Ibnu Atha’illah Al Iskandari Penulis Kitab Induk Tasawuf Al Hikam

Ibnu Atha’illah adalah salah satu imam sufi besar abad ke-13 M. yang lahir di Kota Iskandariah, Mesir pada 658 H/1250 M. Ia bernama lengkap Abu al-Fadhl Tajuddin Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Abdul Karim bin Abdul Rahman bin Abdullah bin Ahmad bin Isa bin al-Hussein al-Iskandari asy-Syadzili.

Ibnu Atha’illah tumbuh dan besar di kota Iskandariah. Pada masa kecilnya, Ia dikenal sebagai seorang anak yang gemar belajar. Ia mempelajari tafsir, hadis, fikih, dan ushul fikih kepada Nashiruddin bin al-Munir. Sedangkan untuk ilmu kalam dan filsafat ia mempelajarinya dari Syamsuddin al-Asfahani.

Maka tak ayal, pada umurnya yang masih relatif belia, dikabarkan bahwa ia telah menguasai beberapa disiplin ilmu, seperti ilmu nahwu, tafsir, ushul fikih, dan hadis. Bahkan, Ibnu Atha’illah masih sangat muda ketika ia terkenal sebagai salah seorang pakar fikih mazhab maliki dan menentang ajaran tasawuf.

Namun, semua berubah setelah pertemuannya dengan Abu Abbas al-Mursi, seorang sufi sekaligus Wali Qutub pada zamannya. Karena rasa kagumnya yang begitu besar, Ibnu Atha’illah pun
akhirnya berhijrah ke kediaman Abu Abbas al-Mursi di Kairo, Mesir, dan mempelajari ilmu tasawuf kepadanya selama 12 tahun lamanya.

Di Kairo, Ibnu Atha’illah juga mempelajari ilmu tasawuf dari Syekh Abu al-Hasan asy-Syadzili Ali ibn Abdillah, pemimpin utama Tarekat Syadziliyah. Di Kota Kairo inilah Ibnu Atha’illah mulai terkenal sebagai seorang ulama yang menggagungkan antara ilmu syari’at dan ilmu hakikat.

Pada masa dewasanya, Ibnu Atha’illah dikenal luas sebagai seorang alim yang menghiasi dirinya dengan berbagai disiplin ilmu yang telah dipelajarinya.

Ia menumpahkan seluruh hatinya saat ia memberikan nasihat, wejangan, dan arahan sehingga setiap ucapannya sangat berpengaruh kuat hingga merasuk ke dalam jiwa. Hal ini sesuai dengan
kesaksian para murid dan ulama yang hidup sezaman dengannya.

Ia juga mengajarkan ilmu syariat di Universitas al-Azhar. Dalam hal ini Imam al-Dhahabi berkata: Dia memiliki keagungan yang hebat dan berpartisipasi dalam kebajikan dan dia berbicara di
Universitas al-Azhar di atas kursi dengan kata-kata yang mengembuskan jiwa. Banyak ulama besar yang menjadi muridnya, termasuk Imam Taqi-
yuddin al-Subki dan Imam al-Qurafi.

Akhirnya setelah mengalami berbagai macam fase kehidupan yang penuh dinamika intelektual dan spiritual, Ibnu Atha’illah pun dinobatkan
oleh umat menjadi seorang guru ketiga tarekat asy-Syadziliyah.

Pada tahun 709 H/1309 M, ketika ia tengah
mengajar murid-muridnya, Ibnu Atha’illah pun di

panggil kembali ke hadirat Allah SWT pada usia 60 tahun setelah mengarungi samudra kehidupan dengan segala macam amal ibadah dan karya-karya yang nyata bagi umat Islam di Kairo, Mesir.

Kategori Buku, Tokoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close