Tudingan & Klaim Minang Turunan Wahabbi Ahistoris Dua kali pilpres capres jagoan kelompok nasionalis keok, tak berdaya di Sumatera Barat yang mayoritas etnis Minang. Capres yang dipoles dan didandani serta dilabel wakil kelompok Islam meraih lebih 80% suara di Sumbar. Meskipun belakangan masyarakat Minang seperti ‘dapek katan ndak bakarambie’ karena sang capres berjubah Islami ini menyeberang ke kolam sebelah. Kegagalan Capres dari kelompok Pancasilais Tulrn ini di Ranah Minang mengakubatkan muncul tudingan masyarakat Minang radikal, anti Pancasila, tidak nasionalisme, intoleran karena nenek Nenek Moyang mereka Wahabbi. Keturunan Tuangku Imam Bonjol dengan gerakan Paderi yang ingin mendirikan negara Islam di Minangkabau. Sebenarnya tudingan kubu Nasionalis seperti ini ‘manapuak aie di dulang’ (menepis air di dulang), kecipratan muka sendiri. Paderi tidaktunduk dan melawan penjajahan kolonial Belanda, maka kini anak-cucu Paderi tidak mau tunduk kepada siapa? Artinya kubu nasionalis menempatkan dirinya seperti kolonial Belanda yang tengah berhadapan dengan anak-cucu Paderi. Jika ditilik lebih lanjut tudingan bahwa gerakan Paderi merupakan Kelompok Wahabbi yang ingin menerapkan syariat Islam di Minangkabau jelas keliru, ahistoris, itu jika Wahabbi yang dimaksud dengan salafy saat ini. Paderi ingin menerapkan syariat Islam benar, tapi bukan Wahabbi/Salafy. Kemiripan antara Wahabbi dengan Paderi jelas ada. Sama-sama mengusung semangat purifikasi, pemurnian Islam. Tapi ingat mirip bukan berarti sama. Kadal mirip buaya, tapi bukan buaya, bergitu pula cicak mirip kadal, tapi bukan kadal. Tudingan gerakan Paderi berpaham Wahabbi pertama kali muncul dari MO Parlindungan dengan buku ; Pangki Nainggolan Sinambela Gelar Tuanku Rao ; Teror Agama Islam Mahzab Hambali di Tanah Batak (1816-1833) terbit pertama tahun 1964. Tudingan yang hendak menggugat Gelar Pahlawan Nasional yang diberikan kepada Tuanku Imam Bonjol karena telah melakukan genosida terhadap rakyat Batak dalam menyebarkan Islam. Tudingan ini telah dibantah oleh Buya Hamka dengan buku Tuanku Rao Antara Khayalan dan Fakta. Ada beberapa hal yang membedakan antara Paderi dengan Wahabbi/Salafy di antaranya; (1) Harimau Salapan pernah meminta pernah meminta dukungan kepada Tuanku Nan Tuo. Tuanku Nan Tuo merupakan sufi besar tharikat Syattariyah di Minang Darek, sedangkan Wahabbi/salafy sangat antipati kepada tasawuf. Bahkan Tuangku Imam Bonjol dan tokoh Paderi lainnya merupakan pengikut tharikat Syattariyah dan Naqsabandiyah. (2) Paderi merayakan Maulid Nabi. Benar Paderi melarang ummat menyabung ayam, berjudi, mabuk dan segala maksiat lainnya, namun Paderi tidak melarang perayaan maulid, bahkan Tuanku Imam Bonjol sangat menganjurkan peringatan Maulid Nabi sebagai bentuk syiar Islam agar menciutkan nyali musuh ; Kolonial Hindia Belanda. Dengan dua alasan ini sudah cukup untuk membantah tudingan kubu nasionalis bahwa masyarakat Minang Radikal karena telah terpapar Wahabbi sejak zaman Paderi, seperti ucapan Ketua umum sebuah Ormas Islam terbesar Islam Indonesia tiga tahun silam; “Mohon maaf, gerakan radikal masuk ke Nusantara dimulai oleh Imam Bonjol dengan pasukan Padrinya, tetapi beliau berhadapan dengan Belanda. Jadi, ndak sampai ngurusin domestic yang di luar Belanda. Imam Bonjol juga gerakannya wahabi, tetapi waktu itu Imam Bonjol yang dihadapi Belanda penjajah.” Dengan dua alasan di atas, itu selain untuk membatah tudingan kubu Nasionalis Akut, Pancasialis Tulen serta penghayat rahayu juga sudah cukup untuk menggugurkan klaim kelompok Islam yang kerap mendaku sebagai pewaris gerakan Paderi, anak-cucu Ideologis Tuangku Imam Bonjol. Satu lagi juga menggugurkan tuduhan bahwa Tasawuf merupakan ciptaan Kolonial untuk melemahkan semangan perlawan ummat Islam atas penjajahan Eropa.

