Hatta Dan Filsafat

Sama seperti generasi Minang yang tumbuh dan berkembang awal abad 20, Hatta juga terpesona dengan kemajuan peradaban Barat. Sebagaimana tokoh-tokoh pergerakan dari Minang lainnya seperti Sutan Takdir Alisjahbana, Sjahrir, Tan Malaka, Rustam Efendi, Djamaluddin Adinegoro mereka terkagum-kagum dengan kemajuan ilmu pengetahuan Barat. Politik etis yang diterapkan oleh kolonial dengan mendirikan sekolah-sekolah membuat generasi Minang rasional terbiasa berfikir ilmiah, sekaligus melepaskan ‘baju lama’ ; kebudayaan lama yang irrasional, tahayul, mistik dan segala turunannya. Meskipun mereka sangat mengagumi Barat namun mereka juga membeci setengah mampus kolonialisme yang dilakukan Barat.

Pada pada masa polemik kebudayaan tahun 1930 Sutan Takdir Alisjahbana yang dituduh ke-Barat-barat-an berhadapan dengan kubu Sanusi Pane dan tokoh pergerakan lainnya seperti Ki Hajar Dewantoro, Dr. Sutomo dan lainnya yang masih saja mengelap-lap budaya lama yaitu kebudayaan Nusantara. Bagi STA Indonesia yang sama-sama mereka cita-citakan nanti dibangun dengan atas dasar modernitas ala Barat, rasional dan ilmiah disesuaikan dengan konteks lokalitas sedangkan lawannya kubu pengelap kebudayaan Nusantara, Indonesia yang mereka cita-citakan dibangun atas dasar kebudayaan Nusantara ala Majapahit.

Suatu kali STA meledek lawannya ; kenapa sains dan teknologi tidak lahir di pinggir Sungai Gangga namun di Eropa? Karena kemajuan peradaban akan lahir pada masyarakat yang rasional mampu berfikir ilmiah, bukan kepada masyarakat yang menyerahkan hidupnya kepada dewa-dewa dan tuhan. jawabnya sendiri.

Menurut filsuf setidak ada beberapa hal yang menyebabkan Barat (Eropa) unggul dari pada Timur terutama dalam hal Sains dan Teknologi. Pertama (1) Sekularisme. Setelah babak -belur oleh perang agama. Ratusan tahun perang antar sekte-sekte kristen yang tak henti-henti yang menyebabkan korban puluhan juta, bahkan ratusan juta jiwa. Gereja menjadi lembaga super power menghadang kemajuan ilmu pengetahuan. Saintis seperti Galileo dipersekusi karena teori heliosentris bertentangan dengan gereja. Dan akhirnya lahirlah sekularisme yang memasung agama ke ruang privat. Dan sains teknologi berkembang pesat hingga kini. Kedua (2) Eropa mewarisi rasionalitas Yunani. Bangsa yang paling pertama mengugat, mempertanyakan eksistensi para dewa adalah para filsuf Yunani. Dengan kemampuan rasional, para filsuf ini menggugat segala mitos yang telah diyakini sejak ribuan tahun silam. Mereka menggugat, mempertanyakan segala hal yang irrasional, berfikir ilmiah. Dan ketiga (3) Etos kerja Yahudi. Bangsa Yahudi memiliki etos kerja yang tinggi banyak berdiaspora di Eropa. Mereka ini memberikan andil yang besar dalam kemajuan Eropa.

Tokoh-tokoh pergerakan asal Minang, mulai tumbuh sejak politik Etis dengan berdirinya sekolah-sekolah untuk pribumi, Hatta dan banyak tokoh Minang lainnya bisa disebut telah melepaskan ‘baju lama’ (kebudayaan lama) karena telah tercerahkan oleh modernitas yang dibawa oleh kolonial melalui pendidikan. Kebanggaan mereka terhadap budaya lama relatiif tipis dibandingkan dengan tokoh-tokoh pergerakan asal Jawa. Mereka tumbuh menjadi pribadi yang egaliter, kosmopolitan. Tidak semua hal baru dari luar ditolak mentah-mentah dan tidak pula lansung diterima bulat-bulat tanpa dikritis terlebih dahulu. Terjadi dialektika sehingga terbentuk sentetis baru. Begitu kurang lebih ciri-ciri generasi Minang awal abad 20. Jelas banyak beda dengan generasi Minang saat ini.

Ketika saya mengetik nama ‘Muhammad Hatta’ dengan kategori ‘buku’ di kolom pencaharian dengan sebuah market place, terselip judul buku ini pada halaman paling bawah. Heran juga, selama ini Hatta dikenal sebagai tokoh Ekonomi dan Politik. Sebagian besar karya tulisnya terkait kedua hal tersebut. Sedangkan buku dengan Judul Alam Pikir Yunani tentang filsafat. Filsafat Klasik, Barat.

Jika Hatta menulis tentang Tasawuf barangkali wajar, karena kakek beliau Syekh Abdurrahman, seorang sufi, mursyd Tarikat Naqsabandiyah Khalidiyah di Batuhampa, Payakumbuh. Meskipun ia tidak pernah bertemu lansung dengan kakeknya, beliau mendapat pendidikan agama oleh pamannya, Syekh Arsyad, anak tertua sekaligus penerus Syekh Abdurrahman. Bahkan nama aseli Muhammad Attar terinspirasi dari seorang tokoh sufi dan penyair Persia, Fariduddin Attar.

Pada buku ini Hatta berkali-kali menyebut dirinya bukan ahli filosofi, ia membaca buku-buku filsafat untuk mempertajam daya pikir alasannya. Hatta memang bukan seorang filsuf namun seorang pembaca yang rakus dengan refrensi bacaan berlimpah, termasuk filsafat.

Buku ini ditulis Hatta pada tahun 1941 ketika beliau diasingkan di Banda Neira. Awalnya bukunya terdiri dari 3 jilid. Namun pada tahun 1981 diterbitkan menjadi satu buku.

Kategori Buku, Tokoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close