Pengangkatan Pemimpin Pada Masa Khulafaur Rasyidin

Rasulullah memangang dua jabatan, pertama menyampaikan kewajiban sebagai pesuruh Allah, kedua selaku pemimpin kaum muslimin. Kewajiban yang pertama telah selesai ketika beliau menutup mata. Namun kewajiban yang kedua membutuhkan penerus.

Sepeninggal Rasulullah yang tidak menunjuk penerus yang akan menggantikannya dalam hal kenegaraan nyaris terjadi kisruh. Kaum Ansar berkumpul di balairung Bani Sa’idah, mereka bermaksuk mendaulat Sa’ad bin Ubadah menjadi Khalifah pengganti Rasulullah. Kaum Anshar merasa mereka lebih berhak atas Khalifah karena mereka mempercayai Rasulullah ketika Kaum Quraisy masih banyak menuduh Rasulullah sebagai pendusta, Tukang Sihir bahkan dituduh gila. Karena penerimaan dan bantuan Kaum Anshar pulalah Islam berkembang dengan pesat. Namun Kaum Muhajirin juga merasa lebih berhak atas Khalifah dari Kaum Ansar karena mereka kerabat Rasulullah dan sejak dulu Quraisy jugalah yang diakui oleh seluruh bangsa Arab sebagai pemimpin, sebab merekalah yang dipilih Allah menjadi penjaga Ka’bah turun-temurun. Sesama Kaum Anshar juga tengah bersaing antara Bani Aus dan Khazraj. Pun Kaum Muhajirin terbelah antara Bani Hasyim dan Bani Ummayah. Masing-masing pihak ngotot merekalah yang paling berhak atas Khalifah.

Situasi semakin memanas. Di tengah kondisi semakin tegang Abu Bakar maju ke tengah. Situasi mulai tenang. Lalu berkata Abu Bakar “ini ada Abu Ubaidah dan Umar, pilihlah mana diantara keduanya yang kalian sukai dan berbaitlah”. Dengan serentak Abu Ubaidah dan Umar menolak. “Tidak. Tidak. Demi Allah tidak. Kami tidak mau menerima pekerjaan besar ini, selama engkau masih ada engkau Abu Bakar. Engkaulah orang Muhajirin yang yang lebih utama, engkaulah orang kedua ketika berdua dalam gua ketika terusir. Engkaulah yang ditetapkan oleh Rasulullah menjadi penggantinya dalam sholat ketika ia sakit. Ingatlah bahwa sholat hal yang utama dalam Islam. Siapakah yang berani melangkahimu dan memegang pekerjaan ini.

Kemudian Umar mengambil tangan Abu Bakar dan membaitnya, diikuti oleh Abu Ubaidah, diiringi oleh pemuka Kaum Anshar ; Basyir ibnu Sa’ad (kepala Suku Kaum Aus), Sa’ad bin Ubadah (Kepala Suku Khasraj). Hingga akhirnya seluruh kaum muslim membait Abu Bakar. Atas inisiatif Umar dan Abu Ubaidah, Abu Bakar terpilih sebagai Khalifah secara aklamasi. Abu Bakar memimpin umat Islam selama 2 tahun, 3 bulan, 10 hari.

Belajar dari kekisruhan saat Rasulullah meninggal tanpa menunjuk penggantinya yang akan memimpin Kaum Muslimin, sebelum meninggal Abu Bakar telah berwasiat bahwa Umar bin Khattab sebagai penggantinya. Nyaris tidak ada gejolak saat penobatan Umar sebagai Amirul Mukminin.

