Hamka Menjadi Hantu Induak Bala

Pada tahun 1918, Flu Spanyol mewabah, hampir sama seperti Covid-19 yang menyebar hampir seluruh dunia. Penyebaran Flu Spanyol hingga ke Minang Darek, Parabek, Bukittinggi.

Meskipun Parabek, tempat Malik–Hamka Muda–mengaji kepada Syekh Ibrahim Musa Parabek merupakan pusat pendidikan Islam, belajar tauhid, namum masyarakat belum sepenuhnya lepas dari kepercayan terhadap takhayul. Di Lapau Mak Katik dan Mak Kayo tempat berkumpul orang-orang, pemuda kampung dan termasuk anak siak (Santri) bercengkrama di waktu senggang. “maota” (ngobrol). Pada waktu itu orang membicarakan hantu dan Induak Bala.

Menurut orang di Lapau, penyakit yang mewabah pada saat itu, dibawa oleh “orang halus” (manusia tidak kasat mata, seperti hantu). Orang halus ini masuk kampung keluar kampung menyebarkan wabah. Sosoknya digambarkan dengan tubuh yang diselimuti kapas, wajahnya seram dan menakutkan. Kadang ia membawa kembut, yang konon isi tulang-belulang manusia.

Cerita-cerita liar tak berdasar itu, selalu diulang-ulang dan banyak dipercayai orang-orang. Bahwa penyakit Flu Spanyol disebarkan oleh “orang halus” ; Induak Bala.

Pada suatu malam, Lapau Mak Kayo sedang ramai. Orang-orang sedang membicarakan Induak Bala. Ia agak kesal dengan orang-orang yang membanggakan diri. Membicarakan perantauan-perantauan yang jauh, pengalaman-pengalaman tentang cerita mistis, bertemu hantu. Malik yang ketika itu berusia 13 tahun belum pernah merantau. Ia kesal sekaligus penasaran, seperti apa negeri yang jauh di seberang. Entah apa yang dipikirkanya, Malik meninggalkan Lapau.

Beberapa saat kemudian, tiba-tiba terkejut orang yang tengah asyik ‘mahota’ di Lapau Mak Kayo. Dari pintu Lapau masuk sosok yang menakutkan. Mukanya bercoreng-moreng seperti harimau, Bersorban kain putih, badan diselumiti kain yang sangat lusuh. Bertongkat serta celana panjang hingga menyentuh lantai. Matanya yang tajam dan manakutkan menyapu seluruh sisi lapau. Mak Kayo yang tadinya berkoar-koar tentang pengalaman bertemu hantu gemetar ketakutan. Ada pula yang bersembunyi, ada yang lidahnya kelu. Tak seorang pun yang berani bersuara atau menyapa sosok Induak Bala ini. Kira-kira satu-dua menit dan tanpa bicara, sosok Induak Bala berlalu, meninggalkan Lapau Mak Kayo.

Setelah sosok menghilang barulah kedengan pekik dan sorak orang-orang di Lapau. “Hantu Induak Bala, Jin Islam”. Dengan cepat berita menyebar tentang peristiwa di Lapau Mak Kayo. Seluruh warga bahkan sampai ke Surau-surah. Yang tengah mengaji berhenti. Semua menuju Lapau Mak Kayo. Mak Kayo masih patah lidahnya hingga perlu diminumkan air beras.

Ada pula yang pergi ke surau Syekh. Mereka menduga sosok misterius tadi adalah jelmaan jin islam, sebab tidak mungkin setan menggangu tempat orang mengaji. Engku Labai Ahmad membenarkan dugaan mereka, karena maksiat telah merajalela. Banyak pergaulan yang kurang bagus dan mencolok mata. Lain pula Engku Labai Sain yang tidak ada pada malam kejadian itu, ia diam saja. Dia tidak berani membantah kepercayaan orang ramai. Padahal ia menduga bahwa kejadian malam itu hanya dongeng saja. Sedangkan Engku Datuk Sati lain lagi, ia mengatakan bahwa ia mendengar dari orang tua dahulu bahwa Jin Islam memang ada di Parabek. Ia akan keluar sekali-sekali untuk memberikan peringatan kalau adat telah dilanggar.

Beberapa pemuda dengan membawa tombak, kapak dan pisau meneluri jejak ‘Induak Bala’. Namun syukurlah orang-orang tua meminta mereka berhenti untuk menelusuri jejak hantu tadi, dengan alasa takut kena bala.

Rupa ketika orang-orang sedang asyik ‘mahota’ tentang hantu Induak Bala, Malik mendapatkan ide. Di pulang ke surau dending seng, yang menjadi tempat tinggalnya selama mengaji di Parabek. Didapatinya teman-temannya sedang menghafal syair alfiah. Dengan diam-diam tanpa ada yang tahu ia memasuki surau. Lalu diambilnya selimut usang dan sangat lusuh milik salah seorang temannya. Dan sebuah celana hitam serta palang pintu surau serta kapur. Dengan mengendap-endap ia masuk kolong surau. Di kolong ia giling kapur dan arang lalu campuran serbuk itu dioleskan ke wajahnya. Diselampangkan selimut lusuh dan usah di badannya, dililitkan pula serban putih ke ke kepalanya. Dengan langkah pelan-pelan ia kembali ke Lapau Mak Kayo.

Menyaksikan orang-orang ketakutan senang sekali hatinya. Akan tetapi sebelum orang tahu, ia kembali ke kolonh surau. Dilepas semua semua yang dikenakan tadi menyamar menjadi Hantu Induak Bala. Dibersihkan wajah yang dicoreng dengan arang dan kapur tadi dengan air kolam. Tak seorang pun yang tahu ulahnya, menyamar menjadi Hantu Induak Bala.

Beberapa hari kemudian orang-orang masih saja membicarakan peristiwa di Lapau Mak Kayo. Malik tersenyum geli sekaligus puas dengan ulahnya. Tak tahan lagi ia ceritakan kepada dua orang temannya, anak Parabek bahwa Jin Islam itu adalah dirinya.

Ada yang senang ada pula yang kesal setah ia membuka rahasia. Ada yang berkata “kalau saya tahu hari itu kerja engkau, saya benamkan engkau masuk kolam.

Jika kita cermati, hampir setiap kisah hidup orang-orang besar, hidupnya tidak lurus-lurus saja, lurus dan mulus seperti jalan tol. Kadang masa kecil mereka dilewati dengan kisah-kisah,yang kita menyebutnya nakal
Jadi jika anak anda masih kecil nakal, susah diurus jangan putus asa.

Note ; Induak Bala = Biang Kerok
Maota = ngobrol, membual
lapau = warung kopi, ramai pada malam hari

#sisilainHamka

Kategori Buku, Tokoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close