Di Lapangan Kompi C SitebaMengenang Mereka Yang Telah Berangkat Duluan

Dia¹ menggiring bola menyisir sisi kanan lapangan secepat kilat. Langkahnya pendek-pendek namun sangat cepat. Tubuhnya terbilang kecil, namun gesit dan kokoh. Setiap kali dihadang, ia berkelit dengan lincah. Gocekan maut sehingga bola di kakinya sukar direbut. Beberapa langkah sebelum garis gawang dia melambungkan umpan matang yang siap yang untuk dicocor ke gawang oleh dua striker haus gol–yang sempat bercita-cita jadi model dan sekaligus mewarnai khasanah musik Indonesia dengan Boy Band yang tak sempat mereka lounching. Jika kalian melewati masa remaja di pergantian milenial ke-2, tidak kuper pasti kenal Cool Colour. Nah, seperti itu kira-kira. “Namun sayang saudara, saudara-saudara….” begitu kira tanggapan komentator sepakbola.

Perihal umpan, barangkali semua sepakat ; umpan “jadi”, ‘tingga mancucu’an se lai’ begitu teriak penonton yang tengah histeris. Namun soal gol lain cerita. Di kaki dan kepala duo “Striker Kita ” ini, bola lebih sering melambung di atas mistar, lain kali melebar di samping tiang, kalaupun tidak melambung dan melebar tapi penonton akan berteriak “itu tendangan atau umpan ke kiper lawan ya?” Namun yang lebih sering nafas duo “Striker Kita” sudah ngos-ngosan sebelum menyambar umpan matang tadi. Bola dikuasai oleh bek atau kiper lawan. Sialnya sekali-kali berhasil mengejar umpan matang “Striker Kita” kepleset saat menendang bola. Penonton bergemuruh, bersorak gembira. Bukan karena tidak jadi gol, tapi karena saat yang tepat untuk meledek, mengolok-olok Boomber yang tengah meradang menahan kesakitan, atau pura-pura sakit untuk menutupi malu.

Meskipun jarang, sekali-kali dia menusuk ke dalam, membuat bek lawan gentar. Gerakannya sulit ditebak, apakah ia mencocorkan bola lansung ke gawang atau memberikan umpan matang yang siap untuk di sambar. Tapi itu tadi teman-temannya lebih banyak hanya bisa menendang bola, beberapa orang saja yang bisa bermain sepakbola. Singkatnya bagi tim sepakbola Teknik Kimia 95, gol merupakan kejadian biasa, sedangkan tidak gol sudah menjadi hal lumrah, biasa.
***

Sama seperti ke kampus, Dia² memang sekali-kali datang ke lapangan dan sangat jarang ikut bermain. Kulitnya putih, rambutnya yang pirang kriwil-kriwil. Di bahu tercantol tas slempang Alpina. Sampoerna Mild berpindah-pindah dari selipan jari dan bibirnya.

Dia menunggu-nunggu bola melambung di atas mistar, melebar di samping tiang, tendangan pelan seperti umpan, pemain terpelesat saat menendang bola ke gawang. Ia bersorak dengan kencang, tertawa puas mengolok-olok (tentu saja dalam konteks bercanda) atas kesialan-kesialan, kekonyolan teman-temannya yang tengah bermain di lapangan.

****

Di jantung pertahanan ada, Dia³, bahu-membahu dengan Da Syasura Hendra dan Briss . Jika di Italia ada duo bek legandaris Franco Baresi dan Alexandro Costacurta, maka di Teknik Kimia 95, juga ada Da Hen dan Bris. Sedangkan, dia Ivan Genaro Gatusso-nya.

Posisi dan gaya bermainnya percis Gatusso, taktis tanpa kompromi, keras cenderung kasar. Sepanjang permainan dia selalu bersuara, berteriak, menghardik. Entah untuk membakar semangat teman agar bermain lebih baik, meminimal kesalahan atau sekadar membuat gentar nyali lawan dengan hardikannya. Meskipun bermain agak kasar namun dia menguasai teknik dasar sepak bola. Soal stamina jangan dibandingkan dengan teman yang lain. Dia seorang gelandang bertahan bertenaga kuda, tak kenal lelah, nafasnya stabil, tulang keringnya keras, meski tanpa dilindungi deker, namun kerap membuat pemain lawan meradang saat beradu tulang kering. Gocekannya biasa saja, namun dia unggul dalam tackling dan intersep. Umpan-umpan panjangnya ke sisi lapangan lumayan sering membuat kaget lawan. Semua syarat menjadi gelandang bertahan tersimpul padanya.

