Kenang Kenangan Hidup

Sebagaimana otobiografi lainnya, Kenang-Kenangan Hidup yang memuat riwayat hidup Hamka tentu punya keunikan masing-masing. Namanya juga perjalanan hidup pasti tidak ada yang sama. Kesamaan setiap otobiografi adalah perbedaan dan keunikan kisah hidup masing-masing tokoh.

Otobiografi merupakan perjalanan hidup yang ditulis sendiri. Begitu pula Kenang-Kenang Hidup ini. H. Abdul Karim Malik Amrullah yang kita kenal dengan Buya Hamka menceritakan tentang perjalanan hidupnya dari kecil, semampu beliau mengingat yaitu kira-kira usia 4 tahun hingga berakhir revolusi mempertahankan kemerdekaan, sekitar tahun 1950.

Buku ini merupakan gabungan 4 buku yang diterbitkan secara terpisah pada tahun 1951. Buku pertama diterbitkan oleh Gapura, Jakarta Februari 1951 yang berkisah fase kehidupan Hamka dari kelahiran hingga pernikahannya Siti Raham tahun 1927. Buku kedua diterbitkan oleh Gapura, Jakarta, juga pada Februari 1951 bercerita awal mula beliau menjadi penulis pada tahun 1928 hingga jatuhnya kekuasaan Kolonial Hindia Belanda akibat ekspansi Jepang pada tahun 1943. Buku ketiga juga diterbitkan oleh Gapura, Jakarta pada tahun 1951 berkisah tentang perjalanan hidup Hamka sejak kedatangan Jepang, dan beliau menjabat menjadi Penasihat Tinggi agama Islam Sumatera Timur pada massa pendudukan Nippon hingga Kemerdekaan Indonesia. Sedangkan buku keempat terbit pada 1952, berisi fase kehidupan Hamka sejak kemerdekaan hingga akhir revolusi mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Yang menjadi pembeda Kenang-Kenangan Hidup dengan otobiografi lainnya yaitu, pada buku ini Buya Hamka tidak meyebut ; saya, Aku, Denai, Aden, Ambo sebagai kata ganti orang pertama tunggal dalam menceritakaan kisah hidupnya sebagaimana otobiografi lainnya, akan tetapi Buya Hamka menyebut dirinya “Kawan Kita” untuk menyebut Abdul Malik kecil hingga remaja, selanjutnya saat Abdul Malik telah remaja hingga dewasa, Buya Hamka menyebut “Remaja Kita” dan setelah dewasa Hamka menyebut “Bung Haji” untuk menceritakan H. Abdul Malik Karim Amrullah (Hamka).

Dari sudut pandang penulis yang menepatkan dirinya sebagai orang ketiga tunggal dengan menyebut tokoh yang diceritakannya dengan sebutan “Kawan Kita”, “Remaja Kita” dan Bung Haji” seolah-olah buku ini ditulis oleh seseorang yang merekam perjalanan hidup Buya Hamka.

Jika kita simak karya sastra minang tempo dulu, seperti pantun, lagu, hikayat memang tidak selalu menggunakan kata “denai”, “ambo”, “aden” sebagai kata ganti orang pertama tunggal. Selain “denai”, kata ganti sebagai orang pertama tunggal yang sering digunakan adalah “Anak Dagang” atau “Dagang”. Seperti lirik Syair Sunur, yang ditulis pada tahun 1850.

Lamalah tuan dagang tinggalkan
habislah tahun baganti zaman
satupun tidak dagang kirimkan
dikarang surat kaganti badan

Paragraf di atas merupakan cuplikan syair sunur. Penyair menyebut dirinya “dagang”.

Pada Syair Sunur ini penulis menggunakan kata “dagang” sebagai orang pertama tunggal.

Itulah kehebatan Hamka dalam hal menulis, beliau dapat menghadirkan sesuatu yang berbeda dari yang lain. Satu hal lagi dalam buku ini, Buya Hamka berkali-kali menyebut dirinya pengarang. Beliau lebih nyaman dengan sebutan itu dibanding dipanggil Ustadz, Ulama, namun bagaimanapun jua sebutan Buya yang telah menempel pada dirinya tak kuasa beliau tolak.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close