Bung Karno Dengan Ranah Minang

Soekarno memang sempat populer dan memikat hati masyarakat Minang pada masa pergerakan kemerdekaan. Barangkali karena banyak sahabat seperjuangan Bung Karno yang berasal dari Ranah Minang. Seperti Tan Malaka, Hatta, Sjahrir, Agus Salim, Hamka, Muhammad Yamin, Natsir dan lainnya. Ketika khabar Proklamasi Kemerdekaan sampai ke Ranah Minang rakyat dan pemuka masyarakat Minang lansung menyatakan diri bergabung dengan Republik Indonesia yang baru lahir ini, tanpa pikir panjang, seperti yang terjadi di Sumatera Timur–sempat terjadi pergolakan sosial akibat beberapa Kesultanan masih enggan bergabung dengan Republik yang baru berdiri. Hal ini karena akan menggangu kekuasaan para bangsawan sebagai penguasa Tanah Melayu selama ini, sedangkan rakyat gegap gempita ingin bergabung dengan Republik yang baru lahir. Penyair Amir Hamzah yang merupakan penerus Kesultanan Deli terbunuh pada konflik sosial ini.
Jadi anak biologis dan ideologis Bung Karno tak perlulah meragukan kesetiaan Ranah Minang terhadap NKRI.

Barangkali ada dua penyebab masyarakat Minang dengan senang hati bergabung dengan bayi Republik Indonesia. Pertama, banyaknya putera Minang yang berjuang mendirikan Republik Indonesia di Batavia. Dan yang kedua tidak seperti Sumatera Timur masih ada Kesultanan Deli, Kesultanan Langkat, Kesultanan Asahan, Kesultanan Serdang yang mempunyai kekuasaan penuh sebelum Kemerdekaan Indonesia, sedangkan di Ranah Minang nyaris tidak tersisa lagi Kerajaan maupun Kesultanan, bahkan sudah sejak lama. Jadi tidak ada bangsawan yang merasa kehilangan kekuasaan karena bergabung dengan Republik Indonesia yang masih bayi.

Bung Karno juga diterima sebagai “Urang Sumando” ketika ia kepincut kepada gadis Minang, puteri tokoh Muhammadiyah yang tinggal di Bengkulu.

Saat kedatangan Jepang, Bung Karno sedang di Bengkulu. Beliau diungsikan ke Padang oleh Belanda. Sekitar 5 bulan ia tinggal dan keliling seluruh Ranah Minang. Saat berkunjung ke Perguruan Darul Funun El Abbasiyah, Padang Japang, Lima Puluh Koto. Syekh Abbas memberikan saran jika negera yang diperjuangkannya kelak tercapai jangan lupa konsep ketuhanan menjadi salah satu dasar negara. Sila Pertama.

Pasca Proklamasi perang terus berkecamuk karena agresi militer yang dikerahkan Belanda untuk menguasai kembali Indonesia. Masyarakat Minang pun tak luput mempertahankan kemerdekaan. Bahkan ketika Soekarno dan Hatta ditawan dan Jogja sebagai pusat pemerintahan berhasil dikuasai Belanda. Sjafruddin Prawiranegara mendirikan Pemerintahan Darurat Republik Indonesia di Bukittinggi untuk mempertahankan kemerdekaan yang baru diraih.

Bung Besar yang jago berorator memang seorang flamboyan yang pandai memikat hati, tidak hanya memikat wanita tapi juga masyarakat luas. Ketika berkunjung ke Maninjau tahun 1948, beliau memuji-muji keindahan alam Maninjau di tengah masyarakat ramai yang tengah mendengar pidatonya. “Saya adalah anak emas orang Maninjau” ujarnya. Tentu saja semua kaget. Keturunan Bali-Jawa mengaku sebagai Orang Maninjau. “ketika almarhum Haji Rasul (Ayah Buya Hamka) masih hidup di Jakarta, di telah berkata kepadaku : Engkau adalah anakku, hai Karno!, Sebab itu pandanglah Bung Karno sebagai memandang orang Maninjau sendiri” lanjut Bung Karno…(Dikutip dari Kenang-kenangan Hidup, Buya Hamka). Begitulah cara Bung Karno memikat hati rakyat. Bandingkan dengan pernyataan cucunya Puan Maharani yang bikin heboh tempo hari. Ternyata benar, genetika memang diwariskan namun intelektual tidak. Ia mesti diasah sendiri.

Hamka yang masih tinggal di Ranah Minang kala itu menghadiahkan Bung Karno sebuah puisi yang sangat indah pada pertemuan itu, dengan judul “Sansai Juaku Sudahnya”, sebelum Bung Karno bertolak ke Jakarta. Puisi yang menyatakan kebanggaan masyarakat Minang kepada Bung Karno.

Namun, lambat laun masyarakat Minang kecewa pada Insinyur ITB koletor lukisan ini. Satu persatu orang Minang yang menjadi sahabatnya, yang bahu membahu mendirikan Republik ini, yang menjadi pendukungnya dalam revolusi, disingkirkan, dengan berbagai cara.

Tan Malaka meregang nyawa oleh timah panas di Selopang, Kediri, Syahrir meninggal dengan status tahanan politik. Hanya sahabat dekatnya, Hatta yang diperlakukan sedikikt lebih baik dibanding lainnya. Natsir dan Hamka dipenjara tanpa pengadilan. Dan terakhir Fatmawati yang telah bersusah payah mendampinginya memilih meninggalkan Istana ketika Bung Karno menikah lagi dengan Hartini tahun 1954.

Puncak kekecewaan masyarakat Minang ketika PRRI meletus. Sebuah pergolakan menuntut pemerataan pembangunan dijawab dengan pengerahan militer yang dipimpin Ahmad Yani. Sejak itu nama Soekarno seperti “kartu mati” di Ranah Minang.

Diperparah lagi desoekarnoisasi pada massa Orde Baru. Itulah sebabnya anak biologis dan ideologis Soekarno tidak akan pernah laku di Ranah Minang. Buktinya dua kali Pilpres belakangan. Bukan karena masyarakat Minang terpesona kepada mantan menantu penguasa Orde Baru, ini dan tidak pula karena ayahnya, Soemitro pernah bergabung dengan PRRI, sehingga Prabowo dianggap anak ideologis Minang, namun karena hati masyarakat Minang sudah tertutup untuk segala hal yang berbau Soekarno. Kecewa.

***

الالبن، Andalas, 16دزولقاده ١٤٤٢


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close