SYEKH ABDUL QADIR JAILANI Sang Wali Dari Persia

Syekh Abdul Qadir Jailani adalah Pendiri Tarekat Qadiriyah yang lahir pada Ahad, 2 Ramadhan 470 H/18 Maret 1078 M di Desa Nif, Jailan, Iran. Nama lengkapnya Abdul Qadir bin Abi Sholeh bin Janaky Dausat bin Abi Abdillah Abdullah bin Yahya bin Muhammad bin Dawud bin Musa bin Abdullah bin Musa Al-Huzy bin Abdullah Al-Himsh bin Al-Hasan Al-Mutsanna bin Al-Hasan bin Ali bin Abi Tholib Al-Jailani.

Syekh Abdul Qadir Jailani diasuh oleh ibunyaketika kecil setelah ayahnya wafat. Pada usia 18 tahun, Pada tahun 488 H/1095 M ia meninggalkan Jilan menuju Banghdad untuk belajar di Madrasah Nizhamiyah Baghdad yang dipimpin oleh saudara Abu Hamid al-Ghazali, Ahmad al-Ghazali.

Namun, ia tidak terima belajar di sekolah ter sebut. Meski demikian ia tetap kukuh untuk menimba ilmu. Ia pun belajar ilmu fikih kepada Syekh Abu al-Wafa’ dan Syekh Abu al-khathtab al-Khawazini.
Dalam ilmu tasawuf, ia berguru kepada Syekh Abu al-Khair Muhammad bin Muslim al-Dabbas dan Abu Sa’d Mubarak al-Mukharrimi. Sedangkan untuk bahasa arab, ia mempelajarinya dari Abu al-Husain Abu Ya’la.

Pada masa mudanya, Syekh Abdul Qadir Jailani mengikuti seluruh pengajian tokoh fikih dan majelis ahli hadis ia datangi. Kesehariannya ia habiskan hanya untuk belajar ke sejumlah majelis ilmu. Dalam pengembaraan mencari ilmu, ia menghabiskan tiga puluh tahun lebih untuk mendalami berbagai macam bidang ilmu.

Maka tidak heran jika di kemudian hari Syekh Abdul Qadir Jailani menguasai tiga belas bidang disiplin ilmu, seperti: tafsir, hadis, mazhab, khilafiah, ushul fikih, nahwu, akhlak, dan tasawuf. Selain itu, ia juga gemar melakukan pengembaraan ke berbagai daerah, semisal: Persia, Mesir, dan Semenanjung Arab.

Setelah mengembara ke berbagai tempat, akhirnya Syekh Abdul Qadir Jailani kembali ke Baghdad dan mengajar di Madrasah yang didirikan gurunya Syekh al-Qadhi Abu Sa’id al-Makhrami al-Hanbali di Bab Azaij, Baghdad. Syekh Abdul
Qadir Jailani membantu gurunya mengajar hingga sang guru wafat.

Dari sinilah kemasyhuran Syekh Abdul Qadir Jailani bermula. Sepeninggal gurunya, Syekh Abdul Qadir Jailani memberi pelajaran, fatwa, nasihat dan bimbingan. Namun, ternyata ada begitu
banyak jemaah yang menghadiri pengajiannya hingga madrasah gurunya tak cukup menampung mereka semua. Akhirnya ia mengalihkan pengajiannya ke sebuah musala di luar tembok Baghdad.

Dengan bantuan para dermawan, Madrasah gurunya pun akhirnya diperluas dan dibentuk layaknya lembaga pendidikan dan asrama bagi para
pencari ilmu. Pasca perluasan, Madrasah tersebut dikenal dengan nama Madrasah Syekh Abdul Qadir Jailani. Kini Madrasah tersebut dikenal sebagai Madrasah Qadiriyah dan masih berdiri hingga
sekarang di Baghdad, Irak.

Majelis Syekh Abdul Qadir Jailani begitu terkenal dan kerap dihadiri oleh ribuan manusia. Maka tak ayal, selama hidupnya, Syekh Abdul Qadir Jailani berhasil mengislamkan sebanyak 5000 orang dan lebih dari 200.000 ribu tersadarkan oleh nasihatnya hingga akhirnya ia mendapat gelar sebagai al-Ghauts al-A’zham (Wali Penolong Allah).

Setelah 90 tahun mengabdikan dirinya untuk berbuat baik, mengajar, dan membimbing masyarakat, Pada malam Sabtu Malam, 11 Rabi’ul Akhir tahun 561 H/1166 M Syekh Abdul Qadir Jailani kembali ke hadirat Allah swt. Ia mening-
galkan banyak karya, di antaranya adalah Futuhul Ghaib dan al-Fathu ar-Rabbani.

Kategori Tokoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close