Berbeda dengan dia³, Da Hen bermain juga sangat taktis namun tidak kasar. Sebenarnya kasar juga sih, selain cerdik Da Hen punya kemampuan manipulatif (mengelabui wasit) . Ia bisa mencurangi lawan tanpa kelihatan wasit. Dia tahu posisi yang tepat untuk menahan lari lawan dengan menahan jerseynya sehingga terkesan bukan pelanggaran. Dia sangat paham posisi dan waktu yang tepat untuk bermain curang sehingga wasit tidak meniup pluit.

Lain lagi Bris, meskipun bermain di belakang bertandem dengan Da Hen tapi di lapangan dia dipanggil (Hernan) Crespo, padahal Crespo penyerang Argentina yang bermain untuk Chelsea setelah pindah dari Lazio atau Parma. Soal Parma Fahmi ? soal lebih paham. Karena setiap main Playstation Fahmi selalu memilih Parma. Bris dipanggil Crespo karena posturnya yang jangkung dengan rambut agak pirang dan acak-acakan mirip Crespo. Dia bermain tidak setenang dan setaktis mandannya, Da Hen. Ia kerap mengandalkan posturnya yang menjulang dan tubuhnya yang kokoh untuk menghadang lawan. Tapi memang begitu, sepakbola bukan hanya permainan teknis belaka. Tidak selalu soal kecepatan lari, gocekan, tendangan keras-terukur, umpan akurat, kerja sama tim, namun juga permainan mental, permainan psikis. Tackling keras untuk menghentikan lawan, mendorong tubuh dengan kasar, menarik jersey, termasuk menghardik asal semua dapat dikendalikan dengan ‘dosis’ yang tepat bukan hanya untuk mematahkan serangan saat itu, namun ke depannya, sedikit-banyak mental lawan akan down. Pada kondisi tertentu permainan mental atau psikis ini memang dibutuhkan. Inilah satu-satunya teknik sepakbola yang saya kuasai dan ajarkan kepada Alwi berulang-ulang hingga dia bosan. “Ayah, itu-itu saja kemampuan sepakbolanya”.
***

Uncu Maizal jika tidak sedang dinas dan mood bagus turut hadir ke lapangan. Ia dan mengisi posisi gelandang bersama Syaiful Islami –yang punya tendangan keras dan umpan akurat–dan Irkhaswandi. Di anatara tiga gelandang ini, hanya Syaiful yang bisa bermain bola, sedangkan Irkhaswandi terlebih Hendry Mayz hanya bisa menendang bola. Lain hal kalau main sepakbola di Playstation, dia tak terkalahkan. Saking senangnya, jika saya berhasil mengalahknnya saya akan membayar Fanta yang diminumnya. Penjaga gawang di tempati oleh Uncu bergantian dengan Syaiful. Joni Hendri jelas bukan orang yang dapat dihandalkan di bidang olah raga, apalagi sepakbola. Pria yang setia dengan ke-ceking-annya. Sebagai personil Boy Band yang redup sebelum merilis satu single pun jua, potensi terbaiknya saat itu yaitu membuat cewek-cewek SMP klepak-klepak, namun dia selalu hadir di lapangan. Sekali-kali bermain.

