Dari Raja Menjadi Penggembala

Pada zaman sekarang sulit membayangkan seorang Raja, Presiden, Perdana Menteri atau sebutan lainnya yang setelah digulingkan atau dimakzulkan kehidupan ekonomi dan sosial berubah 180 derajat. Andai–pendukung Jokowi jangan marah dan pembenci Jokowi jangan girang dulu– Jokowi digulingkan mustahil dia akan menjalani hidup seperti Raja yang diceritakan di bawah ini. Karena kita bangsa pemaaf. Begitu konon begitu dituliskan pada buku pelajaran sekolah. Dan sekarang tambah satu lagi ; bangsa pelupa, jika sudah jika terkait politik. Soeharto tak tersentuh hukum setelah digulingkan dari kekuasaannya selama 32 tahun. Soekarno sedikit lebih buruk ; menjadi tahanan rumah selama 5 tahun hingga ajal menjemput.

Tapi tidak dengan pada masa silam. Seorang Raja atau Sultan yang digulingkan bisa saja digantung, kadang dipenggal, ada pula yang dicongkel matanya bahkan juga anggota keluarganya juga dihabisi.

Khalifah Daulah Bani Abbasiyah ke-18, Al Muqtadir Billah dipenggal kepalanya. Selanjutnya dibai’at Al Qahir Billah, saudara Satu bapak beda ibu dari Al Muqtadir Billah, nasib Al Qahir pun berakhir tragis, kedua matanya dicongkel, lalu dipenjara selama sebelas tahun, kemudian dilepaskan dan menjalani hidup sebagai pengemis di Baghdad kota yang dulu menjadi pusat kekuasaanya selama dua tahun. Mati dalam keadaan menderita dan terhina.

Abad ke-4 Hijriah, Islam di Andulusia sudah terpecah-pecah. Masing-masing daerah berdiri sendiri dengan daulah sendiri. Qurthubah (Cardova), Gharnathah (Granada), Asybiliah (Sevilla) dan lainnya. Selain tidak lagi menginduk kepada Daulah Abbasiyah di Baghdad, mereka tidak pula dibawah kekuasaan Daulah Murabithin, Bangsa Moor yang mendirikan Daulah Islamiayah di Afrika Utara (Magribi).

Melihat kekuasaan Islam yang terpecah-pecah ini, bangsa Spanyol mulai bangkit untuk mengusir kekuasaan Islam di Andalusia. Ibnu Abbad, Sultan Asybiliyah (Sevilla) berunding dengan para penasehatnya. Ia mengusulkan agar meminta bantuan kepada Daulah Islam Murabithin di Magribi, Afrika Utara untuk menghadapi perlawanan bangsa Spanyol. Para penasihat dan pembesar tidak setuju dengan usulan Sultan. Mereka takut setelah berhasil melumpuhkan perlawanan bangsa Spanyol, Daulah Murabithin akan menjajah mereka. Ibnu Abbad menjawab ” menjadi penggembala unta di padang pasir Afrika lebih aku sukai daripada menjadi penggembala babi di tanah Spanyol”.

Keputusan telah diambil Ibnu Abbad, bala bantuan yang besar datang dari Afrika Utara untuk menghadapi perlawanan bangsa Spanyol. Perlawanan kaum Nasrani Spanyol berhasil dipatahkan berkat bantuan dari Daulah Murabithin. Namun melihat kemakmuran dan kemajuan bangsa Asybillah, Yusuf Ibnu Tasifin, pemimpin Daulah Murabithin, ingin mengasuai dan menjadikan Asybillah sebagai bagian dari Daulahnya. Apa yang dikhawatirkan oleh penasihat dan pembesar Asybillah dulu menjadi kenyataan. Daulah Murabithin tidak hanya sekadar membantu, namun ada udang di balik batu. Mereka berniat menjajah. Ibnu Abbad menjumpai takdirnya seperti yang dulu pernah diucapkan. Kekuasaanya di rampas, ia ditawan dan dijadikan budak, sebagai penggembala domba di padang pasir Afrika. sampai akhir hayyatnya.

Ibnu Abbad dari raja menjadi penggembala bukan karena kezholiman atau kekejaman selama berkuasa–sudah tepat apa yang diputuskannya meminta bantuan kepada sesama muslim–namun karena takdir.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close