Sengketa Tak Kunjung Usai Anak-Cucu Ideologis Masyumi & PNI

Muhammad Yunus Anis, kecewa dengan perolehan suara Masyumi untuk daerah Jogja, namun senang dengan perolehan suara Masyumi di Sumatera Barat berada pada posisi pertama dengan 49 % suara diikuti oleh Perti dan PKI pada posisi 2 dan 3.
Saya sudah lupa percis kalimatnya yang ditulis Hamka pada buku Muhammadiyah dan Minangkabau. Singkatnya Muhammad Yunus Anis, ketua PP Muhammadiyah 1959-1962. Ingin pindang ke Minangkabau yang dianggapnya negeri Islami. Barangkali hanya sebatas pernyataan dari seorang politisi yang tengah kecewa.

Diakui atau tidak, hingga hari ini kita mewarisi perseteruan tiada usai antara kaum Nasionalis (PNI) dengan Masyumi (Islam).
Di Konstituante, perdebatan Intelektual yang alot dan sengit antara Muhammad Natsir dkk mewakili kalangan Islam vs Muhammad Yamin cs mewakili kaum Nasionalis (boleh juga dibaca Seokarnois) dalam menyusun Undang-Undang Dasar yang lebih lengkap dan menyeluruh yang diharapakan untuk menyempurnakan UUD Dasar 1945.

Menilik lebih jauh lagi, polemik mengenai bentuk dan dasar negara telah berlansung sejak bayi NKRI ini belum lahir, masih dalam rahim. Sejak sidang-sidang BPUPKI pada bulan april-agustus 1945. Gagasan Islam atau Pancasila yang menjadi dasar negara telah mencuat. Jika dikerucutkan lagi menjadi NKRI Sekuler atau NKRI Syariah. Indonesia negara agama (Islam) atau Indonesia negara Sekuler. Semua bukan wacana belakangan ini namun sudah ada sejak dulu kala. Kita hanya mewarisi.

Masing-masing kubu membangun narasi sendiri untuk kepentingan kelompoknya. Terlebih pada masa-masa pemilu. Pada Pemilu 1955, kantong-kantong suara Masyumi seperti di Minang dituduh oleh kaum Nasionalis dan Komunis sebagai basis Wahabi, anti Pancasila. Kalau bahasa sekarang ; sarang kaum radikal, kadrun, pengusung khalifah, anti NKRI. Ada pula yang mengkaitkan Masyumi dengan gerakan Paderi. Nanti kalau Masyumi menang akan terjadi Paderi reborn, gerakannya akan lebih luas lagi tidak hanya sekitar Minang tapi menjalar ke Jawa. Dan begitu pula sebaliknya, oleh kelompok Islam, kaum nasionalis dituding Islam KTP.
Apa yang kita sebut hari Black Campaigne, ternyata sudah ada sejak dahulu. Jadi jangan terlalu baper lah!

Puncaknya ketika PRRI meletus di Sumatera, Masyumi dan PSI dibubarkan oleh Bung Karno, dan beberapa tokoh Masyumi seperti Muhammad Natsir, Sjafruddin Prawiranegara, Burhanuddin Harahap dituding ada dibelakang pemberontakan ini dan dipenjara.

Jadi sedari dulu, daerah yang kaum nasionalis gagal menguasainya sudah dituduh tidak Pancasila, jadi tak usah kaget dengan tudingan cucu Ideologis dan cucu Biologis Bung Karno ini.

Sudahlah akhiri saja perdebatan antara Islam dan Pancasila. Tutup buku. Peti Es-Kan saja, jangan dibahas lagi, hanya akan memperuncing masalah dan perselisihan. Membuka luka-lama. Dan memang tidak kunjung selesai. Tak perlu lagi membahas masalah ideoligis karena banyak hal yang praksis yang diperlukan untuk mengejar ketertinggalan negara kita dari negara lain, keluar dari keterpurukan. Menghadang new imperealisme.

Tirulah apa yang dilakukan oleh masyarakat Minang yang telah lelah mempertentangkan budaya Matriakat dengan syariat Islam. Jika dilanjutkan tak kunjung usai. Akhirnya mereka membungkus dengan sebuah konsensus ; “Adat Basandi Syara’, Syara’ Basandi Kitabullah”. Dan lalu mem-peti es-kan polemik antata budaya matriakat dan syariat. Secara praksis tidak menuntaskan masalah tapi dapat mengurai masalah. Perihal warisan dan nasab misalnya, sebagian mengikuti pembagian warisan masih menggunakan hukum adat tanpa merasa melanggar syariat, begitu pun sebaliknya, mereka yang membagi warisan dengan cara islami tanpa merasa menentang adat. Terserah saja. Masing-masing tidak saling membaggakan diri atau saling ejek.

Silakan menjadi Nasionalis tulen dan Pancasilais sejati, begitu pula yang ingin menjadi muslim kaffah. Kembalikan kepada pribadi masing-masing. Tanpa harus mempertentangkan. Apalagi cuma sekadar jargon-jargon politik dalam meraih kekuasaan.

****

Al Albana, Andalas 23 Muharram 1442


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close