Ibnu Bajjah Filsuf Muslim Pertama

Persamaan dari Al-Farabi dan Ibn Bajjah, keduanya meletakkan ilmu untuk mengatasi segala-galanya. Mereka hampir sependapat bahwa akal dan wahyu merupakan satu hakikat yang padu.
Upaya untuk memisahkan kedua-duanya hanya akan melahirkan sebuah masyarakat dan negara yang pincang. Oleh sebab itu, akal dan wahyu
harus menjadi dasar dan asas pembinaan sebuah negara serta masyarakat yang bahagia.

Ibnu Bajjah dikenal sebagai filsuf muslim Spanyol yang pertama. Ia lahir di Zaragoza pada tahun 1095 M. Ia bernama lengkap Abu Muhammad bin Yahya al-Tujibial-Andalusi al-Saraqusti. Pemikirannya memiliki pengaruh pada Ibn Rusyd, Ibn Thufayl hingga Thomas Aquinas.

Di masa mudanya, para penguasa Zaragoza sering berganti tampuk kepemimpinan. Namun, pada tahun 1114 M, seseorang yang ia kenal dekat bernama Ibnu Tifilwit diangkat menjadi Gu-
bernur dan Ibnu Bajjah pun diangkat menjadi wazirnya. Jabatan itu tak bertahan lama. Pada tahun 1118
M. Zaragoza jatuh ke tangan Raja Alfonso The Battler. Hal ini membuat Ibnu Bajjah terpaksa mendatangi Abu Ishaq Ibrahim bin Yusuf bin Ibnu Tashfin untuk meminta perlindungan di Xativa. Ibnu Bajjah bekerja sebagai wazir Yusuf bin
Tashfin selama sepuluh tahun. Meski demikian, ia tidak sepaham dengan mereka yang dekat dengan Ibnu Tashfin, sebagaimana ketika masa pemerintahan Ibnu Tilfiwit.


Ibnu Bajjah pernah dipenjara dua kali pada masa kepemimpinan Ibnu Tashfin. Namun, rincian penyebabnya tidak dapat diketahui. Meski demikian, Ibnu Bajjah tetap dengan Kekaisaran
Almoravid selama sisa hidupnya.
Ibnu Bajjah dikenal terampil dalam falsafat, logika, astronomi, kedokteran, ilmu tanaman, matematika, musik, dan umumnya seluruh pengetahuan praktis dan teoritis pada zamannya, termasuk
puisi dan sastra.
Meskipun banyak dari karyanya tidak selamat,teorinya dalam astronomi dan fisika masing-masing dilanggengkan oleh Maimonides dan Ibnu Sina.
Setelahnya, pemikirannya mempengaruhi para astronom dan fisikawan dalam peradaban Islam dan Eropa Renaisans, termasuk Galileo Galilei.


Ibnu Bajjah menimba ilmu ke banyak guru. Salah satunya adalah Abu Jafar ibn Harun dari Trujillo, seorang dokter di Sevilla, Andalusia. Pada tahun 1138 M, salah seorang pelayan Abu al-‘Ala bin Zuhr yang bernama Ibnu Ma’yub dicurigai meracuni Ibnu Bajjah dan membuat sang
filsuf meninggal di Fez.


Pada tahun 2009, sebuah kawah 199.000 km dari Kutub Selatan Bulan diberi nama Kawah Ibnu Bajjah oleh International Astronomical
Union (IAU) untuk menghormatinya.

Corak Pemikiran Ibnu Bajjah
Ibn Bajjah atau dalam bahasa latin lebih dikenal dengan nama Avempace adalah seorang filsuf Islam yang berperan sebagai rantai awal penyambung antara kajian filsafat Yunani-Arab ke dunia barat.
Pemikiran dari Ibn Bajjah memiliki pengaruh yang sangat berarti pada sosok-sosok besar seperti Ibn Rusyd, Ibn Thufayl hingga Thomas Aquinas.

Kontribusi terbesarnya adalah pemikiran tentang akal dan jiwa. Selain itu banyak teori-teorinya yang memengaruhi para astronom dan fisikawan peradaban Islam dan Renaisans Eropa, termasuk nama besar Galileo Galilei.