Sebuah khanjar (badik) yang dihujamkan oleh Abu Lu’luah tepat mengenai perut Umar saat mengimami sholat subuh. Segala macam tabib telah didatangkan untuk mengobati dan segala macam obat telah diminum, namum keadaan Umar semakin memburuk. Sebagian orang meminta agar Umar menunjuk penggantinya kelak jika ia wafat. “Demi Allah, aku tidak akan memaksamu, sementara aku masih hidup, dan setelah aku mati pun. Kalau aku ditunjuk menjadi Khalifah, orang yang menunjukku adalah orang yang lebih mulia dari padaku, yaitu Abu Bakar” maksudnya, Umar tidak merasa semulia Abu Bakar yang berhak menentukan penggantinya.

Sebagian orang menyarakan agar Umar menunjuk puteranya, Abdullah bin Umar sebagai penggantinya. “Ya, Amirul Mukminin, anak paduka itu lebih pantas menerima jabatan khalifah, jadikan saja dia pengganti tuan, kami akan menerimanyanya” . Umar menjawab “tidak ada maksud kaum keturunan Al Khattab hendak mengambil pangkat Khalifah, Abdullah tidak akan memperebutkan pangkat ini”.
Kepada anaknya, Abdullah Umar juga menegaskan “anakku Abdullah, sekali-kali jangan, sekali-kali engkai mengingat-ingat hendak mengambil jabatan ini.
“Baiklah ayah”, jawab anak yang setia. Wasiat ayahnya itulah yang dipegang oleh Abdulkah bin Umar sehingga sampai pada masa perebutan khalifah antara Ali dan Mu’awiyah, begitup pula antara Hasan dan Yazid bin Mu’awiyah, nama Abdullah tak pernah terbawa kepada pusaran politik-kekuasaan. Ia mengabiskan usianya untuk mendalami Al Qur’an dan Sunnah. Belajar dam mengajarkan kepada orang lain.

Lama Umar berfikir bagaimana urusan khalifah sepeninggalnya nanti. Ia tidak ingin terjadi kisruh sepeninggal Rasulullah,
–saat pengangkatan Abu Bakar, namun ia juga, ia merasa tidak semulia seperti Abu Bakar yang yang berani menunjuk pengganti. Akhirnya Umar memanggil 6 sahabat utama Rasulullah yang masih hidup ; Ali bin Abu Thalib, Ustman bin Affan, Thalhah bin Ubaidillah, Zubair bin Awwam, Sa’ad bin Abi Waqqash dan Abdurrahman bin Auf. Keenam sahabat itulah diminta berunding untuk mementukan Khalifah sepeninggal Umar. Istilah jaman sekarang Dewan Suro, Dewan Penasihat atau Majelis Tinggi.

Umar berwasiat agar mereka yang berenam menghindari perselihan selama bermusyawarah. Hendaklah kalian mendapat keputusan menetukan salah seorang diantara yang berenam menjadi Khalifah. Umar berkata “Jika berlima setuju dan seorang membantah. Bunuhlah yang seorang itu. Kalau kamu bertiga setuju dan tiga membantah, hendaklah ambil anakku (Abdullah bin Umar) menjadi hakim. Mana yang disetujui anakku, itulah yang menjadi khalifah. Namun kalau yang bertiga lagi itu membantah juga, (maksudnya tidak setuju dengan keputusan Abdullah bin Umar), ikutilah dipihak mana yang disukai oleh Abdurahman bin Auf, yang selebihnya bunuh saja”.

Tak berselang lama Umar pun wafat. Pemilihan penggantinya merupakan phase yang paling alot dalam sejarah Islam. Abdurahman bin Auf memimpin komisi yang anggota terdiri 6 orang yang ditunjuk lansung oleh Umar sebelum wafat. Setelah 3 hari tidak juga bertemu kata sepakat siapa diantara mereka yang berenam yang menggantikan Umar. “Siapakah diantara kita yang sudi menarik diri dan menyerahkan pekerjaan ini kepada yang lebih ahli” pancing Abdurahman bin Auf. Tak seorang pun yang menjawab. Lalu Abdurrahman menyatakan diri bahwa ia tidak berniat mencalonkan diri. Ia mundur. “Akulah yang mula-mula ridha memangkunya” sambut Ustman. Empat orang lainnya setuju, hanya Ali yang diam.

