Dendeng Aie Bangih

Masyarakat Minang menyebutnya Lauk Budu, tapi sebagian orang–terutama mereka yang sudah tua–menjulukinya Dendeng Aie Bangih (Dendeng Air Bengis/Amuk). Barangkali dulu, dulu sekali, sebelum banjir bandang makanan dari luar seperti ; Burger, Sosis, Bakso, Kebab, dan banyak lainnya menghantam Ranah Minang, Lauk Budu sekelas dengan Dendeng. Mungkin juga termasuk top ten kuliner Minang, yang sejajar dengan dendeng dan rendang, sehingga orang-orang menjulukinya Dendeng Aie Bangih. Namun setelah diserbu oleh kuliner dari luar, baik itu kuliner nusantara maupun dari luar negeri seperti Arab, India, China, Jepang hingga Eropa, Lauk Budu ini tak mampu bertahan seperti Dendeng dan Rendang yang justeru semakin mendunia sedangkan Lauk Budu semakin meredup dan tenggelam.

Sedangkan penyematan Aie Bangih (Air Bengis) merujuk kepada daerah penghasil Lauk Budu ini.
“Dari sikilang aie bangih hinggo taratak, aie hitam, dari sipisok-pisok pisau hanyuik sampai ka sialang balantak basi, dari riak nan badabue sampai durian ditakuak rajo” begitulah batas wilayah Alam Minangkabau yang ditulis di tambo. Aie Bangih masuk teritorial Kabupaten Pasamam Barat merupakan batas paling barat (daya) wilayah Minang. Taratak, aie hitam daerah Teluk Kuantan batas paling Timur (tepatnya Tenggara), sedangkan Sipisok-pisok pisau hanyuik daerah Indragiri hulu, batas Utara wilayah Minang, sedangkan batas paling selatan mulai dari pesisir hingga daerah durian dekat perbatasan dengan Jambi.

Sama halnya dengan Lauk Budu, Air Bangih pun meredup padahal dulunya merupakan bandar penting di pesisir barat Sumatera yang disinggahi oleh kapal-kapal Portugal, Spanyol, Belanda, Arab, India seperti Muelaboh, Barus, Sibolga, Tiku, Pariaman, Muaro Padang hingga Bandar Sepuluh sebelum abad ke-20. Seiring berkembang moda transportasi darat dan udara, maka moda transportasi laut semakin ditinggalkan, barangkali itulah sebabnya kita jarang mendengar nama Aie Bangih.

Alwi menyukai segala jenis ikan asin. Sekitar 6 bulan lalu, tetangga bercerita bahwa sekembali dari Pariaman mereka membeli Lauk Budu. Mendapati cerita itu, Alwi penasaran seperti apakah Lauk Budu, seasin dan senikmat apakah Dendeng Aie Bangih ini?
Beberapa minggu kemudian kami pulang ke Pariaman. Saya tahu bahwa di Sungai Sirah, Pariaman ada pengolahan Lauk Budu, saat kembali ke Padang kami mampir dan membeli beberapa potong Lauk Budu. Kenapa hanya beberapa potong? Ya karena harganya relatif mahal menurut ukuran kantong saya, tapi sebanding dengan rasanya.
Kalau bukan karena anak dan enak, saya yakin tak akan membelinya.

Lidah tidak bisa mendua (berbohong maksud) kenikmatannya memang sebanding dengan harganya. Oleh karena itu Lauk Budu yang hanya beberapa potong ini hanya untuk Alwi saja. Dia benar-benar suka dan mengklaim seluruh Dendeng Aie Bangih yang tersisa miliknya. Agar irit, Bunda Alwi memotong kecil-kecil berbentuk dadu seukuran seruas jari. Hanya berselang seminggu pun akhirnya Lauk Budu yang tersisa tamat.

Beberapa waktu kemudian, seorang keponakan sedang PKL di Sasak. Sasak juga sentra penghasil Lauk Budu seperti Aie Bangih. Saya minta tolong kepadanya agar dibelikan Lauk Budu. Ia mengantarkan seekor Lauk Budu seukuran lengan orang dewasa Harganya memang jauh lebih murah dibandingkan dengan yang kami beli di Sungai Sirah. Tak sampai dua minggu pun tamat.

Minggu kemarin saya pulang ke Pariaman, dalam perjalanan balik kembali ke Padang saya mampir lagi ke tempat pengolahan Lauk Budu tempo hari. Saya membeli beberapa potong. Menjelang magrib sampai di rumah, Alwi dan Bundanya sedang pergi. Saat ia sampai di rumah, tanpa memberitahukan isinya, saya meminta agar ia membuka bungkusan kertas koran yang berisi Lauk Budu, saat berhasil membuka dan mengetahui isinya Lauk Budu, ia histeris dan sumbringah. Ia senang sekali.

Selain digoreng, cara menikmati Lauk Budu ini dengan menjadikan sebagai ‘parancah” (bahasa minang untuk campuran bumbu untuk menyedapkan makanan). Gulai Pakis jika dimasukan potongan Lauk Budu ini–biasanya bagian kepala–akan terasa semakin ueeenak. Tapi Alwi ingin menikmati seoriginal mungkin yaitu dengan cara digoreng tanpa cabe. Ia tak ingin rasa dari Lauk Budu ini terganggu oleh yang lain, jadilah bentuknya seperti di mangkok ini.

Saya tak ingin berlebihan dalam memuji rasa Dendeng Aie Bangih ini, jika anda mencicipinya, saya tidak jamin anda akan merasa seperti Iron Man, walaupun begitu saya percaya setidaknya anda akan merasa seperti Gibran ; Enak. Bedanya jika Gibran Enak, gampang dan mudah menjadi Walikota (setidaknya calon walikota) maka anda Enak dalam artian yang sesungguhnya. Rasa enak saat menikmati Lauk Budu ini. Saking euanaknya anda akan enggan untuk menelannya.

P.s ; Ikan Tenggiri merupakan bahan baku untuk diolah menjadi Lauk Budu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close