Ma’ Uniang Dalam Kenangan

π’Žπ’‚π’π’„π’‚π’“π’Š π’‘π’Šπ’•π’Šπ’‰ 𝒔𝒖𝒔𝒂𝒉, π’•π’‚π’‘π’Š π’π’‚π’ƒπ’Šπ’‚π’‰ 𝒔𝒖𝒔𝒂𝒉 π’π’‚π’Š π’Žπ’‚π’Žπ’ƒπ’‚π’π’‚π’π’‹π’π’Œπ’‚π’π’π’šπ’, π’Žπ’‚π’Œπ’π’π’šπ’ π’ƒπ’‚π’”π’–π’π’ˆπ’ˆπ’–π’‚π’‰-π’”π’–π’π’ˆπ’ˆπ’–π’‚π’‰π’π’‚π’‰ π’Žπ’‚π’Žπ’‘π’‚π’π’‚π’‹π’‚π’“π’Šπ’π’šπ’ π’Œπ’‚π’…π’–π’π’π’šπ’ ; 𝒃𝒂𝒓𝒂𝒋𝒂 π’Žπ’‚π’π’„π’‚π’“π’Š π’‘π’Šπ’•π’Šπ’‰ 𝒃𝒂𝒓𝒂𝒋𝒂 𝒑𝒖𝒍𝒐 π’Žπ’‚π’Žπ’ƒπ’‚π’π’‚π’π’‹π’π’Œπ’‚π’π’šπ’” [arti bebasnya kurang lebih begini ; Mencari uang (nafkah)memang susah, namun lebih susah lagi membelanjakannya (makaudnya mengatur keuangan) makanya pelajari sungguh-sungguh keduanya ; belajar mencari nafkah dan juga belajar mengatur keuangan] Ucapan Ma’ Uniang ketika saya berkunjung ke Medan pada liburan semester ganjil tahun 1997, bertepatan dengan Ramadhan 1417 H. Dan seterusnya ia menceritakan tentang beberapa orang kerabatnya sebagian saya kenal dan sebagian tidak, yang hancur kehidupan ekonomi karena utang. Dililit utang karena tidak pandai mengatur keuangan.

Saya memanggilnya Ma’ Uniang. Namanya H. Bustami bin H. Abdur Rauf. Amak tujuh bersaudara. Amak perempuan satu-satunya dan punya enam adik laki-laki. Ma’ Uniang anak ketiga.

Mak Uniang dan tiga adik Amak lainnya menetap di Medan. Ingatan saya paling purba tentang Ma’ Uniang saat saya usia lima atau enam tahun, rasanya saya belum masuk SD ketikawa dibawa Amak ke Medan. Saya yang belum pernah berpergian jauh dalam jangka waktu lama merasa tidak nyaman. Tiap sebentar menangis minta pulang. “Pulang lai mak…pulang lai mak” ucap saya sambil menangis. Selama di Medan kami menginap berpindah-pindah, selain di rumah tiga adik Amak, juga di rumah sepupu-sepupu Amak lebih banyak lagi di Medan dari pada di Kampung.

Mendapati saya yang menangis terus minta pulang, Ma’ Uniang kehabisan akal. Dinyalakan motor yang bersuara besar lalu, diturun-naikan gasnya, sehingga suara motornya meraung-raung. “Kalau manangih taruih, den jua ang ka urang Batak” gertaknya. Saya lansung berusaha menghentikan tangis. Pucat ketakutan. Saya membayangkan setelah dijual saya akan disembelih dan dipotong-potong untuk dimasak. Uhhhh…mengerikan. Makanya kalau sedang di rumah Ma’ Adang atau Ma’ Itam (adik Amak lainnya) saya menolak diajak Amak pulang ke rumah Ma’ Uniang. Saya takut mendengar suaranya yang lantang. Saya takut dijual ke orang Batak. “Lalok disiko je, mak” saya mengelak.

Pada pertengahan 80-an sepeda BMX sedang booming. Impian untuk memilikinya tumbuh subur di kepala setiap bocah, termasuk saya. Hanya masalah kemampuan orang tua saja yang membedakannya. Saat itu saya duduk kelas 4 SD. Setelah beberapa minggu di Medan Uwo (nenek) pulang membawa sepeda BMX berwarna merah menyala. Buat siapa lagi kalau bukan buat saya dan adik. Hanya kami berdua cucunya yang masih kecil di Kampung. Membuncah kebahagian saya, senang bukan kepalang menyaksikan sepeda yang masih terbungkus plastik dan karton yang diturunkan dari atap angkutan pedesaan yang digunakan Uwo untuk menyambung pulang ke rumah dari Pasar Sungai Limau, karena Bus Purnama Raya hanya sampai Pasar Sungai Limau.
“Ma’ Uniang ang mambalian” jelas Uwo, setelah semua beres.

