MENELUSURI MASA KECIL

Aku berdiri di sini. Di pematang sawah-sawah sempit yang terkurung oleh bebukitan rendah dan sungai kecil. Aku terjebak dan diikat di tiang lembab masa lalu. Angin lembah bertiup lembut. Genangan air sawah dan kubangan kerbau bergerak pelan. Langit berkelir lazuardi.

Kuhirup aroma kopi dari sebuah gulang-gulang di atas bukit itu. Kukenang segala pahit dan manis masa lalu. saat kita melalap pucuk daun jambu bol dengan mencocorkanya ke tumpukan garam. Kadang kala kita menaruh garam di atas pucuk jambu bol, kemudian melipatnya hingga kecil, lalu memasukan ke mulut. Seakan-akan kita nenek-nenek yang sedang menyirih. Kelat, asem, asin berbaur dengan enzim amilase dalam mulut.

Lihat sungai kecil itu tempat kita menangkap udang kecil-kecil yang merapat ke pinggir agar tidak hanyut terbawa arus saat hujan deras.

Batang Sariak, Korong Lampanjang, Kuranji Ilir Pariaman

Hei…kawan, itu bukan pohon kelapa tumbang dan menjuntai sawah yang kita gunakan bermain hoiiyak hussein. Bukankah Kau terpelanting ke kubangan saking kuatnya kita mengayun secara serentak. Itu sudah 35 tahun. Ini pohon kelapa yang tumbang seminggu yang lalu, tak ada lagi bocah yang menaikinyo sambil berteriak hoiiyak…hosssen….hoiiyak…hossen…. Karena mereka sibuk bermain mobile legend.

Pohon Kelapa Roboh Untuk Bermain Hoiyak Hossen

Aku tidak menemukan pohon jambu biji yang kita panjat beramai-ramai hingga tumbang dan kita semua terjerabab ke dalam rawa.
Masih ingatkah kau? Orang dewasa berburu babi kala itu. kapuang..kapuang …kapuang teriak mereka…. dari kejauhan. Semakin lama semakin mendekat dan riuh. Semakin kencang. Salak anjing bersahutan kala seekor babi hutan terjebak di kerumunan pemburu. Kita ketakutan berhamburan menaiki pohon jambu biji itu. Ada belasan anak tengah dilanda kecemasan. Akar-akar pohon tak cukup kuat menanan berat belasan bocah itu akibatnya
tumbang secara pelan-pelan. Kita pucat pasi.

Sawah Terlantar

Nostalgia adalah tamu tak terduga. Seperti kejutan pada jalan menikung.

Angin lembut menyentuh kuping seakan berbisik pelan “Mampus kau dicabik-cabik masa lalu” percis seperti syair Chairil Anwar.

Sedang apa kau hari ini? Mungkin duduk di beranda itu dengan secangkir kopi? Teh pekat kelat dan satu pot kembang di meja ditemani dua bait puisi.


Lakuak Batang Sariak, Mingggu pagi 20092020

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close