MALIK BERKELANA KE DJAWA & PENGARUHNYA

Gagal berkelena ke Djawa dua tahun lalu akibat terserang cacar, sehingga perjalanannya terhenti sampai di Bengkulu, Malik semakin penasaran dengan perkembangan pemikiran dan pergerakan di Tanah Djawa. Kini usianya telah 15 tahun. Ia terpesona akan kehebatan kawan-kawannya di International Debating Club, Thawalib Sumatera. Haji Dt. Batuah, Natar Zainuddin telah kembali dari lawatan mereka ke Tanah Djawa. Mereka membawa paham komunis. Paham baru itu disebarkan di kalangan murid-murid Thawalib.

Sejak jauh hari ayahnya, Haji Rasul telah mengingatkan Malik akan kekeliruan paham komunis, agar Malik tidak terpapar oleh paham baru ini, namun di sisi lain disaksikannya Haji Dt. Batuah, Natar Zainuddin sangat mahir menggunakan ayat-ayat Al Qur’an untuk menentang penindasan kolonial Belanda.
Malik percaya kepada yang disampaikan Ayahnya, namun ia juga tak menyangkal dan terpesona akan kehebatan Haji Dt. Batuah cs dalam menentang penindasan penjajah. Malik penasaran. Maka tekadnya untuk berlayar ke Djawa semakin bulat.

Jika pengembaraannya dua tahun silam tanpa sepengetahuan ayahnya namun kini ia minta restu dari Haji Rasul. Malik mengutarakan niat kepada ayahnya.
“Hamba hendak ke Djawa abuya!”
“Mengapa engkau hendak ke sana?”
“Menuntut ilmu”
“Ilmu apa yang akan kau tuntut di sana? Kalau perkara agama bukan di Djawa tempatnya, tetapi di sini, di Minangkabau ini. Entah kalau pergi kepada iparmu (A.R. Sutan Mansur) di Pekalongan”.
“Memang itulah maksud ananda”
“Umurmu kini telah 15 tahun, menurut agama, lepaslah kewajiban ayah, namun kalau engkau hendak bekajar agama, belajarlah di sini, di Padang Panjang supaya turun segenap ilmuku kepadamu. Kitab-kitab yang banyak ini, siapa yang akan menyambut dan membacanya, kalau bukan engkau?”
Ada rupanya terlihat di wajah anaknya suatu kekerasan yang tidak dapat dibantah, keras hati yang diwariskan olehnya.
Pendirian ayah tidak berubah. Engkau telah baligh, telah lebih 15 tahun umurmu. Engkau sudah dapat menimbang sendiri. Kalau tidak dapat dihalagi lagi berangkatlah!”

Malik berangkat ke Tanah Djawa dengan restu ayah, angku dan anduangnya.

Sampai di Djawa. Di Jogja Malik mengikuti kursus-kursus yang diselenggarakan Syarikat Islam. Dari Cokroaminoto, Malik belajar Sosialisme Islam. Dijelaskan oleh Raja Djawa tanpa mahkota itu terlebih dahulu teori Marx dengan cara populer, kemudian diteruskan tentang sosialisme dalam ajaran Islam. Malik belajar tafsir kepada Ki Bagus Hadikusumo. Dari R.M. Suryopranoto yang dijuluki sebagai Raja Mogok Malik belajar Sosiologi, kepada H. Fakruddin, Malik belajar Worldview (Filsafat Islam) Islam lebih luas.

Dari Jogja Malik melanjutkan pengembaraan ke Pekalongan. A.R Sutan Mansur yang dituju. Kakak iparnya itu menjadi konsul Muhammadiyah di Pekalongan. Malik pun belajar kepadanya, selama 6 bulan.

Tanah Djawa membelalakan mata Malik. Ditemukan hal-hal yang tak dilihatnya di Minangkabau. Di Minangkabau tidak ada pertentangan Islam dengan agama dan kepercayaan lain. Sebab itu, orang Minangkabau, terutama ulama tidak terdesak untuk memperdalam penyelidikan atas agama untuk memperteguh tegaknya melawan zending kristen atau klenik djawa. Karena itulah di Minangkabau perdebatan soal agama terjadi dalam internal Islam, antara Ulama Kaum Mudo, progresif yang mengusung semangat pembaharuan vs berhadapan dengan Ulama kaum Tuo yang jumud. Perdebatan seputar fikih yang tidak urgent, misalnya masalah Ushalli, bismilah dijahr atau sir, qunut subuh, tahlil.