Akhir tahun lalu kami ke Medan, karena tidak ingin repot membawa pulang ke Padang, saya menolak dengan halus ketika seorang sepupu ingin memberi sekardus oleh-oleh khas Medan untuk dibawa pulang ke Padang. “Ganti dengan rendang kerang saja kak” pinta saya. Terbayang oleh saya betapa susahnya Uwo 35 tahun silam membawa sepeda dari Medan ke Kampung. Barangkali beliau dicemberutin bahkan diomelin oleh kenek Bus Purnama Raya karena terlalu banyak barang bawaan. Tapi semua itu baginya tak mengapa asalkan bisa membuat cucu senang dan bergembira.

Ma’ Uniang dimata saya sosok yang tegas, berwibawa, emosional, pemberani namun penuh perhatian, bertanggung jawab serta penuh kasih sayang. Dari SD hingga SMA saya sering berkunjung ke Medan saat liburan sekolah. Selama di Medan saya menginap secara Marathon, berpindah-pindah. Beberapa hari di Ma’ Adang, lalu pindah ke rumah Ma’ Itam, di Rumah Ajo Syariah, lanjut ke rumah Uni Er. Tapi tempat tujuan pertama saya ke rumah Ma’ Uniang di sana tas saya tinggal di kamar Bang Jufri, putera Ma’ Uniang yang paling bungsu, usianya dua tahun di atas saya.

Barangkali karena kepribadiannya itulah, beliau sosok yang dituakan oleh kaum kami di Medan. Kaum Chaniago korong Lampanjang. Aneka permasalahan akan dilaporkan kepadanya. Kemenakan yang hendak menikah melapor kepadanya agar diurus, Bertengkar adik-kakak, melapor kepada untuk dicarikan solusi. Suami Isteri yang telah bercerai yang ingin rujuk kembali, datang kepadanya untuk minta diurus. Yang tidak punya duit untuk bayar kontrakan, uang sekolah anak juga mengadu kepadanya, datang dari kampung belum punya ada kerjaan atau belum punya usaha tinggal di rumahnya.

Maret 1997 bertepatan dengan penghujung Ramadhan, libur semester ganjil saya berangkat ke Medan. Jika orang-orang mudik lebaran, saya justeru sebaliknya berlebaran di Medan. Ma’ Uniang menanyakan tentang pendidikan. Dengan kekecewaan yang masih tersisa saya menceritakan kegagalan masuk Perguruan Tinggi Negeri meski telah dua kali ikut UMPTN. Saat ini kuliah di kampus swasta Fakultas Teknik.
“Ba’a ndak Kedokteran” timpalnya.
“Biayanya gadang” saya menjelaskan.
“Kalau dipasomokan pasti bisa” lanjutnya.
“Lagi pulo awak ndak ado minat jadi dokter”.

Takbir berkumandang sebagai tanda Ramahdan telah berlalu. Bulan syawal telah tiba. Pagi itu kami sholat Id di masjid dekat rumah. Khotib yang sudah sepuh, sorban putih-merah ala Yaser Arafat menutupi rambutnya, pagi itu berkhotbah perihal birrul walidain. Keutamaan berbakti kepada orang tua. Ceramah yang menyentuh, menyayat hati, apalagi bapi para perantau yang tidak bisa pulang untuk bersilaturahmi dengan kedua orang tua. Ma’ Uniang cecegukan menahan isak tangis, air mata merembes membasahi pipinya, begitu pula beberapa jemaah lainnya. Barangkali ia ingat Uwo, Ayah Tuo, kedua orang tua yang sudah sepuh di Kampung dan tidak bisa bersilaturahmi di hari yang fitri.

Sebuah riwayat (entah shohih atau dhoif 🀣) yang saya dapatkan dari Wir menceritan bahwa Ma’ Uniang pernah mengertak seseorang yang mengaku tentara yang hendak memerasnya. Kisahnya berawal ketika suatu pagi Wir yang mungkin habis begadang semalaman menambrak seorang perempuan paruh baya. Entah siapa yang salah? Sebagai bentuk pertanggung-jawaban perempuan itu diobati. Tangannya yang keseleo urut oleh ahli pijat. Semua biaya pengobatan ditanggung. Si Wir memberikan alamat rumah Ma’ Uniang kepada wanita paruh baya itu sebagai jaminannya. Bahkan hingga tiga bulan ia secara berkala datang meminta uang untuk berobat. Ia tidak bersedia dibawa ke rumah sakit atau dokter. Ia hanya ingin uang cash untuk berobat.

Sampai akhirnya perempuan itu menjadikan Si Wir sebagai ATM. Sekali waktu ia datang dengan seorang tentara untuk mengintimidasi Si Wir seterusnya tentu Ma’ Uniang. Ma’ Uniang taburansang. Ia naik pitan. Beliau turun dari lantai dua untuk menemui kedua orang yang tengah memeras keponakannya. Tak tanggung-tanggung beliau mengaku sebagai perwira. Ia menatang kedua orang itu untuk memperkarakan masalah ini. “ingin panjang, ingin pendek silakan” tantangnya. Sejak itu wanita paruh baya itu tak pernah datang lagi.

