Di Kampung Kami Tidak Ada Ustadz

Di Pariaman, kami menyebut Tuangku, sedangkan dalam Bahasa Indonesia banyak padaanannya ; Ustadz, da’i, penceramah, kyai. Namun sebagian besar orang menyebut Ustadz.
Tuangku, seorang yang telah menyelesaikan pendidikan Agama Islam di Surau selama 7-9 tahun, kadang lebih. Selama menjalani pendidikan ia beri gelar Pakiah, (Santri kalau di Pesantren). Selama menjadi Pakiah bermukim di surau, menjalani proses mengaji “baonggok” atau halaqah, tanpa kelas seperti pesantren.

Setelah menempa diri hingga dianggap cukup ilmu yang telah diajarkan oleh sang guru, maka akan diberikan ijazah untuk mengajar, memberikan tausiah, ceramah agama. Dan itu belum cukup, ia belum bisa menyandang gelar Tuangku sebelum “dilewakan”. Semacam seremonial penobatan. Menggelar kenduri dengan memotong seekor sapi atau beberapa kambing untuk menjamu masyarakat yang menghadiri proses penyematan gelar Tuangku.

Dengan “dilewakan” kepada masyarakat luas, sang guru dan Surau yang melantik punya tanggung-jawab moral terhadap seorang yang telah dianugerahi gelar Tuangku. Dan Tuangku yang baru diangkat pun mesti menjaga muru’ah sang guru dan suraunya. Dengan demikian guru dan surau tidak sembarangan memberi gelar Tuangku kepada murid. ada banyak Pakiah seumur hidup, karena sang guru merasa muridnya belum layak menyandang gelar Tuangku. Dan seorang yang menyandang gelar Tuangku meski siap saat ditanya dima tuangku mangaji? Berbeda dengan seorang yang dipanggil Ustadz, ia tidak akan ditanya dimana ia mendapatkan gelar Ustadz.
Jelas beda dengan kampus yang mengobral gelar Prof. HC. Profesor Tidak tetap, (part time, kadang profesor, kadang tidak tergantung hari dan cuaca😂)

Hingga saat ini masyarakat Pariaman (terutama yang tradisional) masih menyebut Tuangku, panggilan untuk orang alim, orang siak, orang yang menguasai ilmu-ilmu agama Islam. Dan semoga seterusnya pun begitu, jangan pula ikut-ikutan memanggil Ustadz. Soalnya panggilan Ustadz saat ini telah terdistorsi. Mulai dari dukun pengganda uang penasihat spritual artis, pejabat dan politisi, psikolog dan motivator yang berlalu lalang di televisi, ahli pengobatan herbal, hingga guru matematika tamatan perguruan tinggi sekuler yang mengajar di SDIT, politisi yang sedang ikut kontestasi Pileg, Pilkada, semua ingin dipanggil Ustadz dan Ustadzah, bahkan isteri ustadz juga minta dipanggil ustadzah. Setidaknya, dimata saya panggilan Tuangku terdengar lebih keren. Mari kita uji ; Tuangku Imam Bonjol, Tuangku Rao, Tuangku Lintau, Tuangku Tambusai. Bandingkan dengan dengan Ustadz Orange, Ustadz Pink, Ustad Gondrong. Lebih keren mana?

Bagi kami di Pariaman, Tuangku tidak punya spesialiasi, seperti Ustadz-Ustadz di kota besar. Ada ustadz spesialis dakwah ke diskotik, ada ustadz spesialis dakwah ke selebritis, ada ustadz khusus dakwah ke lokalisasi, ke pecandu narkoba, ke sosialita, ke pejabat dan banyak lainnya. Setelah seseorang dinobatkan sebagai Tuangku, ia akan terjun ke masyarakat segala urusan terkait agama, mulai dari imam sholat berjamaah, pemimpin do’a acara syukuran, aqiqah, hingga memimpin penyelenggaran jenazah. Tidak hanya dalam urusan agama saja mereka dibutuhkan, bahkan seorang Tuangku juga sebagai penengah (mediasi) dalam pertikaian antar saudara, ‘badunsanak”, “bakaum” hingga menyelesaikan perkelahian antar kampung. Bahkan kadang juga menjadi panasihat suami-isteri yang bertengkar.

