Phytagoras

Saya mengenal nama Phytogoras pada pelajaran Matematika kelas 2 atau 3 SMP. Dalil Phytagoras. a² + b² = c². Sisi miring (c) adalah akar dari sisi tegak(a) kuadrat ditambah sisi datar (b) kuadrat. Begitu bunyi Dalil Phytagoras yang dijelaskan guru yang saya sudah lupa namanya 35 tahun silam.

Tentu saja tidak diterangkan oleh guru waktu itu bahwa Phytagoras selain ahli matematika juga seorang filsuf. Yang penting murid bisa menyelesaikan contoh soal dengan berbagai kerumitan itu sudah cukup. Tidak perlu kita bertanya untuk apa kita menghitung persamaan matematika yang rumit-rumit, kening mengkerut, bagaimana aplikasinya dalam kehidupan. Apalagi siapa itu Phytagoras. Begitulah kurikulum pelajaran kita dari dulu hingga kini, tak berubah.

Belakangan saya baru tahu bahwa Phytagoras selain ahli matematika juga ahli filosofi atau filsuf. Phytagoras diperkirakan hidup 570-495 sebelum masehi di Samos, Yunani. Pada masa itu Yunani diperintah oleh Polykartes, raja yang tiram dan zalim. Oleh karena itu Phytagoras meninggalkan tanah kelahirannya, mengembara ke seluruh negeri Yunani dan akhirnya sampai di semenanjung Italia dan menetap di Kraton.

Selain seorang alhi matematika dan filsuf terrnyata Phytagoraas juga seorang guru spritual, pemimpin persekutuan bathin. Mirip seperti Mursyd dalam tharikat Islam. Menurut Phytagoras manusia berasal dari tuhan. Jiwa merupakan penjelamaan dari tuhan yang jatuh ke dunia karena dosa . Dan jiwa akan kembali ke langit, ke lingkungan tuhan berasal, jika telah habis dicuci dosanya. Hidup murni adalah jalan untuk menghapuskan dosa. Kemurnian jiwa tidak dapat lansung bisa tercapai, beransur-ansur melalui latihan. Setingkat demi setingkat. Dalam rangka mencapai lemurnia jiwa Ia memerintahkan murid-muridnya agar tidak memakan daging dan kacang-kacangan, mereka hanya memakan sayur dan buah.

Phytagoras dan murid-murid melakukan semacam ‘zikir’ secara terus menerus. Sebelum tidur hendaklah setiap orang mengisap dirinya sendiri ; apa kekurangan hari ini, larangan apa yang aku langgar. Perisksa semua yang kamu lakukan hari ini.

Hidup di dunia ini menurut Phytagoras merupakan persedian untuk akhirat. Bermusik dan melantunkan syair merupakan jalan membersihkan jiwa. Musik mendapat tempat yang mulia dalam kehidupan ‘tharikat” Phytagoras.

Peraturan hidup dalam ‘tharikat’ Phytagoras sangatlah keras dan lagi berat. Setiap orang yang akan diterima menjadi anggota, hendaklah berdiam diri terlebih dahulu, tidak berkata-kata selama 5 tahun.

Phytagoras tidak meninggalkan karya tulis, buku. Oleh karenanya sulit membedakan mana yang keluar dari mulutnya sendiri susah memisahkan dari yang telah ditambahkan oleh murid-muridnya. Pelajaran dari Phytagras dan muridnya telah bercampur. Barangkali hal yang wajar karena masa hidupnya 500 tahun sebelum masehi.

Selain guru spritual, ahli mistik, Phytagoras juga dikenal sebagai ahli pikir, terutama ahli matematik dan ahli hitung. Beliau yang pertama kali memukakan teori dari hal angka-angka yang menjadi dasar ilmu hitung. Ia pula yang mengajarkan bahwa tinggi-rendah bunyi biola berbanding dengan panjang-pendeknya talinya.

Phytagoras tidak hanya menggunakan angka-angka pada perbandingan benda dalam ilmu alam, tapi Phytagoras juga menggunakan matematika (angka-angka). Alam ini menurutnya tersusun dari angka-angka. Bintang di langit mempunyai gerak tertentu dan mempunyai edaran yang pasti dengan irama (rotasi) yang tetap. Sebab itu Phytagoras senang berkata “Kesajahteraan di langit”. Mana yang bergerak, berbunyi. Sebab itu di langit ada bunyi, yang ditumbulkan oleh bintang-bintang. Tinggi-rendahnya bunyi semata-mata ditentukan oleh perbandingan jaraknya. Manusia tidak mendengarkan lagu yang sejahtera dari langit karena ia sudah biasa dengan itu sejak lahir.

Sebagai guru spritual yang kuat beribadah dan juga ahli pikir. Oleh sebab itu amal dan ilmu dipandangnya sebagai jalan untuk mensucikan ruh, jiwa. Kesucian dan kejernihan ruh yang sebesar-besarnya dicapai dengan menuntut ilmu. Hidup yang didedikasukan kepada penyelidikan ilmu adalah hidup yang setinggi-tingginya dan bekal perjalanan hidup kembali kepada tuhan.

Ajara Phytagoras pada hakikatnya terlalu tinggi bagi pengkutnya yang banyak dengan intelektual yang beragam. Sebab itu sepeninggal Phytagotas murid-muridnya bersimpang jalan, terbagu dua ; (1) murid-murid yang menapaki jalan spritual, kebathinan, tharikat atau agama dan(2) murid-murid yang meniti jalur ilmu, ilmu fikir, ilmu hitung, matematika. Kedua kelompok yang bersimpang jalan ini saling mencela, meraka yang menapaki jalan spritual tidak lagi peduli dengan ajaran-ajaran ilmi pikir dan hitung yang diwariskan guru mereka Phytagoras, matematika, angka-angka, hitung sesuatu yang tak berguna dan sebaliknya, murid-murid meniti jalur ilmi hitung, ilmi pikir mencela mereka yang hanya sibuk mensucikan ruh, hidup zuhud, dengan hidup sederhana, berjalan tanpa alas kaki, tidak memakan daging, kacang dan ikan. Kedua kelompok yang berseberangan ini merasa paling ‘Phytagoras’.

Kategori Tokoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close