Wabah & Penolakan Vaksinasi Pada Masa Kolonial

Saat ini vaksin sedang menjadi perbincangan hangat dengan segala macam pro-kontra.
Pada Buku Sengketa Tiada Putus, karya Jeffrey Hadler, saya menemukan tulisan lama dengan ejaan Van Ophuijsen–ejaan yang digunakan pada massa kolonial, sebelum digantikan oleh ejaan Soewandi dan terakhir disempurnakan oleh EYD yang kita gunakan saat ini–perihal vaksinasi pada masa kolonial, ketika cacar dan kolera menjalar di Minangkabau tahun 1870.

Tulisan lama, tidak hanya dengan ejaan lama massa kolonial (Van ophuijsen) namun juga dengan gaya bahasa melayu lama yang struktur kalimatnya sudah berubah, sebagian kosa katanya sudah tidak pernah digunakan lagi, sebagian lagi telah berubah sesuai dengan gaya bahasa saat ini.


Tempo moela-moela gouverment mabrie atoeran kapada sakalian marikaitoe iang brana{k} ketjil, soeruh bawah ana{k}nja akan boleh die tan(am) / ditjajar. Saparo soeka, saparo tida{k} dan kata saparo makanja tiedak soeka kerna miski poen soedah dietanam dengan tjajar sapie, djo ko (toh) panjakiet iang liar (cacar) itor keloear, meleinkan kanei [kena] djoega, itoekan boleh die katakan pikieran iang bingngoeng, kerna persaian [kepercayaan] iang telah terbelakang soedah njata, djokondangan betoel [sesungguhnya], toemboehanja, tinaman tjajar sapie, melainkan tiedak lagie boleh tersiengoeng oleh iang liar [bila bisul cacar sapi timbul, tidak mungkin lagi kena cacar ‘liar’], brangkali ada djoega iang mahieras roepa katoembuhan, iang toemboeh die badan anak ketjil, tatapie itoe tiedak ada memboenoeh, dan tiedak ada mandjadie roesak marikaitoe, seperti hal kadjadian katoemboehan iang liar, barang siapa iang djadie toekang tjajar, telah tahoe poela, bahasa (bahwa) siapa iang soeda die tanamie tjatjar sapie, tiedak lagie boleh kami iang soeda miskiepoen tjatjar aijer djarang djarang djoega boleh kanei, itoe poen djadie hoetang kapada toekang tjatjar akan die barie mangarti kapada indoek bapak anak ketjil.

Pitoewah : soepaya bolie (boleh) tarhindar daripada bahaya kapindahan (penularan) katormboehan liar (cacar) atau katoeboehan ayar.
Partama. Adapoen katoemboehan kadoenja itor kasiatnja mamaindah, sebab itoe, maleinkan diasingkan kadyamannja, dan djangan dipadiarkan bertjampoer dengan marika-itoe jang beloem kenai, ataun iang beloum di tanam (vaksinasi).
Kadoea. Siapa iang saroemah dengan orang iang sakit bagia tidak kenai, djangan bertjampoer dengan orang lain roemah, samantara penjakiet itoe beloum baik.

Pendoedoek di kampong Dobi (sebuah kampung miskin di Padang) djadu kaget, sebab katanja moesti ditjatjar, dan toeakoe Demang iang datang mendjalankan pekerdjaan itoe.

Raksasa bersjoekoer dengan adanja oesaha ini. Tetapi kalau raksasa seorang perempoean moeda, dan datang seorang pentjatjar dengan zonder permisi, dengan zonder hitam atawa poetih, tahoe tahoe mereka itoe masoek ke dalam roemah, katanja boeat mentjatjar, wah….Raksasa tentoe djadi kaget. En Raksasa poenja tangan jang poetih bersih dipegang sadja….djangan begitoe! Kom. Raksasa poenja meneer nanti datang dengan palang pintoe.

Hingga saat ini kata Katoemboehan dan Kalera (Cholera) merupakan ungkapan untuk meluapkan kekesalan dalam Bahasa Minang, sedangkan caca (tjajar) untuk merujuk kepada proses penyuntikan vaksin.

****


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close