“Apakah pendapatmu wahai Abu Hasan?” –Abu Hasan sebutan untuk Ali.
“Berilah aku janji yang teguh bahwa kamu semuanya lebih mementingkan kebenaran dan bukan hawa nafsu, bukan pula mementingkan orang karena kerabat, dan juga mempermainkan umat banyak” jawab Ali
“Sekarang berjanjilah kamu sekalian bahwa jika ada calon yang hendak memutar-mutar dan mengubah-ubah wasiat Rasulullah, agar kita bersama-sama melawannya dan hendaklah kalian berjanji akan membantu kalau aku memilih salah seorang calon yang berjanji akan jujur di hadapan Allah, bukan memilih seorang karena kerabat, bukan pula akan mempengaruhi kaum muslimin” tegas Abdurahman.

Kemudian mereka bubar ke rumah masing-masing. Sedangkan Abdurahman memulai penyelidikan. Dengan penyamaran Abdurahman mendatangi petani di kebun, pedagang dan Buruh di pasar, pengembala Unta, untuk menyerap suara rakyat siapa yang cocok pengganti Umar. Setelah cukup mendengar suara akar rumput Abdurahman mengundah Zubeir bin Awwan dan Sa’ad bin Abu Waqqash ke rumahnya.
“Biarkanlah Keturunan Abdu Manaf (Ustman) memegang pekerjaan ini” ujar Abdurahman kepada Zubeir.
“Suaraku akan aku berikan kepada Ali” balas Zubeir
“Hai, Sa’ad diantara kita berdua tidak ada hubungan kekerabatan, oleh karena itu serahkan saja bagianmu (hak suara) kepadaku, biarkan aku yang memilihnya, pilihanku menjadi pilihanmu juga”
“Kalau yang akan dipilih itu engkau sendiri, saya suka, tapi kalau Ustman yang akan engkau pilih, saya tidak mau, sebab Ali lebih aku sukai” jawab Sa’ad.
“Hai, Abdurahman, lebih baik engkau pilih dirimu sendiri agar kami semuanya jangan jatuh pada perselisihan yang tidak kunjung putus, dan angkatlah kepala kami” saran Sa’ad.

Ustman dari Bani Umayyah dan Ali dari Bani Hasyim. Keduanya kabilah besar di Mekkah sejak dulu, jauh sebelum Islam. Saling bersaing untuk berebut pengaruh. Meskipun sama-sama telah memeluk islam mereka masih menyimpan rasa untuk saling mengungguli. Pada massa hidup Rasulullah persaingan antar keduanya sedikit mereda. Pasca meninggal Rasulullah bibit-bibit persaingan itu tumbuh kembali. Untung yang menjadi Khalifah Abu Bakar dan Umar tidak berasal dari Bani Hasyim maupun Bani Ummayah. Dan harapan Sa’ad, Zubeir dan sahabat lainnya menginginkan Khalifah dari dari Klan-klan kecil seperti Abu Bakar dari Tamim dan Umar dari Bani Adi.

Muhammad saw, dari Bani Hasyim menjadi Rasul utusan Allah merupakan pukulan Bani Ummayah, itulah sebabnya Bani Ummayah sangat berhasrat akan jabatan Khalifah.
Sebenarnya sudah terlihat saat kematian Rasulullah dan pemilihan penggantinya. Manuver cerdik Umar dan Abu Ubaidah yang membait Abu Bakar berhasi menekan bibit- bibit persaingan yang hendak tumbuh kembali.

