HAMKA NYARIS MENIKAH DI KAPAL DALAM PERJALANAN HAJI

Dulu, saya pikir perjalaman haji tempo doeloe dengan Kapal Laut, sangatlah berat dan penuh kesengsaraan dan nestapa. Meski punya tabungan kesabararan dan ketabahan yang berlimpah, ternyata setelah membaca kisah perjalanan haji Buya Hamka, ternyata memang benar. Perjalanan haji Buya Hamka pada 1927 sangatlah berat dan penuh penderitaan, apalagi dengan persiapan uang pas-pasan. Namun dibalik kesulitan tentu ada kemudahan, dibalik penderitaan ada kebahagiaan, sesudah air mata ada tawa.

Perjalanan haji pada massa itu sudah cukup berat, namun bagi Buya Hamka lebih berat lagi, karena berangkat tanpa sepengetahuan Ayahnya dan uang secukupnya. Uang yang tak seberapa pemberian Anduangnya, hasil dari panen sebatang pohon kapuk besar berbuah lebat di halaman rumahnya.

Pada pagi yang cerah, Danau maninjau tenang tak beriak, dengan berjalan kaki, Malik mendaki kelok 44 menuju Bukittinggi selama setengah hari perjalanan. Terus ke Padang Panjang, menemui gadis pujaannya. Lanjut ke Padang dengan Kereta Api. Di Padang bermalam di rumah sahabat ayahnya, Kongsi Tiga Sahabat. Kepada sahabat Ayahnya itu pun tidak diberitahukan juga hendak kemana tujuannya. Ketika itu bulan Rajab di pelabuhan Emma Heaven banyak orang hendak berangkat haji. Malik naik kapal KPM menuju Sibolga. Sampai di Sibolga ia menumpang bis ke Pematang Siantar.

Di Pematang Siantar ada temannya semasa belajar Silat di Maninjau, Isa namanya punya usaha toko Kelontong di sana. Kepada Isa diceritakannya bahwa ia hendak berangkat ke Mekkah. Isa memberinya uang untuk biaya berangkat ke Mekkah, dari Isa pula banyak perantau Maninjau di Siantar mengumpulkan uang untuk membantu biaya perjalanan haji Malik.

Setelah cukup uang untuk membeli tiket perjalanan ke Mekkah pergi dan pulang, barulah dia mengirim telegram kepada Ayahnya di Pandang Panjang, memberitahu bahwa ia akan berangkat ke Tanah Suci untuk menunaikan Haji. Barangkali ada rasa puas di hati Malik, Karena saat kelahirannya dulu Ayahnya, Haji Rasul mengikrarkan janji kepada andunganya bahwa setelah usia 10 tahun bayi (Malik yang baru lahir ketika itu) ini akan dikirimnya ke Mekkah. Kini sudah hampir 20 tahun usianya namun Haji Rasul tak pernah menyebut perihal janjinya dulu.

Dengan Kapal Karimata, milik stoomavaart maatchappij Nederland Malik berlayar menuju Jeddah. Mula-mula hanya dua orang temannya yang sama-sama dari Belawan di atas dek. Setiap subuh di bangun dan azan lalu sholat berjamaah, demikian pula waktu ashar dan magrib. Keluwesan dalam bergaul, serta suara yang merdu membaca Al Qur’an dan Imam Sholat berjamaah memudahkan Malik dalam bergaul selama mengarungi lautan menuju Jeddah. Hingga ia berkenalan dengan jemaah haji dari Priangan, Gadis Sunda yang berangkat haji bersama kedua orangtunya. Ajengan Abdul Malik, begitu Mojang Priangan berkulit hitam-manis, berusia 17 tahun yang bernama Kulsum itu menyebut nama Buya Hamka. Kedatangan Kulsum bersama orangtuanya setiap sore ke anjungan kapal rupanya memang ditunggu-tunggu dengan harap cemas oleh Malik. Malik belum berhenti membaca Al Qur’an sebelum kedatangan keluarga Sunda ini.

Hingga datang seorang pemuda Sunda bernama Sukarta, membawa pesan dari orang tua Kulsum menayakan kesedian Malik untuk menikah dengan puteri mereka. Bagaimana pun juga darah muda Malik tentu tergetar, sempat lupa pujaan hatinya di Padang-Panjang. Malik dalam kebimbangan hingga Kapal Karimata bersandar di Jeddah.

