Sengketa Tiada Putus

Pasca Perang Paderi pertengahan abad 19 kolonialisme mulai di Ranah Minang. Tak berselang lama potik etis diterapkan. Sekolah-sekolah didirikan untuk pribumi dengan tujuan untuk mendapatkan tenaga kerja terdidik dengan bayaran murah. Sehingga dengan demikian pemerintah kolonial tak perlu lagi mendatangkan tenaga kerja dari Belanda dan Eropa untuk hal-hal yang bisa ditangani oleh pribumi dengan gaji rendah.

Kebencian yang mendalam terhadap penjajahan membuat masyarakat daerah lain enggan menerima segala sesuatu yang datang dari penjajah, termasuk pendirian sekolah, jika pun ada tidak seantusias masyarakat Minang dan Minahasa. Mereka berbondong mengantarkan anak-anak mereka ke sekolah untuk mendapatkan pencerahan dan modernitas seperti bangsa Eropa.

Sengketa antara Kaum Reformis Islam yang mengusung misi purifikasi dengan Kaum Adat yang Matriakat semakin berkecambah dengan lahirnya kaum intelektual hasil sekolah-sekolah yang didirikan Kolonial.

Sengketa tiada putus ; Adat Matriakat, Reformis Islam dan Modernitas Barat merupakan habitat untuk melahirkan intelektual Minang awal abad 20. Nama seperti Ahmad Khatib Al Minangkabauwy, Haji Rasul, , Syekh Sulaiman Al Rasuli, Haji Agus Salim, Tan Malaka, Abdoel Moeis, Hatta, Sutan Sjahrir, Hamka, merupakan produk sintesis dari sengketa tiada putus antara Adat Matriakant, Reformis Islam dan Modernitas Eropa.

Saya rasa ada juga baiknya pergolakan terus terjadi di Ranah Minang. Tentunya bukan pergolakan bersenjata seperti PRRI. Tapi pergolakan pemikiran, agar Ranah Minang terus melahirkan intelektual seperti nama terdahulu.

Hari ini pergolakan itu semakin kecil, nyarus sudah selesai. Barangkali itulah sebabnya Minaang tidak lagi melahirkan intelektual egaliter dan kosmopolitan seperti dulu lagi.

Jeffref Hadler mendedahnya dalam disertasi doktoralnya yang berjudul Place Like Home ; Islam, Matriliny and History of Family In Minangkabau, yang ia pertahankan di Cornell University pada tahun 2000.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close