Pernah juga saya mendapat cerita bahwa suatu hari Ma’ Uniang pergi berobat. Ketika ditanya profesinya oleh staff admin yang tidak sopan, ia marah-marah. “Yang membayar biaya berobat uang bukan pekerjaan” balasnya sambil mengeluarkan dompet.

Ma’ Uniang memang terkesan emosional, gampang marah namun cepat pula mereda amarahnya. Hanya berselang beberapa saat seakan ia lupa kalau sebelumnya ia marah-marah. Tangannya ringan untuk memberi seringan mulutnya untuk memarahi. Kaki yang enteng enteng untuk melangkah dalam rangka mengurusi keponakan, sanak saudara. Beliau tak segan-segan untuk mengorbakan waktu dan uang untuk mengurus keponakan adik-adiknya. Itulah sebabnya keponakan serta sepupu-sepupu di Medan lari-lari malawan kepadanya. Bagaimanapun juga ia sosok mamak yang bertanggungjawab dan penuh perhatian kepada keponakannya

Tahun 1998 kami di kampung mendapat khabar bahwa beliau sakit keras. Diabetes yang dideritanya sejak lama semakin parah. Beliau telah beberapa hari di Rumah Sakit, keadaanya semakin memburuk. Jum’at pagi Uwo beserta beberapa keluarga berangkat segera ke Medan beberapa saat setelah mendapat khabar. Tentunya jalan darat. Karena pada massa itu belum ada pesawat Padang-Medan. Belum sampai Uwo dan rombongan di Medan Pada jum’at malam Ma’ Uniang telah berpulang. Sabtu pagi Etek Lian, Isteri Ma’ Uniang yang juga tengah dirawat di Rumah Sakit yang sama menyusul suaminya.

Ma’ Uniang masuk Rumah Sakit duluan, setelah beberapa hari Etek Lian juga masuk rumah sakit, tapi pihak keluarga tidak memberi tahu Ma’ Uniang bahwa Isterinya, Etek Lian ada di Rumah Sakit yang sama. Sebaliknya berita kematian Ma’ Uniang ditutupi agar Etek Lian tidak tahu. Bahkan hingga meninggal sabtu pagi Etek Lian tidak tahu bahwa suaminya telah meninggal. Penyelenggaran jenazah Pasangan suami-isteri secara bersamaan dan dikubur di pada lubang yang sama.

Saya tidak dapat membayangkan bagaimana Kak Mulyani, Kak Misrita, Bang Fendy, Bang Marthias, Bang Jufri Bustami menghadapi cobaan ini kala itu ; kedua orang tua mereka berpulang selang waktu kurang dari 12 jam.

Setelah lama tidak ke Medan, penghujung tahun lalu kami berkunjung ke Medan. Saat hendak ke Istana Maimun kami melintas di rumah bekas kediaman Alm Ma’ Uniang. Saya berdebar. Teringat kenangan ketika massa kecil dulu. Saat petang menjelang duduk-duduk di lantai 3 yang terbuka, menatap ke bawah aktifitas Pajak (orang Medan menyebut Pajak untuk Pasar) Sukaramai, kendaraan berlalu lalang, menatap ke atas mengamati layangan yang bersaur. Di lantai 3 itu juga sebuah meja permainan. Seperti meja carambol namun lebih besar, memaikannya dengan menggunakan tongkat bukan disentil seperti carambo, namun menyurupai stick bilyard, tapi ini dari kayu dari gulungan kain ball.

Di lantai 3 bagian belakang ada kamar Bang Tias. Ada banyak buku beladiri karena Bang Tias pemegang sabuk hitam Karate, juga tabloid Misterius, Selain menyukai Karate Bang Marthias sedang senang-senangnya hal mistik kala itu. Tentu sekarang sudah tidak lagi.
Seorang bocah sepuluh tahun tentu saya terkesima mendengar cerita Bang Tias tentang Karate kala itu.

Sebenarnya banyak sekali kisah tentang Ma’ Uniang ini Kak Mulyani, baik yang dengar lansung maupun kisah yang diceritakan oleh orang. Namun yang paling dominan adalah perihal ketegasan dan perhatiannya yang besar, baik itu untuk keluarga (kak Mul sekeluarga) dan juga kami keponakannya.

Untuk Ma’ Uniang dan Etek Lian.

“Allahummaghfir lahum warhamhum wa β€˜aafihi wa’fu β€˜anhum, wa akrim nuzulahum, wa wassi’ mudkhalahum. Waghsilhu bil maa-i wats tsalji wal barad. Wa naqqihi minadz dzunuubi wal khathaayaa kamaa yunaqqats tsaubul abyadhu minad danas. Wa abdilhu daaran khairan min daarihi, wa zaujan khairan min zaujihi. Wa adkhilhul jannata wa a’idz-hu min β€˜adzaabil qabri wa min β€˜adzaabin naari.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close