Fahmi, meskipun kemampuan sepakbolanya sama seperti saya. Sama-sama pas-pasan cenderung kurang, namun rajin datang ke lapangan. Karena di kontrakannya ada Playstation, yang sepanjang hari, siang-malam selalu memainkan Winning Eleven. Game Sepakbola. Bedanya dengan saya, ikut main sepakbola karena saya kost bersama senior yang hampir semuanya hobi dan punya kemampuan bermain sepakbola. Sebut Denov Ade yang meniru permainan Robert Pires, palang pintu Madrid Ivan Campo yang diperankan oleh Murfan. Posisi Ray Parlour ditempati oleh Wan Pinok, Pak Perman, penyerang yang sangat sukar dikawal seperti Thomas Muller, Alm Mulyazmi, bek sayap kiri yang agresif, Desrizal Ichal yang permainannya seperti Erol F.X. IBA. Gelandang Elegan Pirlo disi oleh Verly Faguna , Bang Jeff, Rio Magek, Bek Kanan yang rajin overlap seperti Gerry Neville , Bahkan mandan sekamar saya, Feri Muhibba yang tidak bisa atau tidak boleh berlari juga terseret ke Lapangan, walau sekadar menonton dan teriak-teriak di pinggir lapangan.

Seingat saya Fahmi sering bermain sebagai Bek Kanan sedangkan saya di bek kiri. Kaki kiri dan kanan saya sama. Sama-sama bisa menendang, mengumpan, tackling. Sama-sama pas-pasan, sama-sama lemah, dan sama-sekadarnya dan secukupnya. Saya kidal sekaligus kinan dalam beberapa hal.

Oh ya, pemuda dari Tanjuang Pinang asal Lintau, Heri Yandri jarang juga absen di lapangan, namun sudah lupa dia main diposisi mana. Penjaga gawang kalau tidak salah.

Angkatan 98 merupakan tim terkuat pada masa itu. Selain punya squad paling banyak juga punya supporter cewek paling ramai dan heboh. Entah siapa yang membisiki Masna Ainul perihal cheerleder angkatan 98 ini, barangkali ia tersinggung tidak mau dilangkahi junior, sekali-kali hadir di lapangan memberi semangat. Kadang bersama Novi , pernah juga dengan Syofia Nenk atau Rere. Namun sayang jika ia bawa minuman kaleng, itu pun sudah dibooking oleh Inyiak Refki Efrianto , sang striker yang golnya, seperti menunggu durian “tampuk basi” jatuh. Istilah yang kami gunakan pada masa kecil dulu, saat menunggu durian jatuh pada malam hari.

Dulu memang sulit menjebol gawang lawan karena penjaga gawang dan bek lawan, terutama angkatan 98 masih muda-muda, larinya kencang, stamina mereka bagus. Bagaimana kalau sekarang kita rematch Hendra Al Fawwaz . Bukankah lawan-lawan kita dulu sudah pada tua, lari dan stamina mereka tidak seperi dulu lagi, tapi jangan ajak Sadri Wendi Alfarouq. Dulu saja susah minta ampun mengajaknya ke lapangan apalagi sekarang. Bukankah begitu Pak Ketua Yoce

***


Beberapa orang yang saya tuliskan di sini telah berangkat duluan, sedangkan kita yang masih hidup sedang menunggu antrian. Kita tidak pernah tahu, dan tidak perlu tahu berapa orang di depan kita, hingga tiba giliran kita. Kita tidak bisa mengelak, pindah ke luar antrian, mundur ke belakang atau meninggalkan antrian. Dapat dipastikan juga tidak ada yang ingin menyalip antrian maju ke depan. Entah kapan antrian kita, tidak ada tahu. Karena tidak ada yang bisa meminjam catatan-Nya.


Semoga kita semua saat sampai antriannya kelak dalam keadaan terindah dan husnul khotimah. Amin.

Al Fathiah untuk mereka yang telah berangkat duluan, yang nomor antriannya telah dipanggil.

Note ;
Dia¹ meninggal sekitar tahun 2009 atau 2010. Saya tidak ingat percis. Fahmi barangkali lebih tahu , karena selain kolektor Album photo cetak, (apalagi digital) Fahmi seorang juru arsip yang lumayan telaten dan bersemangat
Dia² kembali kepada-Nya pada Desember 2020.
Dia³ dipanggil-Nya tahun 2014 atau 2015. Yosep barangkali yang tahu pescis karena tinggal di kota yang sama.

Photo dicomot tanpa izin dari laman facebook Fahmy Sjofjan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close