Hingga beberapa puluh tahun kemudian Buya Hamka masih ingat bagaimana perpisahannya dengan Kulsum sebelum turun dari kapal di pelabuhan Jeddah. Angin berembus sejuk. Kulsum memandangi lautan, kapal membelah lautan, lumba-lumba beriring mengikuti kapal. Alangkah cantiknya janda muda itu, kena cahaya pagi, ujung selendangnya dikibas-kibas angin. Wajahnya tenang melihat lautan, namun terpancar pengharapan kepada Malik.

Melihat Kulsum berdiri di anjungan Kapal, Malik datang menghampiri, mereka sama-sama membisu, namun hati mereka sama-sama bergelora, karena sebentar lago kapal akan menurunkan sauh dan mereka akan berpisah, sedangkan Malik belum menyatakan ketetapan hati.

Dengan tenang Malim mengeluarkan sehelai sapu tangan putuh dari saku bajunya yang telah dilipat kecil, lalu diserahkan kepada Mojang Priangan dihadapannya sambil berucap “Tidak lama lagi kita akan berpisah. Moga-moga sesampai di Mekkah kita bisa bertemu kembali, terimalah hadiah dariku sebagai kenang-kenangan”.

Dengan wajar berseri-seri sapu tangan itu diterimanya dalam bahasa sunda dibalasnya “Atur nuhun, Ajengan”. Malik hanya paham Bahasa Minang, Melayu dan Arab, tidak paham Bahasa Sunda. Sukarta menjelaskam maksud gadis itu, “Terima Kasih, Ajengan”.

Keesokan harinya, lebih mengharukan lagi. Pada jam yang sama, tempat yang sama, seakan-akan telah berjanji Kulsum telah berdiri lebih dahulu di pagar dek kapal tempat mereka bertemu kemarin. Malik pun menghampirinya. Sama memandang lautan lepas. Kulsum tersenyum, Malik pun membalas dengan senyuman. Kulsum dari balik bajunya Kulsum mengeluarkan sapu tangan putih dengan pinggir biru, seraya berkata ” hadiah dari abdi ke ajengan. Malik mengulurkan tangan menyambut sapu tangan itu, lalu diciumnya, rupanya telah disirami dengan minyak wangi.

” Terima kasih”, Malik mengulurkan tangan, namun rupanya Kulsum kesepuluh jarinya lalu disentuhkan sedikit dan sesaat ke ujung jari Malik dan ditarik kembali, sehingga tangan itu tidak sampai terpegang oleh Malik. Sesudah itu Kulsum kembali ke Palka yang ditempatinya bersama orangtuanya ditingkat bawah dan Malik pun kembali ke atas. Dan mereka tidak pernah bertemu lagi.

Malik dalam kebimbangan sampai kapal bersandar di Jeddah, sebentar mau, sebentar tidak. Kulsum pun sudah kerap kali datang ke tempatnya. Mujur Kulsum tidak bisa Bahasa Melayu, Malik tidak bisa Bahasa Sunda. Namun dengan sama-sama diam membisu, rupanya lebih mendebarkan hari.

Sekiranya Malik bersedia tentu ia akan menikah di atas Kapal Karimata. Kapal memang menyediakan Penghulu. Bahkan juga menyediakan fasilitas untuk resepsi pernikahan kecil-kecilan. Selama berlayar menuju Jeddah, ada beberapa pasang yang menikah.

Di sinilah rupanya pertautan jiwa antara Malik dengan Ayah-Ibunya. Meskipun hati telah berkehendak dan jalan sudah terbuka, orang tua Kulsum pun senantiasa bersikap manis kepada Malik. Keinginan yang amat besar untuk menikahi Kulsum dapat ditahan oleh pengaruh ingatan kepada ayah-ibunya di Kampung. Mulai teringat, bagaimana akhirnya nanti. Rusaklah penghargaan orang kampung atas perjalanan itu karena mendengar Malik menikah di atas kapal dengan perempuan Sunda. Sudah tersebut di kampungnya kalau menikah dengan orang Sunda akan hilang selamanya, lupa kampung halaman. Sutan Medan Labiah, Sutan Bainum, dua orang temannya sama-sama berangkat dari Medan memberi pandangan supaya perkawinan itu jangan dilansungkan.


Andalas, 11 Jumadil Awal 1442

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close