Di Djawa dilihatnya kolonialisme benar-benar telah menghisap darah rakyat, sedangkan di Miangkabau kala itu masyarakat masih lumayan senang. Tidak ada rakyat yang tidak punya tanah, semiskin-miskin orang masih punya sawah dan ladang.

Berbeda dengan di Minangkabau Ulama-ulama lebih banyak membahas perbedaan fikih, sedangkan di Djawa Islam telah menjelma menjadi semangat perlawanan terhadap kolonialisme, berdiri paling depan melindungi ummat dari penindasan, menghadang misi zending kristen yang mendapat dukungan dari penjajah kolonial dan residen Djogja. Di Jawa Islam tidak hanya sebatas fikih, ibadah ritual seperti di Minangkabau. Di Djawa Islam telah melebur menjadi semangat perlawanan terhadap penjajanhan.

Satu hal penting lagi yang Malik dapatkan di Djawa, komunis yang dilihatnya di Minangkabau belumlah komunis sesungguhnya. Kekerasan sikap mereka menentang kolonial dengan menggunakan ayat-ayat Al Qur’an dan Hadist, sebenarnya sama seperti ceramah-ceramah Tokoh-tokoh Syarikat Islam, seperti Cokroaminoto, R.M Suryopranoto. Sosialisme Islam. Sosialisme bukan semata mata hanya monopoli di Marxis. Di Islam juga ada sosialisme. Jadi komunis Minang sebenarnya orang islam yang kuranh pengetahuan dan penyelidikan, sehingga terperosok ke dalam komunis. Mereka yang terpesona dan menyangka sosialisme hanya ada dalam ajaran Marxis. Apalagi yang paling anti kepada penjajah Belanda saat itu adalah komunis.

Belum dua tahun mengembara di Tanah Djawa, pada Juni 1925 Haji Rasul melawat ke Djawa pula. Ayah dan anak itu berjumpa di Pekolongan, Malik disuruh pulang ke Minangkabau.

Berbekal ilmu dan pengalaman selama mengembara di Djawa Malik kembali ke Minangkabau. Malik makin mahir berpidato. Pidatonya semakin berisi. Pidato politik, tapi bukan komunis. Pidatonya juga tak kalah keras dibanding tokoh-tokoh komunis dalam menentang kolonial.

Pada masa itu, Muhammadiyah mendirikan sekolah di Maninjau, dengan pengalaman yang didapat selama ini ditambah ilmu yang didapatkan selama mengembara di Djawa Malik merasa pantas dan melamar menjadi guru. Namun lamarannya ditolak karena Malik punya selembar pun ijazah, Malik tidak pernah menyelesaikan sekolah apapun juga. Sekolah Rakyat ditinggalkannya, Sumatera Thawalib tidak ditamatkannya, begitu pula mengaji di Parabek tidak selesai. Bukan main sakit hatinya, ketika itu. Semua orang dipandangnya musuh. Disangkanya semua orang benci kepadanya. Yang tetap sayang kepadanya hanga dua ; Anduangnya (nenek) dan buku-buku catatannya.

Malik terpuruk, Gadis yang dijodohkan ayahnya sejak kecil dengannya telah lama menikah. Janji Ayahnya yang akan mengirimnya belajar ke Mekkah pada usia 10 tahun telah tak pernah dibicarakan, Gadis di Padang Panjang akan segera menikah. Dan kini lamaran mengajar di Muhammadiyah ditolak.

Ia akan pergi meninggalkan Kampuang halaman, lepas dari lingkaran bukit-bukit Danau Maninjau. Ia ingin pergi jauh, lebih Lebih jauh dari Djawa, ke mana?
Ke Mekkah, berhaji dan menuntut ilmu.


KenangKenanganHidup

Hamka

hamka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close