Selain tidak punya spesialiasi seperti Ustadz-ustadz metropolitan, Tuangku di kampung-kampung juga tidak sesering Ustadz-Ustadz spesialis berkhotbah dari mimbar, di Youtube, di Facebook dan Instagram dengan adu dalil, namun lebih banyak lansung turun ke mendampingi masyarakat, bersentuhan lansung dengan ummat. Ilmu mereka pun mungkin tidak setinggi ustadz-ustadz tersohor di televisi dan youtube tapi dari amal (interaksi dengan ummat) bisa jadi mereka lebih unggul. Bukankah amal lebih tinggi daripada sekadar ilmu?

Dan ini yang tak kalah penting, semua tanpa bayaran, apalagi tarif. Tidak ada honor untuk imam dan khotib sholat Jum’at, bahkan sebulan penuh mengimami sholat Taraweh di Surau mendapatkan tidak mendapatkan honor. Kalau pun boleh dianggap bayaran, paling kalau ada perantau yang pulang saat lebaran, ia akan menghadiahkan sarung, peci atau baju takwa kepada Tuangku yang telah mengimami sholat Taraweh ibu-bapak dan dunsanaknya selama Ramadhan dan mengurus segala hal terkait urusan keagamaan.

Bagaimana Tuangku menafkahi keluarga? Sama seperti masyarakat lainnya, mereka menafkahi keluarga dari bertani, berternak, dan ada pula yang menjadi pedagang kecil. Apa saja yang penting halal dan tidak hidup dari sedekah jamaah. Bukankah Rasulullah menolak sedekah dari Salmam Al Faridzi dan menerima hadiah darinya.

Dulu saya heran dan barangkali sedikit kaget dengan Ustadz spesialis di kota besar. Ada Ustadz Gaul, Ustadz Selebritis, Ustadz Sosialita, Ustadz Politisi, Ustadz Diskotik, Lokalisasi dan lainnya. Namun belakangan mulai paham alasannya. Barangkali memang ada medan-medan dakwah yang belum tersentuh kalau masih mengandalkan dakwah konvensional di mimbar masjid dan musholla. Meskipun sebagian orang dan kelompok masih belum menerima pembenaran ini. Namun setidaknya ada alasan.

Belum habis heran saya saya dengan Ustadz-Ustadz spesialis berdasarkan medan dakwah ini, kini muncul lagi Ustadz yang melabeli dirinya dengan Ustadz Orange, Ustadz Pink, Ustadz Gondrong, lalu menjadikan ‘tempelan-tempelan’ ini sebagai brand dalam mengumpulkan follower (jamaah). Beberapa tahun lalu saya pernah berpapasan di jalan dengan Ustadz Pink . Mobilnya pink dan pada kaca bagian depan tertera “Ustadz Pink”. Seluruh pakaian dan aksesoris yang menempel pada pada tubuhnya berwarna Pink.

Sekitar dua atau tiga tahun lalu ada sinetron saat menjelang sahur. Sebuah sinetron satire, barangkali sutradara ingin menyindir bagaimana dunia dakwah saat ini. Seorang yang tak punya ilmu agama sama sekali didandani menjadi Ustadz sedemikian rupa. Lalu mendapat undangan tausiah kemana-mana. Melalui sebuah ear phone wireless seseorang di belakang layar yang paham agama akan membisikan ceramah yang akan disampaikan kepada jamaah dan tentunya juga membantu Ustadz yang didandani ini menjawab pertanyaan-pertanyaan jamaah.

Berbeda dengan Ustadz spesialis berdasarkan medan dakwah, Untuk Ustadz spesialis dengan ‘tempelan-tempelan’ seperti ini saya belum bisa memahaminya saat ini semoga suatu saat nanti bisa paham. Untuk sementara saya percaya dengan yang pernah diramalkan H. Agus Salim 70 tahun silam, bahwa akan tiba masanya nanti profesi da’i (Ustadz) tidak ubahnya seperti profesional lainnya, seperti dokter, pengacara, bintang film, ahli bangunan. Maka dari itu mereka harus bisa memoles diri, mengosok-gosok agar mengkilap. Hari ini dunia dakwah sudah seperti industri sedangkan pelakunya profesional yang berorientasi kepada materi. Jadi tak perlu heran untuk mengundang Ustadz tersohor harus disiapkan amplop Rp Rp 5.000.000, Rp 10.000.000, atau Rp 20.000.0000 untuk satu sesi ceramah. Jika keluar kota panitia mesti menyediakan Presiden Room hotel bintang 5 dan mensyaratkan mobil antar-jemput Ustadz minimal Alphard.

Al Albana, Andalas, 01 Dzulqa’idah 1442

Kategori Esai
%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close