Ujung Dari Ilmu Pengetahuan Adalah Permulaan Keyakinan

Sepintas seperti buku ajar murid SD atau SDIT. Namun P di sini singkatan dari Pelajaran, sedangkan P pada buku ajar SD atau SDIT singkatan dari Pendidikan.
Beberapa kali buku ini muncul sebagai rekomendasi saat saya log in di market place atau saya memasukkan kata kunci Hamka untuk kategori buku, namun saya acuhkan, karena judulnya kurang menarik dan sepintas seperti buku pelajaran agama di sekolah. Baru setelah membaca resensi buku ini di Goodreads, ternyata isinya berat dan berisi. Bertolak belakang dengan judulnya yang ringan. Dan lalu saya membeli buku ini secara daring.

Dalam buku ini Hamka membincang rukun iman dalam bingkai dalil sekaligus dengan akal. pendekakan iman dan penalaran filsafat.
Hamka mengawali buku ini dengan membahas eksistensi tuhan. Keberadaan tuhan. Pendekatan antropologis. Mulai dari beraneka ragam penyembahan oleh manusia pra sejarah. Ada yang menyembah ; hutan, gunung, sungai, danau, laut hingga bintang, bulan dan matahari. Saat mulai bercocok tanam manusia mulai menyembah tanah. Sedekah laut atau gunungan merupakan pengejawantahan bahwa sepurba apapun peradaban secara naluriah manusia sudah mengakui adanya tuhan, dan selalu mendekatkan diri dengan zat yang mahaberkuasa itu, dengan pelbagai ragam pemyembahan.

Kemudian dipaparkan pandangan para filsuf terhadap tuhan, baik filsuf era Romawi Kuno hingga filsuf Islam dan Eropa Modern.

Dalam buku ini, Filsafat Ketuhanan, iman dalam arti yang sebenarnya bukan hanya meyakini, menerima, dan melakukan. Akan tetapi dominan pada aksi untuk mencari tahu secara dalam. Perjalanan akal adalah harga mati dalam dimensi ini. Akal harus dijalankan hingga menemukan titik pemberhentian. Dan di titik itulah iman akan benar-benar menjadi iman. Begitu pula dengan Ibrahim, Ibrahim baru menemukan titik pemberhentian itu selepas berinteraksi langsung dengan alam lewat dimensi pikirannya.

Titik pemberhentian di sini dimaksudkan adalah keadaan dimana akal tidak lagi bisa menjangkaunya. Mengapa ombak berdebur? Karena udara. Mengapa udara bergerak? Karena hawa panas. Dari mana datangnya panas? Karena matahari. Siapa yang meletakkan panas pada matahari? Tidak ada jawaban. Kira-kira itulah inti dari pembahasan ini versi Hamka.

Hamka memberi demarkasi yang jelas antara agama dan filsafat. Meski sama-sama memposisikan diri sebagai jalan kebenaran agama dan filsafat jelas berbeda. Agama melandaskan segala sesuatunya kepada keyakinan akan Yang Maha Esa (melalui tuntunan ayat-ayat Kitab Suci), sedangkan filsafat kepada penalaran manusia (melalui akal).

Bagi agama, selain segala sesuatu yang relatif, ada ‘Yang Mutlak’ yang berlaku untuk segala sesuatu lainnya yang relatif tersebut. Bagi filsafat, semuanya relatif, sebuah argumen harus dianggap gugur jika ada argumen lain yang mampu membantahnya.

Agama mengakui ada hal-hal jauh di luar kuasa akal sehingga satu-satunya cara untuk ‘menjangkaunya’ adalah dengan iman. Filsafat jelas tidak bisa menjadikan iman sebagai landasan argumen karena ini berarti mengkhianati ‘ruh’ filsafat itu sendiri.

Dalam buku ini, Hamka membahas keyakinan (baca: Rukun Iman) melalui pendekatan ala filsafat. Dengan mengacu kepada Al-Quran, ia berargumen bahwa manusia–sang mahluk pencari kebenaran itu, mau tidak mau akan tertumbuk pada Kebenaran yang tidak bisa dibenar-benarkan lagi. Tak bisa dijangkau oleh akal, itulah yang dinamakan iman. Al Kindi (801-873 H), seorang ilmuan dan filsuf muslim berujar “ujung akhir dari ilmu pengetahuan adalah permulaan dari keyakinan”.

Saya tertatih-tatih membaca buku ini. Sering mengambil jeda, tiap sebentar berhenti untuk mencerna lebih dalam kalimat demi kalimat, paragraf demi paragraf, halaman demi halaman hingga bab demi bab. Saya yang lamban dalam membaca dan “membaca-baca” baru menyelesaikan jilid satu. Saya terpesona dengan keluasan dan kedalaman Hamka. Seorang ulama modernis Islam, penguasaan kitab-kitab klasiknya juga tidak kalah dibandingkan dengan ulama-ulama tradisional. Dan saya terperangah penguasaan Hamka mengenai filsafat.

Sambil menimang-menimang buku ini, sebelum melanjutkan jilid 2 dan 3, saya berfikir seandainya buku ini ada versi Bahasa Inggris, dan Empat Penunggang Kuda New Atheis; Richard Dawkins, Christoper Hitchens, Sam Harrris dan Daniel Dennet membacanya barangkali ilmuan ini berhenti menjadi “Rasul” atheis. Berhenti menyerang agama.
Bagaimana tidak? Hamka yang bukan seorang saintis natural (ahli ilmu pengetahuan alam) hanya mengetahui sedikit tentang sains natural bisa memberikan hujjah tentang keberadaan tuhan dengan pendekatan ilmu alam. Sedangkan mereka para “rasul” New Atheis ini, ilmuan yang menguasai segala macam ilmu natural : biologi, fisika, kimia, astronomi dan banyak lainnya, tapi kok bisa gagal menemukan tuhan.
Semoga mereka bukan gagal tapi belum menemukan tuhan dengan ilmunya.


Al Albana, Andalas, 13 Muharram 1442

Kategori Buku, Tokoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close