IBNU KHALDUN Ilmuwan Polymath Pengarang Buku Muqaddimah

Ibnu Khaldun adalah seorang sejarawan, seniman, ahli hukum, sekaligus filsuf yang lahir pada awal Ramadhan 732 H/27 Mei 1332 di Tunisia. Nama lengkapnya Abu Zaid Abdul Rahman Ibnu Khaldun Waliy ad-Din at-Tunisi al-Hadrami al- Isybili al-Maliki. Nama al-Hadrami merujuk pada
etnis leluhurnya yang berasal dari Hadramaut di Arab Selatan. Ayahnya bernama Abu Bakar Muhammad, seorang yang mengabdikan seluruh hidupnya di
bidang akademis. Bahkan dirinya pernah menolak tawaran dari Sultan Dinasti Hafsiyah untuk menjabat di pemerintahan. Abu Bakar Muhammad inilah guru pertama Ibnu Khaldun dan yang membentuknya menjadi seorang sejarawan ulung di kemudian hari.

Selain itu, ia juga belajar kepada Abu Abdullah Muhammad bin al-Arabi, Abu al-Abbas Ahmad bin al-Qusysyar, dan Abu Abdullah al-Wadiyasyi untuk mempelajari ilmu bahasa. Dalam ilmu filsafat ia belajar kepada Abu Abdullah Muhammad bin Ibrahim al-Abili. Sedangkan dalam ilmu fikih,Ia mempelajarinya dari Abu Abdullah Muhammad al-Jiyani dan Abu al-Qasim Muhammad al- Qashir.

Pada usia 20 tahun, ia memulai karier politiknya di bawah kepemimpinan Bani Hafsiyah, di Tunis. Namun, ia tidak terlalu tertarik melanjutkan kariernya di Tunis dan lebih memilih fokus dalam kegiatan akademis sebelum akhirnya ia pindah ke Fez, Maroko untuk menduduki jabatan tinggi di pengadilan Bani Marin.
Dari sinilah Ibnu Khaldun mulai terlibat dalam intrik politik. Ia pernah dipenjara beberapa kali karena terlibat persoalan politik. Hal itu membuatnya harus hidup berpindah-pindah, mulai dari Maroko, Tunis, sampai ke Spanyol. Hingga dirinya memilih tinggal di Andalusia, Spanyol. Di sana, ia berniat menjauhi politik dan melanjutkan
karier akademisnya.

Namun, nasib buruk kembali menimpa dirinya. Penguasa Fez rupanya masih menyimpan dendam. Dia pun meminta penguasa Granada untuk menyerahkan Ibnu Khaldun. Permintaan itu tidak
digubris, Ibnu Khaldun malah dikirim ke Tunisia. Kembali ke tanah kelahirannya, dirinya malah diacuhkan. Beruntung ada pertolongan dari kepala suku Bani Arif, Ibnu Khaldun mampu menyelesaikan pertikaiannya dengan Abu Hamu, seorang
Amir Tlemcen yang pernah ia sakiti di masa lalu.

Meski sudah bertekad ingin menjauhi politik, ia tetap tidak bisa menolak permintaan Abu Hamu yang memberikan kepercayaan padanya untuk memenangkan dukungan suku-suku.
Ia kemudian tinggal bersama keluarganya di kampung Bani Arif dan menghabiskan masa-masa tenangnya di sana. Setelah merasakan kedamaian yang hakiki, ia pun mulai menulis karyanya yang paling monumental ; Muqaddimah di Qal’at Ibnu Salamah.

Pada tahun 784 H/1382 M, Ibnu Khaldun pergi ke Iskandariah, Mesir dan menetap di sana. Ia kemudian diangkat menjadi guru besar di Perguruan Qamhiyah dan mengajari orang yang ingin belajar ilmu darinya di Masjid al-Azhar. Ia juga
sempat menjabat sebagai Hakim Agung Mazhab Maliki meski hanya setahun.
Akhirnya setelah perjalanan yang panjang, Ibnu Khaldun menghembuskan nafas terakhirnya pada 25 Ramadan 808 H/16 Maret 1406 M pada usia 76 tahun. Ia dimakamkan di pemakaman sufi di luar Bab An-Nasr, Kairo, Mesir.

Kategori Buku, Tokoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close