IMAM SYADZILI Pendiri Tarekat Syadziliyyah yang Garis Keturunannya Bersambung hingga Rasulullah SAW

Imam Syadzili merupakan pendiri Tarekat Syadziliyyah yang lahir pada 593 H/1197 M di Ghumarah, Maroko. Nama lengkapnya Abu al-Hasan Ali bin Abdullah bin Abdul Jabbar bin Tamim bin Hormuz. Garis keturunannya bersambung hingga
Rasulullah saw.

Pada usia 6 tahun, ia pindah ke Tunis untuk berguru kepada Syekh Abi Said al-Baji, ulama terkemuka pada masa itu. Dari gurunya ia mempelajari
ilmu-ilmu, seperti: al-Qur’an, hadis, fikih, akhlak, tauhid, beserta ilmu-ilmu alat. Tidak hanya itu, ia juga berkesempatan menemani gurunya menunaikan ibadah haji di Mekkah.

Namun, Pada tahun 615 H/1218 M, di usianya yang ke-22, ia bertolak ke timur setelah merasa bahwa apa yang dipelajarinya masih berada dalam tatanan syari’at saja. Ia memiliki kehendak untuk menemukan seorang guru yang mampu
membimbingnya menapaki jalan menuju hadirat Allah swt.

Mekkah menjadi kota pertama tujuannya. Akhirnya, setelah berbulan-bulan pencarian, ia mendapat kabar bahwa guru spiritual yang ia cari berada di Irak. Ia pun memulai perjalanannya menuju Irak yang berjarak ratusan kilometer dari Mekkah.

Di Irak, ia menemui pemimpin Tarekat
Rifa’iyyah, Syekh ash-Sholih Abul Fatah al-Wasithi. Dalam pertemuan tersebut, Imam Syadzili dinasihati untuk mencari seorang guru spiritual yang sedang melakukan pengasingan diri di sebuah gunung di tanah kelahirannya.

Ia lantas berpamitan dan bergegas melakukan perjalanan kembali ke kampung halamannya. Setelah bertanya-tanya, akhirnya ia mengetahui bahwa seseorang yang dimaksud sang pemimpin Tarekat Rifa’iyyah adalah Syekh Abdussalam bin Masyisy al-Hasani.

Seketika Imam Syadzili langsung menuju sebuah gua yang terletak di puncak gunung di padang Barbathoh. Setelah berhari-hari perjalanan, akhirnya ia bertemu dengan sang guru spiritual di sebuah mata air yang terdapat di bawah gua tersebut.

Dari Syekh Abdussalam bin Masyisy al-Hasani, Imam Syadzili menerima banyak ilmu yang mampu menghantarkannya untuk dekat dengan
Allah swt. Namun, yang terpenting adalah ijazah serta bai’at sebuah tarekat yang rantai silsilahnya
menyambung hingga ke hadirat Allah swt.

Setelah merasa cukup, Syekh Abdussalam bin Masyisy al-Hasani menghimbau Imam Syadzili untuk menetap di Syadzilah, Tunisia hingga akhirnya terkenal dengan julukan asy-Syadzili. Namun,
karena fitnah yang dilancarkan Ibnul Baro’, seorang kadi agama yang tidak menyukainya, akhirnya ia pindah ke Alexandria, Mesir pada tahun
624 H/1227 M.

Setibanya di Kota Alexandria ia langsung berdakwah dan menyebarkan ajarannya. Dalam waktu singkat, pengajian beliau dibanjiri oleh banyak masyarakat dari berbagai kalangan. Tidak hanya itu, karena merasa kagum dengan apa yang ia
sampaikan, banyak dari mereka yang berbai’at dan menyatakan diri sebagai muridnya.

Seiring berlalunya waktu, murid Imam Syadzili bertambah banyak sehingga tarekat yang ia sebarkan pun semakin berkibar. Hal ini tidak terlepas dari ajaran tarekat yang tidak terlalu memberatkan
pengikutnya dengan amalan-amalan untuk sampai ke hadirat Allah swt. Hingga akhirnya para pengikutnya mengenal tarekat tersebut dengan sebut-
an Tarekat Syadziliyyah yang dinisbatkan kepada Imam Syadzili.

Pada tahun 656 H/1258 M, dalam perjalanan pulang setelah melaksanakan ibadah haji, Imam Syadzili wafat di Humaitsra di pantai Laut Merah
dalam usia 63 tahun. Para ulama, kadi Negara, dan masyarakat luas berbondong-bondong untuk
berta’ziah dan menshalati Imam Syadzili.

Kategori Buku, Tokoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close