Pada waktu itulah Abdurrahman menunjukkan keahliannya menghadapi masalah yang sulit, yaitu bahwa keadaan sekarang bukan seperti dahulu lagi, bahkan telah banyak berubah, dan siapa yang akan naik menjadi khalifah tidaklah akan sunyi dari umpatan, pujian, celaan dan makian dari banyak orang. la berkata menumpahkan rahasia hatinya kepada Sa’ad, “Wahai, Abu Ishak, bukan aku tidak mau menjabat pekerjaan ini, tetapi aku mengundurkan diri dan tidak suka mencalonkan diri ialah agar lebih adil memilih yang lain. Kalau aku turut mencalonkan diri tentu pilihanku tiada adil. Artinya, tidak ada yang tegak di luar dalam perkara yang sulit ini. Ketahuilah olehmu Abu Ishak bahwa bilamana Abu Bakar dan Umar telah mati, tidak ada lagi orang yang akan menggantikannya yang akan sunyi dari kebencian manusia, akan ada-ada saja cacatnya pada mereka.”

Zubair dan Sa’ad pun pergi. Setelah itu, dipanggilnya Ali, lama sekali keduanya bercakap-cakap. Sementara itu, Ali sendiri tidak syak lagi bahwa ia yang akan beruntung memperoleh pangkat ini. Setalah itu dipanggilnya ustman, lama pula meraka bercakap-cakap sampai tiba waktu subuh yang memisahkan mereka. Usai subuh Abdurahman memerintahkan orang-orang berkumpul.

Setelah semua berkumpul dipanggilnya pula Ali berkata, “Hendaklah engkau memegang teguh janji Allah, hendaklah engkau mengetahui benar akan kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, dan perjalanan kedua khalifah yang mengantikannya.” Ali menjawab, “Aku akan berusaha sehabis dayaku dan sekadar ilmuku.”

Kemudian, dipanggilnya pula Utsman, dan diberinya pula pengajaran sebagaimana yang diberikannya kepada Ali. Utsman pun menjawab, “Baiklah”. Baru saja Utsman menjawab baiklah, Abdurrahman langsung memegang tangannya dan mengucapkan baiatnya dan menetapkan Utsman sebagai khalifah. Melihat itu, Ali tercengang lalu berkata kepada Abdurrahman, “Telah engkau jauhkan jabatan itu dariku sejauh kiamat. Bukankah baru hari ini saja yang mula-mula kamu bersikap begini kepadaku, sebaiknya aku bersabar. Semoga Allah menolongku atas perbuatanmu itu, “Abdurrahman, Tidaklah engkau mengangkat Utsman, hanyalah dengan maksud agar pekerjaan ini jatuh pula ke tangan engkau nanti. Memang tiap-tiap hari lain-lain saja yang terjadi”.

Dengan tenang Abdurrahman menjawab, “Hai Ali, janganlah engkau menjadikan pekerjaan ini untukmu karena aku telah menilik dan menyelidiki banyak orang, tidak seorang pun yang suka menukar Utsman dengan yang lain” Mendengar jawaban itu, Ali pun keluar dengan muka muram dan berkata, “Tentu janji ini akan sampai juga pada masanya.”

Orang banyak pun tampil berduyun-duyun menyatakan baiat masing-masing. Melihat itu, Ali pun kembali dan ikut memberikan baiat kepada Utsman. Pada hari itu juga setelah banyak orang selesai memberikan baiatnya ke- pada Utsman, barulah Thalhah, sebagai salah seorang dari enam anggota panitia pemilihan, muncul di Madinah. Thalhah langsung pergi ke tempat pertemuan yang hampir bubar Utsman berkata terus terang, “Semua telah mengakuiku, tetapi kalau engkau tidak setuju, aku dapat meninjaunya kembali.” Thalhah menjawab, “Kalau banyak orang telah menyatakan persetujuan dengan baiat, aku pun akan memberikan baiat pula. Berikanlah tanganmu.” Dengan demikian, tetaplah Utsman menjadi khalifah, Amirul Mu’minin, pada hari Senin pengujung bulan Dzulhijjah tahun 23 H.

