak, Tuban, Gresik, Ternate mereka berkomunikasi dalam Bahasa Melayu dengan aksara Arab Melayu.

Pemerintah kolonial secara pelan-pelan meminggirkan akrasa Arab Melayu. Karena mereka takut, aksara melayu sangat dekat dengan kebudayaan Islam. Mengganti dengan aksara latin. Hingga tahun 1930, Aksara Arab Melayu masih mendominasi bahasa tulis di Nusantara, sedangkan di Malaysia penggunaan aksara Arab Melayu hingga tahun 1960. Setelah itu aksara Arab Melayu tersingkir. Orang-orang tak sanggup lagi membaca dan menulis dalam aksara Arab Melayu. Aksara latin yang dibawa penjajah menggantikannya.

Bahkan setelah merdeka pun, bangsa ini lupa akan kekayaan yang pernah mereka miliki ; Aksara Arab Melayu. Padahal banyak literatur yang ditulis oleh cendikian melayu pada massa lalu dalam aksara Arab Melayu. Kekayaan intelektual yang diwariskan kepada kita semua.

Ada beberapa akibat buruk dari penukaran aksara Arab Melayu menjadi Latin. Antara lain ;Terputus hubungan generasi yang datang kemudian dengan perbendaharaan pemikiran nenek moyang mereka. Saat ini jika ingin tahu tentang Aceh tempo dulu terpaksa menuruti apa-apa yang ditulis oleh Snouck Horgranje, ingin tahu tentang Hamzah Fansuri baca buku yang ditulis oleh Doorenbos. Abdul Kadir Munsyi, Raja Ali Haji, Tuangku Imam Bonjol kita mesti datang ke Belanda untuk membaca karya-karyan Orientalalis tentang mereka. Indolog yang mengkaji Nusantara untuk kepentingan kolonialisme. Objektifitas mereka tentu mesti diragukan.

Di Tanah Semenanjung, setidaknya perlakuan terhadap Bahasa Melayu sedikit lebih baik dibandingkan dengan Nusantara. Mereka belum membuang huruf jawi (sebutan untuk huruf Arab Melayu). Penulis-penulis di sana untuk memperkaya kosa-kata Bahasa Melayu lebih mengutamakan Bahasa Arab terlebih dahulu sebelum mencari bahasa lain. Karena memang pengaruh Bahasa Arab sangat kuat pada Bahasa Melayu. Misalnya iktisad untuk ekonomi, siasat untuk politik, tahniah untuk ucapan selamat, takziah untuk kematian.

Sedangkan di Indonesia upaya-upaya menyingkirkan asal dan dasar Bahasa Indonesia yaitu Bahasa Melayu semakin hari-semakin terasa. Secara halus dan pelan, namun pasti. Misalnya untuk setiap penambahan lema baru ke dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) hampir selalu dimasukan kosa kata Bahasa Jawa, bukan mencari ke akarnya terlebih dahulu yaitu Bahasa Melayu.

Kita sudah jarang mendengar kata tamasya karena sudah diganti dengan wisata, belasungkawa untuk takziah. Wisata, belasungkawa berasal dari Bahasa Jawa.
Seakan tersirat hendak melepaskan dendam terpendam puluhan tahun silam, mengapa Bahasa Melayu yang menjadi Bahasa Persatuan bukan Bahasa Jawa yang penuturnya jauh lebih banyak daripada Bahasa Melayu. Sejak tahun 1950, terlihat Bahasa Indonesia semakin menjauh dari asal dan dasarnya yaitu Bahasa Melayu. Apalagi sekarang bandingkan dengan dengan Bahasa Melayu yang dituturkan oleh saudara kita di Malaysia.

Sekali lagi ikrar Sumpah Pemuda tahun 1928 hanyalah penggantian nama dari Bahasa Melayu menjadi Bahasa Indonesia. Sedangkan Bahasanya sudah ada yaitu Bahasa Melayu. Bukankah orang berganti nama, orangnya (jasadnya) tidak diganti hanya namanya yang diganti.

Singkatnya, jika kita cermati dengan teliti, tampak dengan jelas sekali bagaimana politik bahasa dijalankan. Awalnya penukaran huruf Arab Melayu menjadi Latin, dengan maksud menyingkirkan pengaruh bahasa Arab, dalam Bahasa Melayu untuk kepentingan kolonialisme.

Sampai ” buang huruf Arab dan pengaruh Arab! Ganti dengan huruf nasional”. Lha memang kita punya huruf nasional? Barangkali yang mereka maksud huruf latin. Ya import-import juga.

Belum puas menyingkirkan Aksara Arab-Melayu, karena pengaruh Bahasa Arab tidak hanya di aksara tapi sudah masuk ke dalam bahasa. Konon khabarnya hingga 3.000-5.000 kosa-kata Bahasa Melayu–yang berganti menjadi Bahasa Indonesia–berasal dari Bahasa Arab. Saat semangat revolusi meledak-ledak ejaan baru konon katanya lebih nasional, huruf ‘ain wajib dihilangkan seperti penulisan ni’mat menjadi nikmat, dengan alasan lebih sesuai dengan lidah nusantara. Padahal jika ditulis dalam aksara Arab-Melayu antara Ni’mat dengan Nikmat mengandung arti yang berbeda; ni’mat artinya anugerah dari ilahi, sedangkan nikmat berarti kutukan ilahi.

Kedua negara yang bersaudara dan bertetangga ini dulu dekat, karena berasal dari akar yang sama. Bangsa dan bahasa yang sama ; Melayu. Di Indonesia bersalin nama menjadi Bahasa Indonesia disebut sebagai bahasa persatuan, sedangkan di semenanjung Malaysia masih menggunakan nama aseli yaitu Bahasa Melayu dinamakan sebagai bahasa kebangsaan. Namun semakin hari semakin menjauh. Awalnya Bahasa yang dijauhkan, lambat laun rasa persaudaraan berjarak. Bertikai sedikit ; Ganyang. Teriak perang. Asah golok. Dengan bumbu nasionalisme sempit.


Ilustrasi ; Aksara Arab-Melayu

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close