Dua kali pilpres capres jagoan kelompok nasionalis keok, tak berdaya di Sumatera Barat yang mayoritas etnis Minang. Capres yang dipoles dan didandani serta dilabel wakil kelompok Islam meraih lebih 80% suara di Sumbar. Meskipun belakangan masyarakat Minang seperti ‘dapek katan ndak bakarambie’ karena sang capres berjubah Islami ini menyeberang ke kolam sebelah. Kegagalan Capres dari kelompok Pancasilais Tulrn ini di Ranah Minang mengakubatkan muncul tudingan masyarakat Minang radikal, anti Pancasila, tidak nasionalisme, intoleran karena nenek Nenek Moyang mereka Wahabbi. Keturunan Tuangku Imam Bonjol dengan gerakan Paderi yang ingin mendirikan negara Islam di Minangkabau. Sebenarnya tudingan kubu Nasionalis seperti ini ‘manapuak aie di dulang’ (menepis air di dulang), kecipratan muka sendiri. Paderi tidaktunduk dan melawan penjajahan kolonial Belanda, maka kini anak-cucu Paderi tidak mau tunduk kepada siapa? Artinya kubu nasionalis menempatkan dirinya seperti kolonial Belanda yang tengah berhadapan dengan anak-cucu Paderi.

Jika ditilik lebih lanjut tudingan bahwa gerakan Paderi merupakan Kelompok Wahabbi yang ingin menerapkan syariat Islam di Minangkabau jelas keliru, ahistoris, itu jika Wahabbi yang dimaksud dengan salafy saat ini. Paderi ingin menerapkan syariat Islam benar, tapi bukan Wahabbi/Salafy. Kemiripan antara Wahabbi dengan Paderi jelas ada. Sama-sama mengusung semangat purifikasi, pemurnian Islam. Tapi ingat mirip bukan berarti sama. Kadal mirip buaya, tapi bukan buaya, bergitu pula cicak mirip kadal, tapi bukan kadal.

Tudingan gerakan Paderi berpaham Wahabbi pertama kali muncul dari MO Parlindungan dengan buku ; Pangki Nainggolan Sinambela Gelar Tuanku Rao ; Teror Agama Islam Mahzab Hambali di Tanah Batak (1816-1833) terbit pertama tahun 1964. Tudingan yang hendak menggugat Gelar Pahlawan Nasional yang diberikan kepada Tuanku Imam Bonjol karena telah melakukan genosida terhadap rakyat Batak dalam menyebarkan Islam. Tudingan ini telah dibantah oleh Buya Hamka dengan buku Tuanku Rao Antara Khayalan dan Fakta.

Ada beberapa hal yang membedakan antara Paderi dengan Wahabbi/Salafy di antaranya; (1) Harimau Salapan pernah meminta pernah meminta dukungan kepada Tuanku Nan Tuo. Tuanku Nan Tuo merupakan sufi besar tharikat Syattariyah di Minang Darek, sedangkan Wahabbi/salafy sangat antipati kepada tasawuf. Bahkan Tuangku Imam Bonjol dan tokoh Paderi lainnya merupakan pengikut tharikat Syattariyah dan Naqsabandiyah. (2) Paderi merayakan Maulid Nabi. Benar Paderi melarang ummat menyabung ayam, berjudi, mabuk dan segala maksiat lainnya, namun Paderi tidak melarang perayaan maulid, bahkan Tuanku Imam Bonjol sangat menganjurkan peringatan Maulid Nabi sebagai bentuk syiar Islam agar menciutkan nyali musuh ; Kolonial Hindia Belanda.

Dengan dua alasan ini sudah cukup untuk membantah tudingan kubu nasionalis bahwa masyarakat Minang Radikal karena telah terpapar Wahabbi sejak zaman Paderi, seperti ucapan Ketua umum sebuah Ormas Islam terbesar Islam Indonesia tiga tahun silam; “Mohon maaf, gerakan radikal masuk ke Nusantara dimulai oleh Imam Bonjol dengan pasukan Padrinya, tetapi beliau berhadapan dengan Belanda. Jadi, ndak sampai ngurusin domestic yang di luar Belanda. Imam Bonjol juga gerakannya wahabi, tetapi waktu itu Imam Bonjol yang dihadapi Belanda penjajah.”

Dengan dua alasan di atas, itu selain untuk membatah tudingan kubu Nasionalis Akut, Pancasialis Tulen serta penghayat rahayu juga sudah cukup untuk menggugurkan klaim kelompok Islam yang kerap mendaku sebagai pewaris gerakan Paderi, anak-cucu Ideologis Tuangku Imam Bonjol. Satu lagi juga menggugurkan tuduhan bahwa Tasawuf merupakan ciptaan Kolonial untuk melemahkan semangan perlawan ummat Islam atas penjajahan Eropa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close