Proses suksesi dari Umar kepada Ustman terbilang sulit dan menengangkan, terutama bagi Bani Hasyim dan Bani Ummayah. Cara yang ditempuh Abdurahman sebagai ketua komisi atau kedua dewan suro hampir sama dengan cara pengangkatan Abu Bakar. Seseorang yang dapat dipercaya dapat mengambil keputusan dan menetapkan. Jika dulu Umar dan Abu Ubaidah membait Abu Bakar, sebagai Khalifah pertama sedangkan Abdurahman menempuh cara yang hampir sama ia membait Ustman sebagai khalifah ketiga.

Ustman memimpin umat islam selama 11 tahun. Kekuasaan Islam semakin meluas, ke barat hingga ke afrika utara, timur hingg Khurasan sampai ke Armenia dan Ajerbaijan, ke utara hingga Syam, Siprus.

Massa pemerintahan Ustman mulai terjadi hura-hura, hingga seorang demonstran yang telah 40 hari mengepung rumahnya merangsek masuk dam menikam Ustman. Nailah isterinya yang hendak menghalangi juga putus jarinya. Darah Ustman membasahi Al Qur’an yang tengah dibacanya. Ustman tutup usia pada tahun 35 H dalam usia 81 tahun.

Pasca kematian Ustman suara terbanyak mengehendaki Ali menjadi Khalifah. Awalnya Ali menolak, namun karena derasnya desakan permintaan, Ali menerima amanah sebagai pemimpin umat Islam. Kecuali Bani Umayyah, yang dikomandoi oleh Mu’awiyah bin Abu Syofyan, sepupu Ustman yang mensyaratkan akan membai’t Ali jika pelaku pembunuh Ustman telah diqhisas. Tentu saja Ali kesulitan menghakimi pembunuh Ustman, karena saat kejadian demonstran sedang mengamuk, keadaan sedang kacau, tidak jelas siapa yang menusuk Ustman. Ali meminta waktu untuk menyelidika kasus ini, namun Mu’awiyah tidak bisa bersabar atas kematian sepupunya.

Sesaat setelah dibai’at Ali berpidato, “Wahai manusia, kamu telah membaiatku sebagaimana yang telah kamu iakukan ke- pada khalifah-khalifah yang lebih dahulu daripadaku. Aku hanya boleh menolak se- belum jatuh pilihan. Apabila pilihan telah jatuh, menolak tidak boleh lagi. Imam harus teguh dan rakyat harus patuh. Baiat terhadap diriku ini ialah baiat yang rata yang umum. Barangsiapa yang memungkirinya maka ter- pisahlah ia dari agama islam.”

Thalhah dan Zubair yang mula-mula enggan, tetapi kemudian mereka ikut juga membaiat karena dipaksa oleh kaum pemberontak. Kemudian, keduanya meminta izin kepada Ali hendak pergi naik haji, mereka pun diberi izin. Sebelum terjadi huru-hara yang mengerikan itu (terbunuhnya Utsman) Aisyah telah lebih dahulu berangkat ke Mekah untuk mengerjakan ibadah umrah, ketika itu Utsman sedang dalam pengepungan. Kemudian, pergilah Thalhah dan Zubair menuruti Aisyah.

Ada juga sahabat-sahabat yang masih belum sudi mengakui Ali sebagai khalifah, yaitu Hasan ibnu Tsabit, Ka’ab ibnu Malik, Abu Sa’id al-Khudri, dan Muhammad ibnu Maslamah. Ada pula yang tidak sudi menunjukam pendirian. Tidak menolak namun juga tidak menyetujui seperti : Sa’ad bin Abi Waqqash, Abdullah bin Umar, Shuhaih, Zaid bin Tsabit dan Usamah bin Ziad.

Dari keempat Khulafaur Rasyidin, cara pengakatannya juga berbeda-beda. Seandainya keinginan umat Islam mendirikan Khalifah terwujud bagaimana cara pemilihan khalifah nantinya ?

  • Disarikan dari Sejarah Umat Islam, Karya Hamka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close