Mensikapi Konflik Antar Sahabat Rasulullah

Bagi yang terbiasa pandangan hitam-putih, mungkin sulit menerima bagaimana sahabat-sahabat utama Rasulullah saling berperang.

Saya menemukan paragraf ini ditulis oleh Ibnu Khaldun dalam buku Muqaddimah. Saya rasa ini pandangan yang paling tepat dalam mensikapi konflik antara Ali bin Abi Thalib vs Mu’awiyah yang berujung para Perang Shiffin.


“Ketika terjadi peristiwa tragis antara Ali dan Mu’awiyah sebagai konsekwensi dari ‘ashabiyah, jalan yang mereka tempuh dalam (perselisihan) itu tetap dianggap sebagai kebenaran dan ijtihad. Mereka tidak saling berperang untuk tujuan duniawi atau preferensi bathil, atau karena alasan permusuhan pribadi, sebagaimana di sangkakan oleh sebagian orang fan didugakan oleh kaum atheis. Akan tetapi, perselisihan mereka disebabkan perbedaan ijtihad mereka tentang kebenaran. Masing-masing pihak mempertahankan ijtihadnya tentang kebenaran dengan menentang pandangan pihak lain, sehingga mereka berperang untuk itu. Meskipun Ali berada pada pihak yang benar, tujuan Mu’awiyah yang mempertahankan pendapatnya tidaklah bathil. Dia menginginkan kebenaran, tetapi salah. Semua benar menurut tujuan masing-masing”

Cara pandang yang serupa barangkali juga tepat untuk mensikapi Perang Jamal, Perang antara Ali dan Ummul Mukminin, Aisyah RA.
Mereka yang telibat konflk hingga pecah Perang Jamal merupakan sahabat-sahabat utama pendamping Rasulullah. Zubeir dan Thalhah yang ada di pihak Aisyah yang berhadapan dengan pasukan Ali merupakan termasuk dalam sepuluh orang yang dijamin Rasulullah masuk surga.

Jika hanya melihat perangnya saja barangkali memang sulit menerima kenyataan bahwa sahabat-sahabat yang mendapat pendidikan lansung dari Rasulullah saling berperang, namun jika kita telisik lebih dalam negosiasi-negosiasi dari kedua belah pihak agar perang tidak pecah. Maka terahlah bagi keutamaan dan kemuliaan sahabat-sahabat Rasulullah ini. Begitu pun jalannya perang kita akan dapat mengetahui betapa mulianya sikap para sahabat ini meskipun dalam perang sekalipun. Ali tak henti-henti berteriak agar Ummul Mukminin dikeluarkan dari medan perang, agar tidak menjadi sasaran pedang dan tombak dari Pasukan Ali. Dan memerintahkan pasukan agar tidak mengarahkan panah dan pedang kepada Aisyah RA. Aisyah RA terus bergerak maju sampai akhirnya Unta yang ditunggangi dirubuhkan oleh Ali, kaki Unta ditebas. Ali mengeluarkan Aisyah dari medan perang dengan sangat baik dan penuh penghormatan.
Begitu pula Zubeir saat perang berkecamuk muncul kesadaran bahwa mereka telah terbakar fitnah. Pelan-pelan ia menarik diri meninggalkan medan perang, kembali ke Madinah.

Pasca perang Aisyah menjauhkan diri dari hiruk pikuk politik yang terus bergejolak. Ia banyak merenung dan menyesali diri karena terlibat dalam dalam perang.

Ali sendiri ketika ditanya tentang orang-orang yang meninggal pada Perang Unta dan Perang Shiffin, menjawab “Demi Allah, semua mereka yang meninggal dengan hati yang bersih pasti akan masuk surga”. Pernyataan ini dinukil oleh Thabari dalam kitab Tarikh ar-rusul wa al-muluk.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close