Ibn Bajjah dikenal terampil dalam falsafat, logika, astronomi, kedokteran, ilmu tanaman, matematika, musik, dan umumnya seluruh pengetahuan praktis dan teoritis pada zamannya, termasuk puisi dan sastra. Ibn Bajjah banyak berkontribusi dalam banyak perkembangan bidang sains. Ia banyak memberi pendapat serta teori khususnya di bidang astroromi, psikologi, dan fisika. Seperti dalam astronomi ia mengememukakan pendapatnya tentang
Galaksi Bima Sakti, mengkritisi banyak pemikiran Aristoteles, dan lain sebagainya.
Pemikirannya yang tertuang pada bidang fisika adalah perihal hukum gerak. Prinsip-prinsip yang dikemukakannya itu menjadi dasar bagi pengembangan ilmu mekanik modern. Di kemudian hari
hal-hal tersebut menjadi pengaruh terbesar padafisikawan Barat pada masa itu.
Ibnu Bajjah pun juga sangat berjasa dalam mengembangkan psikologi Islam. Pemikirannya tentang studi psikologi didasarkan pada ilmu fisika.
Dalam risalah yang ditulisnya berjudul, Recognition of the Active Intelligence, Ibnu Bajjah menulis inteligensi aktif adalah kemampuan yang penting bagi
manusia.


Dia juga menulis banyak esai yang membahas pikiran dan imajinasi. ‘’Pengetahuan tak dapat di-
peroleh dengan pikiran sehat saja, tapi juga dengan inteligensia aktif yang mengatur intelegensia alami,’’ ungkap Ibnu Bajjah. Ibnu Bajjah juga banyak mengupas tentang jiwa. Bahkan, secara khusus Ibnu Bajjah menulis kitab berjudul, Al-Nafs, atau Jiwa. Ibnu Bajjah juga membahas tentang kebebasan. Menurutnya, seseorang
dapat dikatakan “bebas” ketika orang tersebut dapat bertindak dan berpikir secara rasional.

Gaya Kepenulisan Ibnu Bajjah
Kebanyakan esai-esai Ibn Bajjah merupakan syarah-syarah ringkas terhadap karya-karya Aristoteles dan al-Farabi. Adapun pemikiran orisinalnya terdapat pada tiga risalahnya, yakni : Tadbir al-Mutawahhid, Risalah al-Wada, dan Risalah al-Ittis-hal.


Cara penulisannya yang paling menonjol adalah ia seringkali mengawali esai dengan satu subjek, tetapi sebelum mengakhiri pembahasan subjek tersebut, ia kemudian berpindah pada subjek
bahasan yang lain.


Perhatian utama yang kerap dibahas oleh Abu Bakr (Ibn bajjah) menjadi lebih terfokus dan akrab dengan pemikiran Yunani, serta menguasai sebanyak mungkin pengetahuan-pengetahuan kuno
dari Yunani. Di dalam kebenaran dan kesempurnaan, ia menemukan cara tersendiri dalam berhubungan dengan akal (intelek) aktif.


Persamaan dari Al-Farabi dan Ibn Bajjah, ke-
duanya meletakkan ilmu untuk mengatasi segala-
galanya. Mereka hampir sependapat bahwa akal
dan wahyu merupakan satu hakikat yang padu.
Upaya untuk memisahkan kedua-duanya hanya akan melahirkan sebuah masyarakat dan negara
yang pincang. Oleh sebab itu, akal dan wahyu
harus menjadi dasar dan asas pembinaan sebuah negara serta masyarakat yang bahagia.

Ibn Bajjah pun sangat menguasai logika. Menurutnya, sesuatu yang dianggap ada itu sama benar-benar ada atau tidak ada bergantung pada yang diyakini ada atau hanyalah suatu kemungkinan.
Justru, apa yang diyakini itulah sebenarnya satu kebenaran dan sesuatu kemungkinan itu boleh jadi mungkin benar dan tidak benar.


Ibnu Bajjah juga terkenal karena memunculkan gagasan yang menyebut manusia sebagai ‘’makhluk sosial’’. Pendapat itu dilontarkan jauh sebelum
sarjana Barat mencetuskannya.
Ia pun telah menguraikan konsep masyarakat madani dalam tulisannya pada abad ke-11 M. Kehebatannya dalam berbagai ilmu telah membuat
banyak kalangan benci dan iri. Ia pun akhirnya meninggal dunia akibat diracun pada 1138 M.

Kategori Buku, Tokoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close