Gerakan Paderi ; Katalis Pribuminisasi Islam di Minangkabau

Kenapa Kerajaan Pagaruyung Bukan Kesultanan Pagaruyung ?

Perang Paderi awal yang terjadi antara Kaum Paderi (Reformis Islam) vs Kaum Adat (Kerajaan Pagaruyung) 1803-1821 sebelum ikut campur Kolonial Hindia Belanda termasuk hal yang unik dan menarik untuk dicermati. Dalam catatan sejarah Islam di Sumatera hampir tidak ada konflik antara Islam dam tradisi yang lebih besar dibanding yang terjadi di Ranah Minang. Mulai dari Aceh, Sumatera Timur, Riau-Lingga hingga Palembang. Setelah kedatangan Islam kerajaan² pra Islam berubah menjadi Kerajaan bercorak Islam atau yang lazim disebut Kesultanan.

Kesultanan ini berdiri sejak abad ke-14 bahkan beberapa Kesultanan bertahan hingga tahun 1950 melebur ke dalam NKRI. Kesultanan ini membentang dari paling ujung pulau Sumatera ada Kesultanan Aceh, di Sumatera Timur ada ; Kesultanan Langkat, Kesultanan Deli, Kesultanan Serdang, Kesultanan Asahan. Di Riau ada Kesultanan Riau-Lingga, Kesultanan Siak Sri Inderapura. Di Sumatera Selatan ada Kesultanan Palembang. Semua bercorak Islam. Sultan memerintah didampingi oleh Mufti besar. Ulama punya peran besar dalam pemerintahan. Bahkan beberapa Sultan berdarah Arab. Kecuali di Ranah Minang, masih bercorak kerajaan meskipun telah memeluk Islam. Tidak ada catatan sejarah yang menyebut ; Kesultanan Pagaruyung, Mufti Pagaruyung.

Menarik, kenapa Pagaruyung beda dengan kesultanan daerah Sumatera lainnya.

Sebagian besar Kesultanan Islam di Sumatera berada di pesisir timur pantai Sumatera dengan corak kehidupan maritim, hanya Pagaruyung yang berada di pedalaman dengan kehidupan agraris. Pada zaman dahulu transportasi utama adalah laut, sungai, baru belakangan muncul transportasi darat, setelah kedatangan Kolonial Belanda membangun jalan dan rel kereta api. Mereka yang tinggal di pesisir dengan kehidupan maritim tentu saja banyak bersentuhan dengan segala yang datang dari luar termasuk Islam yang datang dari Arab melalui jalur laut. Islam tidak hanya diterima sebagai agama (laku spritual) namun juga kehidupan sosial ; sistim pemerintahan, ekonomi dan kebudayaan. Berbeda dengan kehidupan masyarakat pedalaman dengan corak kehidupan agraris yang minim bersentuhan dengan masyarakat luar.
Singakatnya masyarakat maritim cepat menerima pembaharuan dan kemajuan zaman sedangkan pedalaman cenderung lebih lambat. Meminjam istilah anak zaman now , masyarakat pedalaman lambat ”move on” Kurang lebih seperti itu yang terjadi di pedalaman Minangkabau sebelum gerakan Paderi.

Meskipun Islam telah merata di Ranah Minang namun secara kebudayaan mereka masih sulit meninggalkan tradisi lama, masa pra Islam. Misalnya tadi sejarah mencatat Kerajaan Pagaruyung, bukan Kesultanan Pagaruyung. Ada yang tahu nama-nama Mufti Besar yang mendampingi Raja² Pagaruyung?
Nama-nama dibawah ini mungkin sering kita temukan dalam Sejarah Islam Sumatera ; Syekh Muhammad Yusuf, Mufti Kesultanan Langkat, Syekh Hasan Ma’soem, Mufti Kesultanan Deli, Syekh Abdul Hamid, Mufti Kesultanan Asahan dan Mufti² lainnya.

Salah satu tuntutan Paderi yang tidak dipenuhi oleh Kerajaan Pagaruyung adalah hal di atas ; minimnya peran ulama dalam Kerajaan Pagaruyung selain kemerosotan moral akibat sabung ayam, judi, minuman keras, tradisi-tradisi Hindu.
Saya membayangkan betapa suramnya ”wajah Islam” Minangkabau seandainya tidak lahir Gerakan Paderi.

Terima Kasih Kaum Paderi
Terima Kasih Tuanku Imam Bonjol
Terima Kasih Harimau Salapan
Meskipun belakangan muncul tudingan Paderi yang dianggap gerakan radikal bahkan, bahkan muncul gugatan terhadap Gelar Pahlawan Nasional Tuanku Imam Bonjol.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close