Kenapa Gagasan Islam Nusantara Ditolak di Sumatera?

Pada mukhtamar Nahdlatul Ulama ke-33 tahun 2015 di Jombang mengukuhkan gagasan Islam Nusantara. Namun hingga kini gagasan Islam Nusantara hanya bergema seputaran Jawa dan beberapa daerah luar Jawa yang dihuni turunan Jawa, seperti di Kalimantan Selatan dan Lampung. Di Sumatera pada umumnya gagasan Islam Nusantara tidak mendapatkan respon yang positif. Bahkan dibeberapa tempat terjadi penolakan, meski dalam batas wajar.

Gagasan Islam Nusantara yang diusung oleh Kelompok Islam Tradisional Jawa (NU) tidak hanya ditolak oleh kelompok Islam Modernis yang belakangan sering dituding sebagai Islam Transnasional dengan peyorasi Radikal, Taliban atau sebutan buruk lainnya seperti Islam Garis Keras, Jihadis dan lain sebagainya, namun juga ditolak oleh kelompok Islam Tradisional sendiri. Terutama di daerah luar Jawa. Lebih sempit lagi Sumatera.

Saya lahir dan tumbuh dalam lingkungan Islam Tradisional Minang. Sebagian besar amalan kami beririsan dengan NU seperti subuh dengan qunut, Taraweh 23 Rakaat, Azan Jum’at dua kali, Tahlilan, Talqin Mayit, Ziarah Kubur dan banyak lainnya, namun kami tidak merasa sebagai bagian NU, bahkan orang-orang tua pada zaman saya kecil tidak tahu apa itu NU.

Beranjak remaja saya merasa lebih ‘sreg’ dengan Muhammadiyah, dan sampai saat ini sering mengaku sebagai warga Muhammadiyah, namun saya masih merasa bagian Islam Tradisional. Saya menghadiri tahlilan, memperingati 7 hari, 14 hari, 40 hari kematian.

Saya-sebagai bagian dari Islam Tradisional Sumatera- melihat bahwa gagasan Islam Nusantara selama ini muncul dalam wajah yang sangat NU dan sangat Jawa. Dan belakangan gagasan Islam Nusantara disusupi oleh kepentingan politis.

Sementara, secara historis dan politis, ada ‘ketegangan’ antara Jawa dan Sumatera. Begitu juga dengan NU yang walaupun besar namun secara politik ia terkonsentrasi di Jawa saja. Kawasan melayu, meski menganut paham Islam tradisional, tetapi secara politik tidak terafiliasi dengan NU. Di Sumatera Tengah ada Persatuan Tarbiah Islamiah (Perti) yang pernah menjadi Parpol pada masa Orde Lama, di Sumatera Utara ada Al Washiliyah dan Aceh pun kelompok tradisional juga sangat besar namun tidak berafiliasi ke NU.

Orang Sumatera juga menganggap bahwa mereka lebih awal dalam berislam daripada Jawa. Islam masuk dari Aceh, baru menyebar ke kawasan lain di Nusantara. Ada rasa dilangkahi. Senioritas. Tidak pantas Junior (Jawa) mengajar Senior (Sumatera) dalam berislam.

”Untuk belajar Islam disini tempatnya, di Minangkabau bukan di Jawa” tegas Haji Rasul menolak permintaan puteranya Malik ( Buya Hamka). Ketika Hamka menyampaikan keinginannya hendak berkelana ke Jawa untuk memperdalam ilmu agama Islam.

Di samping itu, orang Sumatera merasa tidak ada kebutuhan dengan gagasan Pribumisasi Islam semisal Islam Nusantara di Jawa
Sebab mereka merasa dialog antara Islam dengan budaya lokal (Adat) sudah selesai. Gerakan Paderi pada pada 1820-an, Sengketa Kaum Tuo vs Kaum Mudo pada 1920. Benar-benar telah menyelesaikan pertikaian Islam vs Adat (Tradisi). “Kusuik alah salasai, Karuah alah janiah”. Untuk apa dibahas lagi. Buang energi, yang ada bisa kusut lagi lagi, keruh lagi.
Islam sudah terserap ke dalam sistem identitas mereka. Aceh ya Islam, Melayu ya Islam, Minang ya Islam Clear.

Ini berbeda dengan Jawa. Islam dan Jawa mempunyai jarak, setidaknya pada beberapa bagian belum beririsan. Identitas Jawa dan Identitas Islam tidak identik. Jawa bisa jadi Islam, bisa Hindu, bisa Kejawen, bisa kristen dan lainnya. Makanya butuh upaya pribumisasi untuk mendialogkannya.
Sedangkan Islam di Sumatera telah melewatinya proses yang terjadi di Jawa saat ini lebih dari satu abad lampau.

Sebenarnya sebelum kekalahan Pangeran Diponegoro pada Perang Jawa Identitas Jawa sama dengan Sumatera yaitu Islam. Islam sudah menjadi identitas masyarakat Jawa. Namun setelah Jawa dikuasai sepenuhnya oleh Kolonial Belanda. Islam menjadi ganjalan. Terikan “Kapir Landa” merongrong kekuasan Belanda. Penjajahan tidak akan nyaman selagi Islam masih menjadi indentitas masyarakat Jawa. Mulailah penyapihan antara Jawa dengan Islam. Para Javanolog bekerja keras, membangun narasi kehebatan kebudayaan Jawa Pra Islam. Majapahit dipoles hingga mengkilap. Terlihat jaya dan megah. Pada saat yang sama ke kebudayaan Islam ditutupi dibiarkan berdebu. Bahwa Jawa akan maju berkembang seperti Majapahit dulu jika merawat dan melestarikan kebudayaan Hindu-Budha bukan kebudayaan Islam. Begitu yang dibisikan orientalis pada masa kolonial dahulu. Namun sayang kolonial telah lama hengkang sebagian masih terbuai bisikan itu.

Dan satu hal yang tak boleh luput, bahkan yang terpenting gagasan Islam Nusantara yang mengusung Islam tradisional telah disusupi oleh kepentingan politik juga boncengin oleh kelompok liberal-sekuler. Dengan misi yang sama dengan masa kolonial dulu ; menjinakkan Islam yang selama ini mengganjal “kolonialisme modern”.

Satu lagi, sepintar terlihat tidak berpengaruh namun bisa jadi ini juga faktor yang menyebabkan gagasan Islam Nusantara gagal menembus kelompok Islam Tradisional Sumatera ; masyarakat Sumatera egaliter berbeda dengan kultur NU yang masih ada hierarki.

Itu beberapa hal yang menyebabkan gagasan Islam Nusantara sulit diterima oleh masyarakay Sumatera, barangkali banyak faktor lainnya.

Singkatnya kami di Sumatera umumnya, khususnya Sumatera Barat (Minangkabau) telah melewati proses penyatuan identitas antara Islam dengan Tradisi. Pribuminisasi Islam telah selesai. Barangkali gesekan proses pribuminisasi Islam yang terjadi di Sumatera tempo doeloe tak kalah keras dengan yang terjadi di Jawa saat ini. Setidaknya tergambar pada buku Sengketa Tiada Putus karya Jeffrey Hadler ini.


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close