Kenangan Yang Membekas

Hari itu seperti biasa. Tidak ada firasat apalagi isyarat akan kejadian naas yang yang masih terkenang hingga kini. Pagi itu kamis, 21 Februari 2019. Sama seperti hari lainnya. Saya berangkat ke sekolah diantar Ayah. Ketika itu usia saya menjelang 9 tahun dan masih kelas 3 MIN 03 Gunung Pangilun.

Sampai di sekolah pun seperti biasa. Mengikuti pelajaran, mengerjakan tugas yang diberikan guru, istirahat, menyantap bekal yang dibawa dari rumah dan bermain bersama teman. Hingga bel tanda pulang sekolah.

Kamis merupakan jadwal saya piket dengan beberapa teman lainnya. Saya sudah lupa namanya. Kami membersihkan kelas, menyapu lantai, menghapus papan tulis serta merapikan meja dan bangku.

Selesai piket, sambil menunggu dijemput orang tua masing-masing, kami bermain bola di lapangan sekolah. Entah kenapa saya teramat senang saat itu, hingga kejadian naas itu menimpa. Rasa senang dan gembira berubah seketika. Derai tawa menjadi airmata.

Saya masih ingat detail kejadiannya. Saat saya yang tengah mengejar bola, tiba-tiba Habib mendorong tubuh dari belakang dengan kencang. Tubuh saya yang terbilang kecil, terhuyung, hilang keseimbangan, tak mampu mengendalikan tubuh dari dorongan Habib yang lumayan besar dan kuat, hingga terjatuh, dengan posisi kening sebelah kanan membentur bibir lantai selasar sekolah yang tajam. Saya terjerembab di dekat pot bunga.

Gelap seketika, dan kemudian saya menjerit keras menahan sakit. Darah bercucuran dari kening bercampur dengan air mata, mengalir hingga mengenai seragam sekolah. Kemeja putih berubah menjadi merah akibat darah.

Dengan menahan sakit saya dibawa ke UKS untuk mendapatkan pertolongan pertama. Luka dibalut perban untuk menghentikan darah yang terus mengalir. Kata Pak Guru yang mengobati lukanya tidak terlalu dalam, tidak berbahaya. Hanya saja posisi luka di kening yang banyak pembuluh darah, sehingga darah mengucur lumayan banyak.

Barangkali orang tua teman, guru atau pihak sekolah yang menghubungi Bunda. Saya tidak tahu. Bunda tiba saat saya di ruang UKS, tak berapa lama Tante saya juga sampai di sekolah. Mereka membawa saya ke Rumah Sakit Yos Sudarso dengan untuk memastikan luka tidak infeksi. Menurut dokter yang menangani luka lumayan dalam sehingga mesti dijahit, agar cepat sembuh tidak meninggalkan bekas.

Mendengar akan dijahit saya ketakutan, seumur hidup belum pernah dijahit. Saya ngeri membayangkan, takut, sangat takut. Namun Bunda dan Tante, yang saya memanggilnya mama, menenangkan, kata mereka tidak terlalu sakit, sakitnya sedikit, karena sebelum dijahit dibius dulu.

Namun yang terjadi saat dokter mulai menjahit luka, saya merasakan sakit minta ampun. Sakit yang luar biasa. Saya menjerit sekeras-kerasnya. Bunda dan Mama memegang tangan dan tubuh saya agar dokter bisa tenang menjahit luka. Mereka meminta saya mengucapkan istighfar, untuk menghilangkan rasa sakit dan takut.

Saya merasa lega ketika dokter bilang sudah selesai. Jika tidak salah ingat saya mendapat 5 jahitan. Dokter juga memberi rivanol, cairan perbersih luka, kain kassa dan obat untuk mempercepat penyembuhan luka.

Beberapa hari kemudian, luka beransur sembuh dan mulai mengering serta menaut, namun ada satu hal yang masih mengganjal di hati. yang membuat saya cemas yaitu mencabut benang jahitan. Saya membayangkan mencabut benang sama sakitnya dengan saat dijahit. Hari kelima, kalau tidak salah benang dicabut. Ternyata tidak sesakit saat dijahit. Sakitnya sedikit saja, tidak seberapa dibanding dengan dijahit.

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close