Bahasa Tanpa Metafora


Hari ini, sebagian kita menjalani dua dunia secara bersamaan ; dunia nyata dan dunia maya. Dunia yang terus berputar dan berubah, sehingga bahasa kita pun ikut berubah baik di dunia nyata terlebih di dunia maya. Sadar atau tidak di dunia maya, di media sosial atmosfir komunikasi kita telah di-mesin-kan oleh sistim yang orang-orang menyebutnya algoritma.

Flatform media sosial membuat algoritma yang pada ujungnya membuat sekat atau kolam. Ada kolam cebong, ada kolam kampret, ada kolam kadrun ada pula bipang dan lainnya Masing kolam hidup dengan ekosistim masing-masing dengan bahasa masing-masing.

Mencintai dan membenci, memuja dan mencela, menjilat dan mengumpat semua diekspresikan dengan bahasa yang dar-der-dor. To the point. Metafora tersingkirkan. Kiasan tak lagi digunakan. Kata-kata bersayap tak lagi dipahami. Sindiran terdengar seperti sapaan. Peribahasa ditinggalkan. Puisi tergantikan oleh kata-kata vulgar.

Hari ini kita kehilangan pesona metafora. Jika dikenang jua, jiwa melankolik dan dramatik terlempar ke masa lalu. Masa di mana para leluhur kita bercengkrama dengan bahasa yang bertebaran metafora. Masa itu telah berlalu, bahasa yang penuh metafora telah tertimbun lumpur dan dan ampas teks-teks kekinian dengan bermacam ikon serta emoji yang kerap menimbulkan bias serta kesalahpahaman, terutama di media sosial di dunia maya.

Jenuh dengan bahasa-bahasa yang to the point dar-der-dor di media sosial, sekali-kali dengarkan “Pasambahan Manjampuik Marapulai”, atau sekadar petatah-petitih tuan rumah saat mempersilahkan tamu menyantap hidangan yang telah disediakan di Ranah Minang. Duh, betapa indahnya.

Metafora telah menjadi sejarah kenikmatan berbahasa. Kenikmatan karena bersifat melenakan, meliuk-liuk dalam serangkaian retorika. Bahasa menjadi nikmat karena bahasa tidak hanya sekadar makna tapi juga cipratan rasa. Berkomunikasi di “Taman Rasa” jelas berbeda dengan berkomunikasi hanya sebagai “Taman Kata”.

Namun bagi masyarakat modern, kata hanya bunyi yang punya makna, bahasa hanyalah serangkaian kata yang punya arti.
Tercapai makna yang disampaikan itu sudah cukup. Mereka cenderung meminggirkan seni retorika dan menyisihkan metafora. Kata-kata digunakan secara fungsional verbal semata. Diksi yang dipilih lansung menusuk pada pokok pembicaraan yang ingin disampaikan. Metafora telah kehilangan pesonanya. Metafora yang berbunga-bunga, meliuk-liuk, berpanjang panjang dianggap hal yang rumit, mubazir, bertele-tele.

Duh, masyarakat modern yang tengah bergegas, generasi milenial yang melesat kencang, kalau sudah begini saya berkhayal Amir Hamzah menggantikan Valentino “Jembret” Simanjuntak, sebagai komentator pertandingan Sepakbola, Indonesia vs Thailand.

Kategori Telaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close